Kamis, 04 Juni 2015

The Last of Us: Book of Death (Part 6)


“sayang menurutku ini kata-kata yang cocok untuk di kalung itu.” Winda menunjukan layar smartphonenya pada bayu.

“hm... keren juga.”

“iya dong....” winda bersandar di bahu bayu.

“nanti... aku tidak akan pernah melepaskan kalung itu, akan selalu aku pakai.”

“kamu lebay deh yang..”

“tidak apa-apa... aku kan memang lebay...” kini winda memeluk tangan bayu. “kamu tidak suka?” bayu tertegun sejenak.

“aku suka....”

“bohong.... kemarin kamu bilang kamu tidak suka dengan cewe lebay..”

“kapan?”

“sewaktu aku cerita soal Rini, temanku yang kamu bilang lebay...”

“hahaha.... masa? Itu kan Rini... aku memang tidak suka padanya kan...”

“jadi kalau aku lebay, kamu suka?”

“hm... iya... aku suka kamu lebay, aku suka kamu kalau tidur ileran, aku suka kamu yang tidak suka beres-beres.”

“ih... itu kan kejelekan aku semua....” protes winda.

“aku suka kebaikan dan kejelekan kamu.” Bayu mengelus rambut winda, kini Winda memeluk tangan bayu lebih erat.

“itu jujur?”

“menurutmu?”

“kalau boleh jujur, bagiku kamu memang orang paling pengertian di dunia.... terkadang, aku tidak sabar dengan diriku sendiri, aku merasa aku tidak sempurna, dan terkadang aku tidak pantas mendapatkan ini dari kamu.”

“jika aku mencari kesempurnaan, maka seharusnya aku berpacaran dengan malaikat. Lagipula, aku juga tidak sempurna, apa hakku meminta kesempurnaan darimu..”

“aku sayang kamu....”

“aku juga...”

Bayu membuka mata menyadari itu adalah mimpi, tidak, itu adalah kenangannya akan winda. Percakapan itu terjadi sebelum mereka membeli kalung tersebut, kalung yang kini ada di dalam tas Adi. Bayu memperhatikan sekelilingnya, dia kini berada di dalam gudang, dia mencoba bangkit tapi sia-sia, rupanya tangan dan kakinya diikat sangat kuat, dia berguling dan menemukan gading juga dalam keadaan yang sama sepertinya.

“sial.. hey gading! Bangun!” bayu menendang tubuh gading dengan kedua kakinya yang terikat.

“ughh...” gading menggeliat. “hey apa-apaan ini?”

“ada yang mengikat kita disini.”

“kau tak perlu bilang pun aku tahu...” gerutu gading.

“siapa yang melakukan ini?” bayu terus berusaha melepaskan diri.

“kemana yang lain? Disini hanya ada kita berdua.”

“santi tidak mungkin melakukan ini pada kita... apa mungkin adi?”

“untuk apa dia melakukan ini?”

“aku tidak tahu... tapi jika iya aku punya firasat buruk tentang hal ini..”

“tunggu... bagaimana kita bisa ada di sini?”

“aku jatuh pingsan setelah makan malam... sesaat setelah aku menemukan kalung winda di tas adi.”

“tidak... tepatnya setelah minum sirup itu! Ya.. aku tidak sadarkan diri setelah minum itu!” gading berteriak.

“oh tuhan... apakah adi yang melakukan ini?” mereka saling berpandangan. Tiba-tiba terdengar suara teriakan santi dari lantai dua.

“itu santi...”

“kurasa dia akan baik-baik saja....”

“tapi kakinya sedang terkilir...”

“sial.... kita harus menolongnya!”

“apa kau ada ide untuk membuka ikatan ini?”

“kalau tidak salah di balik ban bekas itu ada kotak perkakas dan di dalamnya terdapat gergaji...”

“oke... kita coba.”

***
“bajingan...” santi meludahi wajah adi.

“SSsssst.... diam kau manis!” adi membekap mulutnya dengan lakban hitam. “kau punya bibir yang indah, tapi sayang kau tidak mau menurut padaku, ini yang akan terjadi kalau kau tidak menurut.” Santi meronta-ronta berusaha melawan, tapi sia-sia kedua tangan dan kakinya diikat ke tiap ujung ranjang, tubuhnya masih lemas, entah apa yang dimasukan adi ke dalam minuman itu. Adi membelai wajah santi dan kemudian mengeluarkan sebuah pisau kecil, pisau yang biasa dipakai oleh seorang dokter bedah. Dengan hati-hati, dia merobek kaus yang dipakai santi meninggalkan hanya bra yang menutupi kedua payudaranya.

“ah.... sejak aku melihatmu tadi pagi, aku tahu kau wanita yang spesial, dan aku tidak ingin membuang  buang waktu lagi untuk menikmatimu.” adi mengelus perut santi. “otot perut yang sangat indah...”

“Aarrghh.... Aaarrghh..” santi terus berontak, tapi sia-sia. Kakinya yang masih terkilir terasa sakit.

Adi mengeluarkan sebuah cincin dari tasnya. “ini adalah souvenir dari wanita pertamaku, dia seorang pramugari keturunan padang, kau tahu wanita padang sungguh menarik, mereka memiliki kulit putih yang sangat indah.” Dia mengeluarkan sebuah gelang berwarna perak. “ini dari wanita keduaku, hm... dia adalah seorang instruktur senam, tapi badannya tidak seperti kau, dia memiliki badan yang semok, berisi, bukan berotot. Saat-saat bersamanya sungguh menyenangkan.” Dia mengeluarkan beberapa akesesoris lainnya, termasuk kalung milik winda. “diantara semua wanitaku, kurasa souvenir darimu akan menjadi yang paling unik, aku pikir aku akan mengambil pisau karambit itu.” Adi tersenyum.

“semua wanitaku adalah orang yang menyenangkan, aku yakin kau pasti bertemu mereka nanti setelah aku selesai denganmu.” Adi kini mengelus paha santi, dia menarik celana pendek yang dipakai santi dan merobeknya, kini tubuh santi hanya ditutupi dengan bra dan celana dalam saja.

“oh... kau tidak memiliki selera yang bagus dalam memilih pakaian dalam.” Adi berdiri, matanya menyapu setiap senti tubuh santi. “kau akan terlihat lebih indah jika memakai g-string, dan bra yang lebih seksi. Itu akan memperlihatkan setiap lekuk otot mu yang indah ini.” Adi tersenyum. Dia duduk di samping santi, dan menciumi perut santi, memainkan lidahnya di atas kulit santi. Dari perut dia beranjak ke dada dan sampai di leher. Santi menggeliat mencoba mendorongnya dengan tubuhnya, tapi sia-sia, tangan dan kaki yang terikat tidak dapat membantunya.

“ayolah... kau pasti menyukainya kan? Jangan munafik begitu.”

“argh.... argh....”

“maaf, aku tidak mengerti... tapi pasti artinya tolong lanjutkan...” tangan adi masuk ke balik celana dalam santi, badannya menggeliat lebih keras. “Sssst.... akui kalau kau menyukainya... hm.... ayo katakan..” adi mendekatkan telinganya ke wajah santi.

BUUKKK!!! Adi terhempas menabrak meja dan rak senjata santi. Rupanya bayu dan gading telah berhasil lolos, kini bayu memasang kuda-kuda sambil memegang pemukul basebal yang dipenuhi darah kering.

“bajingan...” adi bangkit.

“dasar binatang! Kenapa kau memiliki kalung Winda?! Apa ini yang kau lakukan pada winda?!!” bentak bayu.

