Minggu, 12 Juli 2015

Renungan Part 41 (Lubang di Dalam Hati)

www.azquotes.com

Akhir - akhir ini aku senang sekali mendengarkan lagu-lagu letto. Banyak yang bilang bahwa lagu letto sungguh romantis sehingga cocok bagi orang yang sedang dimabuk asmara, tapi bukan itu yang membuatku senang mendengarkan lagu mereka. Setelah membaca buku tentang tasawuf, aku melihat satu dimensi makna berbeda dalam setiap lirik lagu letto. Kurasa ini bukanlah suatu kebetulan, mengingat pencipta lagu-lagu mereka adalah anak dari Emha Ainun Nadjib. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Salah satu lagu yang menjadi favoritku adalah lagu berjudul "Lubang di Hati". Berikut liriknya dengan sedikit perubahan untuk mengungkapkan nuansa religius yang kutangkap:

Ku buka mata dan ku lihat dunia
T'lah kuterima anugerah cinta-Nya

Tak pernah aku menyesali yang ku punya
Tapi ku sadari ada lubang dalam hati

Ku cari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini
Ku menanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati

Reff:
Apakah itu kamu apakah itu dia
Selama ini ku cari tanpa henti
Apakah itu cinta apakah itu cita
Yang mampu melengkapi lubang di dalam hati

Ku mengira hanya dialah obatnya
Tapi ku sadari bukan itu yang kucari
Ku teruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
Dan ku yakin Kau tak ingin aku berhenti 

Lagu tersebut diawali dengan ucapan rasa syukur akan segala anugerah cinta Yang Maha Kuasa yang kita rasakan setiap harinya. Tanpa maksud untuk tak bersyukur, sebenarnya kita merasakan sesuatu yang kurang dalam hidup ini, ada sebuah lubang yang menganga di dalam hati. 

Harus diakui secara jujur, bahwa lubang di dalam hati ini adalah rasa kurang akan sesuatu. Serasa hidup ini belum lengkap dan belum bahagia tanpa adanya sesuatu itu. Tapi apakah sesuatu itu? Oleh karena itu setiap manusia mencari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini. Namun, seringkali kita tidak bertanya kepada pihak yang benar, kita lebih sering bertanya (atau mungkin tidak pernah bertanya, tapi ide itu dijejalkan ke dalam kepala kita oleh masyarakat, pendidikan, atau pergaulan) pada akal. Padahal, yang terbaik adalah bertanya ke dalam hati, seperti yang letto anjurkan. kenapa hati?

Menurut Syekh Ragip al-Jerrahi (seorang tokoh sufi) hati, dalam hal ini berarti hati batiniah, adalah pusat spiritual manusia. Ia adalah sumber cahaya batiniah, inspirasi, kreativitas, dan belas kasih. seseorang yang hatinya tebuka akan lebih bijaksana, penuh kasih sayang, dan lebih pengertian daripada mereka yang hatinya tertutup. Kita seringkali menjumpai orang yang berpendidikan tinggi dan pintar, tapi tindakan mereka tidak bermoral, koruptor contohnya. Mereka adalah contoh hasil pendidikan akal tanpa mempedulikan perkembangan hati. Pendidikan akal (yang menjadi pusat perhatian pendidikan barat) hanya berpusat pada daya kerja akal, seperti matematika dan logika. Mengembangkan hanya akal saja, tidak akan memberikan kebijaksanaan, dan jawaban "apa sesuatu itu?" hanya bisa diberikan oleh kebijaksanaan yang tercerahkan dari hati.

Ketika kita bertanya pada akal, kita seringkali merasakan kebimbangan, apakah jawabannya adalah kamu wahai karir? hm... karir sangat penting, ia adalah salah satu simbol kesuskesan, siapa yang tidak bahagia ketika sukses, pasti itu jawabannya. Benarkah? apakah itu dia yang disebut dengan harta dan jabatan? tidak... banyak orang kaya dan berpangkat tapi tetap merasa ada yang kurang. Mungkinkah itu cinta? apa yang dimaksud dengan cinta? apakah itu pasangan hidup? apakah itu sanak famili? banyak manusia menderita karena mencintai pasangannya, mereka dikhianati, diselingkuhi, merasa tidak dihargai, merasa cinta mereka tidak dibalas secara sempurna sebagaimana yang diinginkan, keluarga pun banyak mensyaratkan cinta mereka, kita dicintai asal menjadi apa yang mereka minta dan mau.... cinta seperti ini membawa lebih banyak lubang. Apakah itu cita? impian?  apa itu impian? cita-cita? apa yang kau rasakan ketika kau telah mencapai cita-cita itu? masih ada yang kurang.

kita sering mengira hal-hal tersebut menjadi obat lubang hati, tapi sebenarnya bukan itu, karena kita mencari di tempat yang salah. Perjalanan ini memang melelahkan bagi yang serius mencari, tapi yakinlah bahwa Allah tak ingin kita berhenti mencari, karena hidup sejatinya adalah proses pencarian. Lalu apa yang sebenarnya dapat mengisi lubang di hati?

lagu tersebut tidak menjawab secara eksplisit, tapi biarlah aku mencoba memberi pendapat, tentu dengan sudut pandang tasawuf (bukan bermaksud sok ahli dalam hal tasawuf, karena pada dasarnya pendapat ini berasal dari pendapat orang lain yang lebih ahli tentunya, penulis hanyalah pencari pemula dalam bidang tasawuf). Cinta adalah jawabannya. Cinta kepada Allah tentunya, Cinta seperti ini menjadi inti dari tasawuf. Cinta kepada Allah tidak sesempit menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Seperti yang dikatakan Cak Nun, cinta kepada Allah terwujud dalam ibadah yang tujuannya adalah Allah, bukan surga atau neraka. Ia terwujud pada kehampaan cinta pada segala hal selain Allah. Cinta seperti ini hanya dapat ditemui di dalam hati, bukan akal, melalui proses peyucian hati yang tidak mudah.