“kau ingin tahu? Ayo sini maju!” bayu menerjangnya, sambil melompati ranjang Santi, mengayunkan pemukul basebalnya. Tapi adi rupanya lebih terlatih daripada bayu, dia mengelak dengan mudah , menangkap pemukul basebal yang diayunkan ke arahnya. Kini bayu yang dilemparnya menabrak dinding.

“seginikah kemampuanmu? Dasar tidak berguna!” adi menginjak injak bayu yang belum sempat berdiri. Darah segar keluar dari mulutnya. “kau mau juga hah?!!” adi menunjuk gading yang berdiri mematung di pintu.

“dasar pengecut! Kalau kau takut, diam di situ!”

“babi... aku bukan pengecut!” gading lari menerjang, adi mengayunkan pemukul basebal ke kepala gading, darah bercucuran, gading terlempar ke lantai dan tidak bergerak lagi. “dasar sampah!”

“bajingan kau...!” bayu mencoba berdiri terhuyng-huyung. Adi segera menendang dadanya, bayu terlempar kembali, punggungnya mendarat di dinding. Kini dia terduduk di lantai, darah masih keluar dari mulutnya, paru-parunya sesak akibat tendangan itu.

“harusnya tadi kalian berdua kubunuh.... sungguh mengganggu!” adi duduk di ranjang, Santi sedari tadi hanya dapat menonton, dia tidak bisa berbuat apa-apa.
“kenapa kau memiliki kalung winda?” kata-kata tersebut masih keluar dari mulut bayu, walau terdengar lebih lemah.

“kau sungguh menyebalkan... sekarang moodku hilang... gara-gara kau! Tapi aku akan berbaik hati padamu sebelum kau mati, biar kuberitahu darimana kudapat benda itu.” Adi menghampiri bayu, dia berjongkok lalu menarik dagunya, kini wajah mereka berhadapan.

“aku mengambil kalung itu dari leher kekasihmu dua hari yang lalu, leher yang sungguh indah... harus kuakui dia memiliki kulit tereksotis yang pernah kulihat, lalu bibirnya... sungguh manis, semanis strawberry...”

“arggh.. bajingan kau...” bayu mencoba memukulnya, tapi pukulannya lemah, dengan mudah adi menangkapnya.

“apa kau ingin tahu bagaimana erangannya ketika aku menggagahinya?”

“bajingan...!!” bayu menendang alat kemaluan adi, dia terhuyung tidak menyangka dengan serangan itu. Bayu bangkit dan menendangnya sekuat mungkin, adi berguling, bayu segera mendudukinya, lalu memukuli wajahnya, tapi adi lebih berpengalaman dalam perkelahian, dengan mudah dia membalikkan keadaan, kini bayulah yang berada di bawah, ditindih oleh Adi, dan melancarkan beberapa pukulan ke wajah bayu, kepalanya pusing, pandangannya kabur. Walau masih sadar, tubuh bayu terasa lemas, dia bahkan tidak bisa lagi mengangkat kedua tanganya.

“sialan... kau harus bersyukur, karena sekarang kau akan menemuinya di akhirat!!” adi mengangkat pemukul basebalnya, hendak menghancurkan batok kepala bayu.

“Inikah akhirnya?” Bayu membatin, “maafkan kekasihmu ini winda, aku tidak hanya tak mampu membalaskan dendammu, tapi juga aku akan mati oleh orang yang membunuhmu.” Selama hidupnya, ini adalah saat pertama bayu merasakan putus asa, tubuhnya terlalu lemas untuk melawan, tidak ada harapan. Sekelebat, ia melihat sebuah bayangan bergerak di belakang Adi. 

CRASSS!!

Darah bercucuran di punggung adi, rupanya gading merangkak diam - diam  untuk mengambil salah satu belati koleksi santi, dan berhasil menancapkan belati tersebut tepat waktu. “aarghhh....” adi segera berbalik dan menghantamkan pemukul basebal ke kepala Gading berkali-kali, gading rubuh... tapi Adi terus menghantam kepalanya. “sampah... beraninya kau melakukan ini padaku!!”

“hiyaa...!!!” dengan segenap kekuatan terakhirnya, bayu menendang punggung adi, dia tersungkur menabrak kaki ranjang. Bayu segera mencabut belati di punggung adi dan segera menancapkannya di kepala adi, sekali... dua kali.... tiga kali.... “bajingan... bajingan.. bajingan.....” bayu berhenti. Dia menunduk dengan tangan masih memegang belati yang penuh dengan darah adi. Tangan dan wajahnya dipenuhi dengan darah. Bayu memandang santi yang sedari tadi hanya mampu menonton, air mata membasahi pipinya.

***
Ini adalah hari kelima sejak bencana itu terjadi, dan ini adalah pagi pertama dimana tidak ada matahari sedikitpun terlihat. Awan hitam menaungi langit Rempoa sejak dini hari, hujan kecil tidak berhenti sejak pukul 3 tadi. Bayu terduduk di satu sisi ranjang Santi, sementara santi duduk di sisi lainnya. Mayat adi dan gading masih tergeletak di lantai, darah mereka membasahi sebagian besar lantai kamar tersebut.

“listrik sudah padam...” santi melingkarkan tangannya di lutut. Bayu bangkit, berjalan menuju balkon, hujan bertambah besar, suara halilintar menggelegar bersahutan, angin bertiup kencang membuat beberapa pohon mulai meliuk-liuk. Bayu teringat percakapannya dengan susi beberapa bulan yang lalu. Saat itu minggu pagi, tidak terlalu cerah, karena semalam baru saja terjadi hujan besar disertai badai. Beberapa pohon tumbang, dedaunan berserakan di taman tempat bayu dan susi duduk saat itu.

“kaka dengar, ada seorang anak kecil yang meninggal tertimpa pohon tumbang semalam?”

“benarkah? Aku tidak tahu, kenapa tidak ada pengumumannya?”

“sudah tadi, kaka pasti belum bangun...”

“mungkin...” bayu tersenyum sambil menggaruk-garuk kepala.

“kaka tahu apa yang kupikirkan ketika aku melihat dedauanan itu?” tanya susi.

“hm.... fotosintesis...” jawab bayu sekenanya.

“hahaha... bukan ka....  aku teringat akan sebuah cerita...”

“cerita apa?”

“begini ceritanya ka.... dahulu kala ada seorang biksu yang sederhana tengah bermeditasi sendirian di sebuah pondok jerami di tengah hutan. Pada suatu larut malam, terjadilah badai yang hebat, mungkin seperti badai tadi malam. Di pagi hari ketika badai telah berlalu, sang biksu keluar dari pondoknya untuk memeriksa kerusakan yang terjadi. banyak dahan besar dan dua pohon berukuran lumayan yang luput mengenai pondoknya. Dia merasa sangat beruntung masih hidup. Apa yang tiba-tiba menarik perhatiannya bukanlah pohon-pohon yang tumbang dan dahan-dahan patah yang berserakan, tetapi dedaunan yang sekarang menyebar menutupi tanah.”

“kenapa?”

“banyak dedaunan yang berguguran adalah daun daun yang berwarna coklat tua yang telah memenuhi umur kehidupannya, seperti itu.” Susi menunjuk. “tapi diantara dedaunan itu, terdapat banyak daun berwarna kuning. Bahkan terdapat pula daun yang berwarna hijau yang masih cerah.”

“ya... tepat seperti keadaan dedaunan di taman ini..” bayu mengangguk. “lalu apa menariknya?”

“saat itu si biksu memahami makna kematian.”

“maksudmu?”

“kematian adalah hal yang lumrah, hal yang alami, dan pasti terjadi, seperti halnya badai. Ia tidak pilih-pilih daun yang akan dijatuhkannya, entah itu yang muda atau yang tua. Kematian pasti mendatangi siapapun. Jadi ketika orang yang kita sayangi mati, ingatlah hal ini ka. Dengan berpikir seperti itu, aku merasa lebih baik dan dapat menerima kematian adiku dua tahun yang lalu.”

Bayu hanya termenung memandangi dedaunan di taman. Seperti sekarang, dia termenung memandangi dedaunan yang mulai berjatuhan diterpa angin.

Minggu, 31 Mei 2015

The Last of Us: Book of Death (Part 5)


“namaku Adi....” pria paruh baya berbadan kekar tersebut memperkenalkan dirinya. Santi memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung kepala, memastikan tidak ada bekas gigitan di tubuhnya. Dia memakai kaos ketat berwarna ungu yang membentuk badan berototnya, dan celana jeans belel berwarna hitam tanpa ada noda darah terlihat. Kulitnya putih bersih, tidak ada luka sedikitpun hanya peluh yang membanjiri badannya.  Bayu menjabat tangannya.

“aku bayu, ini santi, dan itu gading..” bayu menunjuk gading yang sedang sibuk membereskan persediaan di dapur. “kami sangat berterimakasih atas pertolonganmu tadi...”

“aku hanya kebetulan lewat....”

“tapi demi menolong kami, kendaraanmu rusak... kemana tujuanmu? Mungkin kami bisa memberikan sedikit bantuan.”

“uh... aku sedang menuju bintaro, aku mendapat kabar bahwa di sana ada tempat evakuasi, dijaga oleh tentara nasional kita, disana tempat yang aman dari para manusia gila itu...”

“benarkah?”

“ya.. aku mendengarnya lewat radio... sebuah pengumuman resmi dari pemerintah!”

Gading yang mendengarnya dari dapur segera bergabung di ruang utama, dia tampak senang mengetahui ada secercah harapan untuk bisa selamat dari bencana ini. Sementara Santi mengerutkan dahi,  sedang memikirkan sesuatu.

“Kita harus berangkat kesana!” gading bersemangat.

“benar.. dan aku yakin jika kita bekerja sama kita bisa selamat sampai di sana...” Adi menambahkan. Bayu merasa senang sekaligus resah, tentu itu adalah kabar gembira mengetahui bahwa ada lingkungan yang aman di dekat sini, tapi bayu resah jika harus menyelamatkan diri tanpa winda.

“bagaimana menurutmu bayu?” santi menangkap rasa gelisah bayu.

“entahlah... aku mencemaskan winda...”

“apa maksudmu? Lalu apa yang ingin kau lakukan? Menunggu winda muncul?” gading berteriak.

“mungkin... aku harus mencarinya... ” jawab bayu bimbang.

“kau carilah kekasihmu itu, tapi aku tetap pergi ke bintaro! Bagaimana denganmu santi?”

“Bayu... mungkin winda pun menuju ke sana, atau sudah berada di sana.” Santi tidak mengacuhkan gading.

“apa buktinya? Apakah kau punya bukti bahwa dia berhasil menyelamatkan diri? Mungkin saja dia seperti kita, berlindung di suatu tempat! Oleh karena itu, aku akan pergi mencarinya!”

“lalu kemana kau akan mencari!?”

“aku tidak tahu, mungkin aku mulai dari tempat kerjanya, RS Fatmawati.”

“bodoh... kau tidak akan bertahan sendirian di luar sana! Lihat apa yang terjadi tadi!” bayu terdiam, kata-kata santi benar, tidak mungkin dia dapat sampai ke fatmawati sendirian, bahkan bertiga pun belum tentu.

“maaf... kekasihmu bekerja di RS Fatmawati?” Tanya Adi.

“iya... kenapa?”

“aku pun bekerja di sana.. aku seorang dokter.”

“apa? Benarkah? Kau dari sana? Apa kau mengenal Winda? Ini fotonya... ” bayu menyerahkan sebuah foto dari dompetnya kepada Adi.

“maaf aku tidak mengenalnya..” jawab adi sambil tetap memandangi foto tersebut. “tapi satu hal yang pasti, tidak ada manusia yang selamat di sana, aku sempat bertahan di tempat itu sejak bencana ini berawal, menurutmu, apa yang membuatku mencoba pergi ke bintaro jika di sana aman?” Bayu hanya terdiam, dia mengambil kembali foto winda dari tangan adi, dengan langkah gontai, tanpa mengatakan apapun, dia berjalan ke lantai dua menuju kamar. Santi dan gading membiarkannya, mungkin bayu butuh waktu sendiri beberapa saat.

“bagaimana denganmu Santi?” gading kembali bertanya.

“aku harus mempertimbangkannya... saat ini kita istirahat saja dulu, dengan persediaan yang kita punya, setidaknya kita masih bertahan selama tiga hari di sini. Kita tidak perlu buru-buru.” Santi berjalan terpincang-pincang menuju kamarnya di lantai dua.

“apa yang ada dalam kepala mereka?!” gading menggerutu. Baginya pergi ke bintaro secepatnya adalah keputusan yang paling tepat. Tidak ada sedikitpun yang bisa membuatnya merasa aman selama masih di rumah ini. Bayu benar-benar bodoh, untuk apa dia membahayakan nyawanya sendiri demi mencari winda. Jika winda mati, dia toh bisa mencari wanita lain. Yang terpenting adalah menyelamatkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Lalu santi, dia pun bodoh, mungkin karena dia setengah gila makanya dia tidak cemas dengan semua keadaan ini, dia tampak menikmatinya. Dengan santainya dia bilang untuk mempertimbangkannya dulu, apa yang harus dipertimbangkan? Ini adalah solusi satu-satunya untuk dapat selamat.

“kita membutuhkan kedua temanmu untuk ikut, kita tidak bisa mencapai bintaro hanya berdua... dan terlebih lagi, kurasa kita tidak bisa memaksa santi pergi dengan kaki yang masih terluka.” Adi memecah lamunan gading.

“ya kau benar...” gading sadar, setidaknya santi berguna ketika mereka terjepit dalam keadaan bahaya seperti tadi.

***
Sebuah elusan hangat membangunkan Santi dari tidur lelapnya, dia membuka mata dan terkejut mendapati Adi duduk di sampingnya.

“apa yang kau lakukan disini?” santi menatapnya tajam penuh curiga. Ia bangkit dan menjauhkan kakinya dari adi.

“Ssst.. tenanglah, aku hanya memeriksa pergelangan kakimu...” adi kembali menarik kaki santi, dia mengambil sebuah bungkusan kain yang berisi es batu dan menempelkannya pada pergelangan kaki santi. 

“ini... peganglah...” santi memegang bungkusan itu, sebuah elusan di tangan kembali santi rasakan ketika adi melepaskan bungkusan itu. “untung ini hanya cedera ringan... dengan istirahat dua hari saja, kau bisa sembuh...” kini adi berdiri, dia memperhatikan beberapa jenis senjata yang dipajang santi di temboknya. Dua buah machete atau golok yang berkilau indah dipajang berhimpitan di satu sudut dinding, beberapa buah nunchaku, dan belati militer disusun di sekelilingnya. Sementara itu sebuah rak dibawahnya menampung senjata lain, beberapa jenis brass knuckle disusun rapi dalam sebuah kotak berwarna hitam, kemudian berbagai jenis pisau lipat, dan pisau karambit dipajang dalam kotak kaca. “wow... kau orang yang sangat berbahaya sepertinya.”

Santi terus menatap Adi, dia yakin sekali adi mengelus-elus kakinya sebelum dia terbangun tadi, dan elusan di tangannya barusan, santi sangat tidak menyukainya. Selama dia tinggal di kosan ini, tidak pernah ada satu orang pun yang berani masuk kamarnya tanpa ijin. Bahkan tante maya pun tidak. Adi adalah orang pertama yang melakukannya, santi sangat kesal, tapi mungkin adi tidak tahu apapun tentang dirinya, dan aturan di kosan ini, lagipula dalam situasi seperti ini, aturan sudah tidak lagi diperhatikan.

“terimakasih atas esnya...”

“sudah menjadi tugasku sebagai dokter.... kau punya hobi yang sangat.... tidak biasa...” adi menunjuk kumpulan senjata tadi.

 “ya.... aku memang tidak biasa...”

“senjata-senjata itu berbahaya dan dapat melukai seseorang.... pernah mencoba salah satunya selain pada manusia gila di luar sana?” Adi berkelakar.

“ya... aku pernah merobek leher seseorang dengan karambit itu...” Jawab santi.

“hahaha... sepertinya aku harus jauh-jauh darimu..” Adi tersenyum.

“ya... kau harus...” Santi balas tersenyum.

“oh.. aku harus membantu gading menyiapkan makan malam, kau istirahatlah lagi... jangan lupa ketika kau tidur taruh bantal di atas kakimu itu, agar lebih tinggi dari jantungmu...”

“kau dokternya....” mata santi mengekor adi sampai dia keluar kamar. Santi tidak suka dengannya. Santi beranjak dari kasurnya ke meja dan rak dimana senjata-senjatanya disimpan. Dia memeriksa satu persatu benda kesayangannya, dia memang berbeda batin Santi, karena saat dirinya mulai puber, senjata-senjata inilah yang menjadi idamannya. Bukan kaka senior ganteng, bukan penyanyi asia yang wajahnya telah ditambal plastik, juga bukan laki-laki gondrong yang pandai memainkan gitar. Saat para gadis abg seusianya sibuk belajar mempercantik diri dan menggaet pacar seperti halnya piala, santi lebih tertarik menghajar para cowo yang mendekatinya.

“kau selalu menjadi cinta pertamaku..” santi mengambil sebuah brass knuckle berwarna perak yang berkilau dari rak paling bawah. Itu adalah brass knuckle pertamanya saat dia berusia empat belas tahun, dia membelinya dari sebuah toko di alat-alat bela diri. Santi masih ingat betul wajah bingung penjaga toko ketika dia mendengar jawaban santi perihal alasan ia membelinya.

Saat itu dia hanyalah gadis kurus penyendiri, karena suatu hal, dia dijauhi dan tidak disukai oleh banyak teman-temannya. Tak ayal, dia menjadi sasaran bully teman-temannya, baik laki-laki ataupun perempuan. Tapi ada satu pembully yang paling santi benci, yaitu Reno, kaka kelasnya. Karena dia satu-satunya pembully yang berani menyentuh tubuhnya, terutama bagian pribadinya. Santi tidak suka siapapun menyentuh tubuhnya, dan reno akan mendapatkan balasan atas yang dia perbuat.

Santi belajar bela diri secara otodidak, dan dia tidak pernah sekalipun mempraktekannya dengan siapapun. Dia takut, tapi menghajar reno adalah keharusan, dia bertubuh lebih besar darinya, Santi pasti tidak bisa menjatuhkan reno dengan beberapa pukulan, kemungkinan besarnya dia yang babak belur. Kenapa perempuan ditakdirkan begitu lemah? Gerutu santi. Saat itulah Santi membaca tentang Brass Knuckle di internet, dan membelinya. “aku ingin menghajar seorang lelaki.” Jawab santi kepada si penjaga toko. Beberapa hari kemudian, Reno dan dua temannya masuk rumah sakit dengan wajah robek, dan santi dikeluarkan dari sekolah.

Santi tersenyum mengingat kejadian itu, pengalaman pertamanya menghajar orang, ada perasaan nikmat ketika dia melakukannya. Perasaan yang sama yang didapat ketika seseorang bermain game, atau berhubungan seks. Baginya menghajar orang adalah sumber kesenangan. Semenjak saat itulah dia mulai mengoleksi senjata-senjata itu. Semenjak itu pula santi sudah tidak ingat berapa orang yang telah dia hajar. 

Terdengar suara ketukan di pintu.

“santi.. makan malam sudah siap.” Gading berteriak dari balik pintu.

“ya... aku turun.” Santi segera menyimpan kembali brass knuckelnya dan berjalan terpincang-pincang ke ruang makan. Gading tengah sibuk menyendok satu-satunya lauk yang tersedia, Sarden. Kini mereka berkumpul di ruang tengah.

“mungkin kita masih bisa bertahan tiga hari ke depan, tapi beras kita sudah habis, aku tidak yakin aku bisa bertahan tanpa nasi...” gading membuka pembicaraan.

“seriously...??” bayu nampak tidak senang. “di saat seperti ini yang kau khawatirkan adalah nasi?”

“makanan adalah hal yang sangat penting untuk bertahan hidup, setahuku tidak ada orang mati karena ditinggal mati kekasihnya, yang ada orang mati karena kelaparan!”

“babi kau!” bayu segera menarik baju gading yang duduk di seberangnya. Tangannya terangkat bersiap meninju wajah gading.

“kau yang babi!”gading mendorong bayu, melepaskan diri dari cengkramannya. Pukulan bayu tidak mengenai sasaran.

“hentikan!” santi berteriak.

“dasar laki-laki bodoh dan super lebay!” gading mengambil sebuah tas coklat yang berada di dekatnya dan melemparkannya ke arah bayu. Tapi bayu dapat menghindar, dan dengan cepat menendang perut gading sampai dia tersungkur di lantai, bayu segera menindihnya dari atas, bersiap memukulinya.

PRANG!! pintu kaca sebuah lemari di samping televisi pecah dilempar asbak oleh Santi, suara tersebut menghentikan Bayu. “aku bilang berhenti!” santi berteriak lebih keras. Suaranya menggema di ruang tengah yang besar itu. Adi hanya terbengong menyaksikan itu semua dari dapur. “apa yang kalian lakukan?” bentak santi, bayu bangkit dan duduk kembali di sofa, begitu pula gading, sambil memegangi perutnya yang ditendang bayu tadi.

“kita memerlukan kerja sama untuk bisa bertahan hidup! Saat ini kita perlu mendiskusikan prioritas kita, dan kita tidak dapat memutuskannya dengan kepala yang dipenuhi emosi.”

“maaf...” lirih bayu. Gading hanya terdiam.

“kita harus memutuskan langkah kita berikutnya, aku telah memutuskan untuk pergi ke bintaro setelah kakiku sembuh, gading dan adi tentunya ikut denganku, bagaimana denganmu bayu?”

“aku... tidak tahu...”

“lagi-lagi itu....” gerutu gading.

“gading diamlah..!”

“aku lelah dengan sikapmu santi! Sok-sok mengatur, sejak kapan kau diangkat jadi ketua kelompok ini?”

“oh ya... seingatku, karena akulah kalian berdua masih bernafas saat ini, idekulah yang membuat perut kalian kenyang saat ini! Kalau kau memang tidak mau menerima aturanku, kau bebas pergi!” gading terdiam.

“hei... hei... mari kita mendinginkan kepala kita dengan minuman ini...” adi datang membawa baki yang dipenuhi empat gelas sirup buah dingin. “kita harus menikmati kenyamanan es batu sebelum listrik padam.” 

Adi membagikan gelas-gelas tersebut.

“beri aku waktu sampai besok... aku akan memberikan keputusanku besok,” bayu meneguk sirup buah tersebut sedikit. Sementara gading telah menghabiskan miliknya.

“aku harap kau membuat keputusan yang bijak bayu....” santi meneguk sirupnya. “minuman ini sungguh menyegarkan...”

“tentu saja...” adi tersenyum lebar. Bayu beranjak dari sofa berniat menuju kamarnya kembali di lantai dua, dia butuh waktu sendiri untuk memikirkan semuanya. Sebelum menaiki tangga bayu melihat sesuatu yang menarik perhatiannya, sebuah benda yang tercecer dari tas coklat yang dilempar gading tadi. Sebuah kalung yang biasa dipakai anggota militer yang biasanya berisi data pribadi si pemakai. Kalung model seperti itu banyak dijual di beberapa tempat wisata sebagai souvenir dan kita dapat memesan tulisan sendiri. Bayu ingat membeli sepasang kalung tersebut untuknya dan winda beberapa bulan yang lalu, sampai saat ini kalung miliknya tergantung di kamarnya, jarang dia pakai, karena lelaki memang tidak terlihat pantas memakai kalung. Tapi winda senang sekali memakai kalung tersebut.
Till death do us part
B & W
Begitulah kata-kata yang terukir di kalung tersebut, ditambah dengan inisial dari nama bayu dan winda. Di dunia ini, kalung yang bertuliskan seperti itu hanya ada dua, milik bayu dan milik winda. Milik bayu tentunya masih berada di kamarnya, dan winda tidak pernah menanggalkan kalung tersebut. Lalu, kenapa kalung itu sekarang tercecer dari tas coklat, yang dilempar gading tadi? Tas siapa itu? Bukankah itu tas milik Adi? Kepalanya beredenyut, dunia di sekitarnya terasa berputar. Gading segera mengambil kalung tersebut dan berbalik.

“adi... darimana kau dapatkan ini?” kepalanya semakin pusing, matanya sungguh berat, bayu dapat melihat adi mengucapkan beberapa kata dari gerakan bibirnya, tapi dia tidak dapat mendengar apapun, tubuhnya lemas, hal terakhir yang diingatnya adalah senyuman adi sebelum semuanya berubah menjadi gelap.

Kamis, 28 Mei 2015

The Last of Us: Book of Death (Part 4)


Bayu terbangun merasakan hawa dingin di punggunggnya, dia rupanya terbaring di lantai ruang utama. Keramik yang menjadi alas tidurnya yang menyebabkan hawa dingin itu. Matanya berat meminta untuk kembali tidur, dia memutar badannya. Sebuah wajah dengan mata kuning dan mulut berbusa menyambutnya, bayu tersentak bangun. Mayat sandi tepat berada di sampingnya, darah dimana-mana, seingat bayu dia tertidur di atas sofa, sepertinya dia terjatuh tanpa sadar dan mendarat di pinggir mayat tersebut. Pisau belati santi masih menancap di ubun-ubun sandi. Terdapat beberapa lubang menganga di perut dan dadanya, darahnya tidak lagi mengalir, kini sebagian besar keramik putih di ruang utama berwarna merah karena darahnya. Bagus pikir bayu... sekarang seluruh ruangan berbau amis darah. Tenggorokannya terasa sangat kering, dia segera menuju kulkas, hanya tersisa satu botol air putih. Bayu meneguknya sampai setengah, kini dia berpikir, jika makanan dan minuman di rumah ini habis, apa yang harus mereka lakukan? Dia mengecek hapenya, tidak ada sinyal, alat komunikasi sudah lumpuh. Melihat kulkas yang masih menyala ketika dibuka, dan air yang diminumnya terasa dingin, bayu yakin listrik belum padam, tapi sampai kapan? Winda kembali terbayang di kepalanya. 

Karir cemerlang dan keluarga bahagia yang menjadi impian setiap orang, yang menjadi pusat kebahagiaan manusia, yang sebentar lagi dicapai olehnya kini sirna. Bayu tetap yakin ketika semua ini berakhir, dia akan kembali mendapatkan dua hal tersebut, tidak... dia akan berjuang kembali mendapatkannya, oleh karena itu dia tidak boleh berputus asa, dia tidak boleh mati, dan winda pun tidak boleh mati, mimpi kebahagiaan bayu saat ini hanya tertunda, tidak sirna, bayu menegaskan itu dalam hatinya.

Ini adalah hari kedua setelah bencana itu dimulai, bayu, gading, dan santi tetap bertahan di dalam rumah, memblokir semua akses masuk dengan furnitur, mereka menunggu keadaan berubah menjadi lebih baik, dan lebih aman. Matahari terlihat bersinar cerah, pagi seperti ini adalah cuaca yang cocok untuk menikmati sinar matahari sambil berjalan di sekitar komplek yang asri. Bayu sering melakukan itu di hari minggu pagi, dan dia selalu bertemu Susi, anak perempuan pak Raharjo yang tinggal di Blok F. Dia adalah seorang mahasiswi Filsafat di universitas negeri paling terkenal se indonesia yang berada di depok, ketika mereka sampai di taman komplek, biasanya bayu dan susi membincangkan banyak hal. Bayu senang mendengarkan susi membincangkan filsafat, seorang gadis muda yang menarik dengan ide-ide yang luar biasa tentang kehidupan. Suatu waktu mereka pernah membincangkan masalah kejahatan begal yang marak terjadi di daerah tangerang selatan, susi berkata bahwa akar dari semua kejahatan yang ada di muka bumi adalah delusi pikiran.

“delusi pikiran? Apa itu?” bayu duduk di sebuah ayunan, diikuti susi yang juga duduk di ayunan di samping bayu.

“setiap manusia di dunia ini, hidup demi mengisi kekosongan yang mereka rasakan di dalam hatinya, iya kan?” bayu menggeleng tidak mengerti. “apakah ka bayu pernah merasakan ada yang kurang dalam hidup?”

“hm.. ya, dari kecil aku selalu merasa bahwa keuanganku selalu kurang...” jawabnya sambil tersenyum.

“manusia sering merasa kurang jika tidak mendapatkan pengakuan dari orang lain.” Bayu mengangguk setuju. “manusia sering tidak bahagia jika nominal dalam rekening banknya tidak mencapai tujuh digit.” Anggukan bayu makin kuat.

“lalu?”

“manusia kemudian mencari cara untuk mengisi kekosongan itu, dan di situlah delusi pikiran berperan dalam menciptakan kejahatan...” susi berhenti sejenak. “delusi pikirin ini adalah pikiran bahwa manusia adalah makhluk individualistik yang terpisah dari manusia lainnya.”

“maksudnya?”

“para begal motor itu berani menyakiti orang lain, dan merampas harta benda orang lain, karena mereka tidak peduli dengan korbannya, yang terpenting dia dapat memenuhi kekosongan batinnya dalam hal ekonomi. Dia berpikir dirinya dan korban adalah makhluk yang terpisah. Tapi jika dia berpikir bahwa dirinya dan korban adalah saudara, beranikah dia melakukan itu? Apa yang akan dilakukan si begal jika ternyata calon korbannya adalah adiknya? Kekasihnya? Atau ayahnya sendiri?” bayu menggangguk mengerti. “itu adalah akar dari semua kejahatan di dunia ini, pejabat korupsi karena mereka berpikir bahwa dampak korupsi tidak akan mengenai dirinya atau keluarga terdekatnya, manusia memiliki delusi yang berbahaya.”

Susi benar pikir bayu, delusi dan kekosongan batin dapat membuat manusia melakukan apa saja kepada orang lain, bahkan kejahatan yang paling menyeramkan pun dilakukan atas dasar kepentingan itu. Bayu teringat kejadian semalam yang membuatya merinding, gading bahkan sampai muntah menyaksikannya.

Setelah berhasil mengikat Sandi, Santi mulai menusuk-nusuk dada dan perutnya. Darah segar mengalir dari tubuh lelaki itu, tapi dia tidak tampak kesakitan, dia tetap mengerang sambil berusaha melepaskan diri. Bayu tidak habis pikir, bagaimana bisa dia melakukan itu? Melihatnya saja sudah membuat bayu dan gading mual, tapi santi melakukannya seakan dia sedang melukis, setiap tusukan adalah goresan kuas di atas kanvas yang membuatnya makin bergairah. Bayu tahu santi memang pernah gila, tapi segila itukah dia?

“apa yang kau lakukan santi? hentikan!”

“berhenti? Aku sedang mencoba menyelamatkan nyawa kita!”

“apa maksudmu?”

“apa kau tidak lihat? Dia tidak merasakan satu pun tusukanku! Lihat tenaganya ketika menggeliat, tak sedikitpun berkurang. Mereka tidak bisa merasakan sakit!”

“lalu apa hubungannya dengan menyelamatkan nyawa kita?” santi menarik bayu dan mendekatkan wajahnya ke wajah bayu.

“seingatku, kau hampir mati karena makhluk ini, jika aku tidak membunuh mbo iyem tadi, kau sudah mati digigitnya atau mungkin menjadi salah satu dari mereka!” dia melepaskan baju bayu. “jika kita tidak tahu cara membunuh mereka dengan efektif, cepat atau lambat, kita akan mati! Kau tidak ingin mati kan? Iya kan bayu!?”

Mereka terdiam, Sandi masih terus menggeliat dengan darah yang masih mengalir dari tiap lubang yand dibuat Santi. Santi melakukan semua kengerian itu atas dasar keselamatan mereka, apakah itu dapat dikategorikan sebagai delusi pikiran seperti yang dikatakan susi? Apakah para makhluk gila itu sebenarnya tidak berbeda dari manusia biasa? Mungkin mereka hanya sakit dan butuh obat, mereka hanya tidak sadar seperti orang gila pada umumnya, tapi yang pasti mereka tetaplah manusia, pikiran-pikiran itu terus berkecamuk dalam kepala bayu.

Atas dasar kemanusiaan, bayu merasa tidak tega melihat santi menyiksa makhluk itu, walau bayu tidak yakin mereka masih bisa disebut manusia. Di sisi lain, bayu melihat makhluk itu sebagai ancaman dari eksistensinya, dirinya bisa mati jika tidak membunuh mereka saat diserang. Apa yang seharusnya kita lakukan dalam keadaan terancam? Ketika keadaannya adalah membunuh atau dibunuh? Apakah konsep bahwa orang lain yang mencoba membunuh kita adalah saudara dapat diterapkan? Sungguh bodoh, tentunya melawan adalah pilihan yang lebih benar.

“jadi diamlah dan perhatikan, aku tidak bisa selalu melindungi kalian, setidaknya kalian tahu apa yang harus dilakukan ketika berhadapan dengan mereka.” Santi memperhatikan Sandi yang terus menggeliat walau mulai kehabisan darah, dia berpikir bagaimana membuat makhluk ini mati, santi teringat mbo iyem. Dia segera menancapkan belatinya ke ubun-ubun sandi, kemudian menekannya sekuat mungkin agar belati dapat masuk sepenuhnya. Sandi mengerang makin keras dan akhirnya berhenti, matanya tetap melotot, dan mulutnya masih mengeluarkan liur dan busa, tapi dia berhenti menggeliat, dia benar-benar mati. “kepala.... kau serang kepalanya.”

Bayu memuntahkan air yang sudah melewati tenggorokannya, dia mual membayangkan kejadian semalam. Bayu tidak yakin dia bisa melakukan itu, membunuh mereka ketika keadaan memaksa, itu semua terlalu menakutkan.

“bagus.... air terakhir kita kau muntahkan begitu saja, sekarang bagaimana aku minum?” santi mengagetkan bayu. Dia kini berdiri tepat di belakangnya.

“kau bisa memasak air dari sumur...”

“air sumur kotor... aku tidak mau meminumnya.”

“dalam keadaan seperti ini, pilihan apa yang kau punya?”

Santi membuka laci tempat dimana persediaan mie instan biasa ditaruh. Hanya dua mie soto yang tersisa, di kulkas tersisa lima butir telur, dan empat helai roti tawar. Sisanya hanyalah bahan-bahan pelengkap seperti mentega, susu, gula, kopi, dan beberapa butir bawang putih. Santi berpikir sejenak, dia menggumamkan sesuatu.

“kita harus mencari persediaan makanan.”

Kini gading, bayu, dan santi berkumpul di ruang utama, mayat sandi telah dibuang keluar lewat balkon. Bayu lega, walaupun bau amis darahnya masih kuat tercium, setidaknya mayat itu telah tidak ada.

“mungkin para orang gila itu tidak dapat melukai kita di sini, tapi tanpa makanan dan minuman kita akan mati juga. Yang kita lakukan sekarang adalah menunggu... menunggu pemerintah melakukan sesuatu, selama menunggu kita sangat membutuhkan persediaan makanan, dan itu tidak jatuh dari langit.” Santi berpidato.

“lalu apa idemu?”

“kita keluar dan mencari persediaan makanan, kalian pasti tahu, ada indomart di dekat gerbang komplek, kita bisa mengambil persediaan kita disana.”

“aku tidak mau... aku tidak mau keluar...” Gading merengek.

“apa kau mau mati kelaparan di sini?” Tidak ada yang mau mati, gading takut mati, bayu belum ingin mati, santi tentu saja sang pencetus ide itu tidak berniat mati.   

“tapi di luar sana, kemungkinan untuk mati pun besar...” Bayu berkomentar.

“ya... tapi aku lebih memilih mati memperjuangkan hidup daripada hidup menunggu mati.”

***

Membunuh atau dibunuh, adalah pilihan bayu jika menghadapi para manusia rabies itu karena mereka tidak bisa diajak berbicara, satu - satunya jawaban yang kau dapat dari mereka saat kau mencoba mengajaknya bicara adalah erangan dan teriakan. Tapi tindakan tidak semudah kata-kata yang terucap. Membunuh adalah perkara yang besar bagi bayu yang lemah lembut dan sedikit penakut. Dia orang yang penuh dengan kasih, melihat seorang anak kecil mengemis di jalanan, dia akan merasa kasihan, melihat seorang bapak tua di pinggir jalan mendorong gerobak sampah, dia akan merasa kasihan, melihat seorang yang memiliki kekurangan fisik diejek, dia akan merasa kasihan. Perasaannya akan tersentuh jika melihat semua itu, dia selalu membatin ingin melakukan sesuatu, walaupun dia tidak pernah benar-benar melakukan apapun untuk mereka.

Suatu waktu, saat dia berumur sekitar 9 tahun, bayu sedang mengerjakan pekerjaan rumahnya, merasa terganggu dengan suara anak-anak ayam yang bergerombol mengikuti induknya, bayu segera mengambil parang dan melemparkannya ke gerombolan anak ayam tersebut, satu anak ayam terkapar mati, sementara induk dan anak ayam lainnya berhamburan lari dari halaman rumah bayu. Ada perasaan menyesal ketika melihat anak ayam tersebut menggelepar menyambut ajal, bayu menatap bangkai anak ayam itu, dan hatinya sakit. Untuk menghilangkan rasa sakitnya bayu menguburkan si anak ayam dan berdoa untuknya, sambil terus bergumam bahwa dia menyesal. Seperti halnya ketika tanpa sengaja dia menendang kemaluan temannya ketika mereka bertengkar waktu kelas 5 SD. Bayu tidak ingat apa permasalahannya sehingga mereka berkelahi, reflek bayu menendang benda yang ada di selangkangannya itu, alhasil dia pun menangis sejadi-jadinya, bayu dimarahi kepala sekolah, perasaan sakit itu kembali hadir.

Kini rasa sakit itu kembali muncul, walau perasaan itu bercampur aduk dengan rasa takut, hal itu menjadi lebih sakit. Tangan kanan bayu menggengam erat pemukul basebal yang kini berlumuran darah, tubuhnya bergetar hebat, masih terekam dengan jelas beberapa menit lalu wajah manusia rabies yang kepalanya bayu hantam dengan pemukul basebal itu. Aku tidak bisa melakukan ini... batin bayu. Sementara itu santi dan gading sibuk memasukan berbagai benda ke dalam ransel dan koper yang mereka bawa. Gading mengambil mie instan sebanyak mungkin, makanan kaleng, dan segala jenis benda yang dapat dimakan. Santi mengumpulkan air minum dan segala jenis minuman yang ada. Bayu bertugas menjaga pintu masuk.

“Ada empat manusia rabies mendekat!”

“Tahan mereka! sebentar lagi kita selesai!”

Bayu memasang kuda-kuda, tidak ada pilihan lain, “aku belum ingin mati, maafkan aku” batin bayu. Sambil menutup mata, dia mengayunkan sekuat mungkin pemukul basebal itu ke arah manusia rabies terdepan. Beruntung, serangan bayu tepat sasaran dan berhasil menghancurkan rahang manusia rabies itu, dia terlempar beberapa meter dan mendarat di selokan pinggir jalan. Bayu tidak sempat menyerang yang kedua, jadi dia menghindar. Dia menendang perut manusia rabies yang ketiga untuk membuat jarak lalu menghantam batok kepalanya. Walau mereka bodoh, kekuatan dan kecepatan mereka sungguh luar biasa, dua manusia rabies yang tersisa dapat dengan mudah menjatuhkan bayu, pemukul basebal yang menjadi senjatanya terlempar jauh, kini dia ditindih dua makhluk yang lapar akan dagingnya, tenaga bayu telah habis. Kemudian, sebuah tendangan melemparkan satu manusia rabies dari atas tubuh bayu, dan satu lagi terkapar dengan golok menancap di kepalanya. Darah mengucur ke badan bayu.

“ayo bangun!” santi menarik tangannya. “kau digigit?”

“tidak!” jawab bayu tegas. Santi memeriksa badan bayu, dan tidak mendapati satu pun luka gigitan.

“bagus..”

“memangnya apa yang akan kau lakukan jika aku digigit?”

“aku tidak punya pilihan lain...” santi tidak meneruskan kata-katanya, bayu termenung memikirkan kemungkinan kelanjutan kata-kata santi, dan tersentak dengan kesimpulannya sendiri. “kau pun harus melakukan hal yang sama jika itu terjadi padaku.” Santi menebas kepala manusia rabies yang tadi ditendangnya.

Sejauh ini mereka berhasil tidak menarik perhatian banyak manusia rabies, walau gading dan bayu harus terengah-engah mengikuti instruksi santi melompati pagar berbagai rumah. Keduanya mulai berpikir bahwa tubuh fit sangat diperlukan dalam situasi ini. Gading yang seorang desaigner grafis, menghabiskan hampir sembilan jam duduk di depan komputer, tidak pernah sedikitpun dia berolahraga. Bayu pun tak berbeda, sudah beberapa bulan ini dia ikut pelatihan dari pagi sampai sore, pelatihan cukup menguras otak dan membuatnya letih secara mental dan fisik.

“santi, aku tidak kuat lagi...” gading yang membawa dua ransel menjatuhkan dirinya di atas aspal. Keringat bercucuran, nafasnya memburu tak beraturan. Sementara itu di belakang mereka nampak lima manusia rabies mengejar.

“santi...” bayu menunjuk ke arah depan. Rupanya ada empat manusia rabies lain di depan yang juga sadar akan keberadaan mereka. Santi melihat sekeliling, dia melihat pagar rumah yang terbuat dari tembok setinggi dua meter di samping kanan mereka. sebuah sungai selebar satu meter memisahkan jalan komplek dan pagar tersebut. Santi yakin dia dapat melompati sungai dan memanjat pagar tersebut dengan mudah, tapi tidak dengan bayu dan gading, terutama sambil membawa ransel yang sangat berat.

Santi melirik ke kiri, sebuah lapangan basket dikelilingi pagar kawat yang sangat tinggi, tapi ada sebuah celah cukup untuk mereka masuk, namun itu bukan ide bagus karena ada sektiar tujuh manusia rabies di lapangan tersebut, mereka terjebak.

“sepertinya kita harus menghajar mereka..”

“tenagaku sudah habis...”

“aku tidak kuat lagi...”

Santi menghunus golok, ransel dan koper dia letakkan di jalan, kedua barang itu hanya akan mengganggu pergerakannya. Bayu tidak lagi mampu memegang erat pemukul basebal, telapak tangannya terasa sakit, paling banyak dia hanya bisa melakukan dua atau tiga serangan lagi. Gading yang memang tidak memegang senjata apapun memegang erat kedua ranselnya, setidaknya ransel itu dapat dia jadikan tameng untuk pertahanan diri.

Mereka semakin dekat, jantung bayu dan gading berdetak semakin cepat, keringat membanjiri tubuh mereka. bayangan kematian menghantui keduanya dan mengganggu konsentrasi mereka, bayu bahkan tidak mencium bau pesing dari celana gading yang sudah dari tadi terkencing-kencing ketakutan.

“apa yang ada setelah kematian?” santi tiba-tiba bertanya.

“apa?” bayu terkejut.

“apakah surga dan neraka itu benar-benar ada?”

“apa yang kau bicarakan dalam keadaan seperti ini?”

“hanya memastikan... mungkin kita tidak akan selamat.”

“sial...” bayu mendengus. Pertanyaan santi hanya membuat pikirannya makin kacau, dia tidak ingin hidupnya berakhir di sini, oh tuhan... tolong berikan aku kekuatan!

CRASS... sebuah belati yang dilempar santi menancap di wajah salah satu manusia rabies dan membuatnya ambruk. Santi sangat terampil menggunakan senjata, gerakannya dalam mengayunkan golok begitu indah, terlihat seperti seorang wanita yang sedang menari, tapi sangat mematikan, dua manusia rabies lainnya rubuh dengan leher hampir putus. Bayu segera bergabung dan menghantam batok kepala manusia rabies terakhir. Telapak tangannya berdenyut makin keras, tangannya sudah mencapai batas.

Kini tinggal lima manusia rabies yang tersisa, Santi mungkin bisa menghabisi tiga, dan bayu masih bisa menghajar dua. Santi menerjang dua manusia rabies terdepan, ayunan goloknya menebas leher satu manusia rabies, tapi tebasannya kurang dalam dan tidak cukup untuk membunuhnya, manusia rabies tersebut berhasil mendorong santi hingga ia terperosok ke sungai di pinggir jalan. Bayu segera menghantam salah satunya dari belakang, menghancurkan batok kepalanya dan gading menusukan belati yang dilenpar santi tadi ke leher manusia rabies yang satunya. Namun kini mereka terpojok, tiga manusia rabies mengurung bayu, Gading dan santi yang masih berada di sungai.

“Santi ayo bangun!” Santi mencoba bangkit tapi dia terjatuh kembali.

“Kakiku terkilir!” Matilah kita, pekik bayu. Dia tidak bisa menghadapi tiga sekaligus, sementara itu tangannya sudah sangat terasa sakit. dia melihat mata gading, keputusasaan juga terlihat di matanya, wajahnya seakan-akan berkata “kita akan benar-benar mati!”

Dari kejauhan, deru mesin mobil terdengar nyaring mendatangi mereka, sebuah mobil kijang berwarna silver melaju kencang lurus ke arah gading dan bayu sambil membunyikan klakson senyaring-nyaringnya. Bayu segera menarik gading untuk melompat ke sungai, mobil tersebut menabrak ketiga manusia rabies yang mengurung mereka, dan menyeretnya sampai mobil tersebut menabrak tiang listrik. Dentuman terdengar membahana di sekitar komplek, suara klakson mobil tersebut terus berbunyi tanpa henti. Tak selang beberapa saat kemudian seorang laki-laki paruh baya berbadan tegap keluar dari mobil tersebut, sambil membawa sebuah ransel di punggungnya. Dia melambaikan tangannya.

Minggu, 24 Mei 2015

Capitalism 101: Lahirnya Golongan Konsumen



Seperti yang kita bahas dalam tulisan sebelumnya, kapitalisme digerakan oleh tiga golongan, yaitu golongan kapitalis (pemilik modal), golongan buruh, dan golongan konsumen. Sekarang, mari kita bahas lebih lanjut golongan yang paling terakhir muncul, sekaligus memiliki peran yang paling penting bagi keberlangsungan kapitalisme, yaitu golongan konsumen.

Kita pasti pernah masuk ke sebuah mall, Pondok Indah misalnya, berjalan diantara pameran barang-barang jualan yang tertata rapi, indah dan menggoda. Stan makanan dengan gambar-gambar hidangan menggiurkan, lalu etalase kaca toko yang dipenuhi pakaian indah seakan menggoda kita. Apa yang kita rasakan? Kita sangat ingin membelinya. Lalu kita masuk ke sebuah toko, melihat sebuah sepatu cantik, model terbaru, terbuat dari kulit asli. Kita membayangkan gagahnya diri kita memakai sepatu itu, kawan-kawan kita memuji keindahannya, dan sepatu itu memberikan kesan bahwa kita adalah orang yang sangat penting, orang-orang ingin menjadi seperti kita dengan memakai sepatu itu, selayaknya kita ingin menjadi seperti para selebritis yang menjadi model iklan sepatu tersebut. Kita pun membelinya, tak perlu repot, kartu kredit mempermudah transaksi. Dengan sekali gesek, sepatu itu kita bawa pulang, bersama beberapa kantong pakaian, kosmetik, dan gadget terbaru. Sepatu dan pakaian kita taruh di sebuah ruangan khusus, bukan lemari kayu yang biasa orang punya, tapi ruangan khusus, yang nampak mulai penuh, sepatu dan pakaian baru itu hampir tidak memiliki tempat. lalu gadget terbaru kita mulai mainkan, dan meninggalkan gadget lama tergeletak di meja, walau sebenarnya yang lama belumlah rusak, dia masih berfungsi dengan baik, hanya saja yang baru lebih ngetren, dan memilikinya memberikan perasaan bangga luar biasa.

Begitulah contoh kecil perilaku golongan konsumen di era kapitalisme. Manusia dulu pun sudah melakukan kegiatan konsumsi, hanya saja tidak segila dan seaneh sekarang. Pada zaman dahulu, manusia mengkonsumsi barang seadanya, lebih mementingkan kegunaan. Ketika mereka butuh, mereka membelinya (jika tidak bisa didapat sendiri dengan membuat). Kebiasaan ini menjadi masalah ketika teknologi produksi barang menjadi lebih canggih, masalahnya adalah ada lebih banyak barang yang diproduksi daripada yang dibeli konsumen. Hal ini tentunya menyebabkan kerugian bagi para pemilik modal, dan juga buruh mereka. Nah, untuk merubah kebiasaan "membeli seperlunya" maka kemewahan harus dibuat menjadi sebuah kebutuhan.  Di Amerika, hal perubahan ini dilakukan lewat tiga cara:

Pertama, Marketing dan advertising. Marketing adalah temuan baru manusia, dia lahir ketika pedagang mulai sadar bahwa banyak nilai-nilai tertentu dapat dimasukan ke pada komoditas selain daripada kegunaannya yang dapat mendongkrak penjualan. Salah satunya adalah nilai borjuis, dengan display yang menarik, komoditas seakan memberikan kesan borjuisme, masyarakat kalangan atas, sehingga jika kita membelinya, kita akan termasuk ke dalam kalangan tersebut. Lalu muncul departemen store, atau mall. Oh.. mall adalah tempat yang luar biasa, dia adalah tokoh masyarakat yang selalu didengar petuahnya, tidak ada kata tidak untuknya, ketika dia mendikte manusia bagaimana cara berpakaian, mempercantik rumah, dan menghabiskan waktu luang. Mall adalah pusat kehidupan manusia perkotaan zaman sekarang. Hidup seakan tidak lengkap tanpa pernah mengunjunginya. Itulah kenapa mall selalu penuh di hari-hari libur. Manusia zaman sekarang mendefinisikan mengunjungi mall (baca: melakukan kegiatan konsumstif) sebagai bentuk memaknai hidup.

Advertising atau iklan adalah temuan revolusioner lainnya. Tujuan iklan adalah membentuk nafsu konsumen secara agresif dan menciptakan nilai dalam komoditas dimana dengan membelinya konsumen menjadi orang yang lebih baik. Di zaman sekarang setiap sendi hidup kita terasa penuh oleh iklan, cara pandang kita dibentuk oleh iklan, dan begitulah iklan berhasil membentuk manusia menjadi manusia konsumtif.

Kedua, transformasi institusi-institusi yang ada di masyarakat. Berbagai institusi seperti pemerintahan, sampai institusi pendidikan turut berperan serta dalam suburnya budaya konsumerisme. Pemerintah berperan sebagai  pendukung dengan segala kebijakan dan kemudahan yang diberikan pada para pengusaha, sementara universitas membantu meningkatkan ilmu penyubur konsumerisme, marketing dan iklan.

ketiga, transformasi dalam nilai intelektualitas dan spiritual. Perkembangan dalam ilmu pengetahuan khususnya psikologi merupakan bagian dari perubahan ini, menurut Robbins, para pelaku iklan memanfaatkan perubahan psikologis manusia desa menjadi manusia urban dengan tidak menekankan pada produk itu sendiri, atau fungsi dasarnya, melainkan efek psikologis, fisik, sosial, dan kesejahteraan yang pembeli dapat dari barang tersebut.

Oleh karena itu, pakaian, deodoran, dan parfume, misalnya, akan diiklankan sebagai alat penting dalam mendapatkan cinta. alkohol dan rokok, sebagai benda penting dalam membangun persahabatan. Mobil dan asuransi sebagai bukti tanggung jawab seorang laki-laki pada keluarga.  Akhirnya, komoditas menjadi alat pemuasan diri dan ekspresi diri.