Mendengarkan lagu tersebut bagaikan sebuah alunan pengingat untuk selalu berzikir pada-Nya, mengingat apa yang paling penting dalam hidup ini.

Referensi
Frager, Robert. Psikologi Sufi. 2014. Jakarta: Penerbit Zaman.


      

Jumat, 10 Juli 2015

Renungan Part 40 (Puasa Balas Dendam)

Mampu berpuasa dari terbit fajar sampai terbenam matahari untuk pertama kalinya adalah sebuah pengalaman yang sungguh luar biasa. Saat itu aku masih SD, sekitar kelas 5, untuk pertama kalinya aku mampu berpuasa secara penuh. Sebagai seorang bocah, itu adalah prestasi tersendiri. Namanya juga bocah, yang ku tahu tentang puasa hanyalah menahan lapar dan haus, alhasil acara buka puasa menjadi ajang balas dendam. Siapa yang tidak? setelah seharian menahan lapar dan haus, iklan sirup di tv, makanan ta'jil di pinggir jalan, terasa sungguh menggoda. Selain itu, terkadang aku (mungkin juga yang lainnya) memberikan diri sendiri sebuah reward setelah berhasil berpuasa seharian, dengan makan yang (semua) kuinginkan, atau membeli makanan ta'jil yang banyak, yang pada akhirnya tidak termakan, karena memang terlalu banyak.

Setelah bertahun-tahun sampai saat ini, aku menyadari bahwa bahkan manusia dewasa sekalipun banyak yang bertindak seperti itu. Termasuk di dalamnya diriku. mungkin kita pernah mengalami keadaan dimana banyak tugas menumpuk sehingga kita kurang tidur, ketika tugas itu selesai kita membalas dendam dengan tidur seharian. rasanya seperti itu kita memperlakukan puasa, kita menahan kenikmatan makan dan minum untuk kemudian kita puaskan sepuas-puasnya saat berbuka.

Dalam tradisi sufi, puasa dikenal sebagai salah satu bentuk praktik tasawuf. Puasa adalah jalan para sufi untuk menekan nafs tirani yang ada di dalam diri manusia.  Nafs tirani adalah sumber kecintaan manusia kepada harta kekayaan, kekuasaan, dan kepuasan ego. Makan, minum, dan seks (tiga hal utama yang dilarang dilakukan saat berpuasa) dianggap sebagai kebutuhan dasar manusia, dan pemuasan ketiganya sesegera mungkin didorong oleh Nafs tirani, sehingga seringkali manusia tidak mampu melawan kendalinya.  Puasa dapat membantu kita berlatih menahan dorongan tersebut dengan menolak semuanya seharian. Tapi, jika ketika berbuka kita mengikuti dorongan itu secara membabi buta, bukankah latihan menahan Nafs tirani seharian menjadi tidak berarti? karena pada akhirnya kita tetap bertekuk lutut pada dorongan itu?

Seharusnya kita belajar dari keberhasilan menahan diri di siang hari, sehingga kita bisa menolak dorongan itu setelah berbuka puasa dan (yang lebih penting) sebelas bulan setelahnya. Tapi apa daya, ketika puasa tidak dimaknai secara hakiki, maka kekalahan pada dorongan nafs tirani untuk memenuhi kebutuhan ego tidak terelakan.

Minggu, 14 Juni 2015

Renungan Part 39 (Kenikmatan Masturbasi)

Malam itu di sudut pelataran Aula SC, aku dan tiga temanku sedang asyik berbincang. Tema yang diangkat cukup menarik, yaitu filsafat seks. Temanku Didit, yang merupakan seniorku di FLAT, seorang mahasiswa S2 di Paramadina dan yang mukanya mirip dengan Soleh Solihun, berkata bahwa mayoritas manusia terlalu terpaku pada masturbasi dalam hubungan seksual. Yang dia maksud dengan masturbasi adalah perangsangan yang dilakukan pada organ kelamin demi mencapai orgasme, penetrasi pun termasuk masturbasi dalam pandangannya itu. Pada intinya, manusia terlalu berfokus pada kenikmatan ragawi sebagaimana halnya ketika manusia melakukan masturbasi.

Lalu, adakah kenikmatan lain selain kenikmatan ragawi dalam hubungan seksual? Jika dilihat lagi, entah menurut teori filsafatnya siapa aku lupa, hal yang substansial dari hubungan seks adalah ekspresi cinta. Dua insan yang saling mencintai bergumul untuk mendapatkan kenikmatan bersama. Jadi, yang lebih penting dari kenikmatan ragawi itu adalah kenikmatan cinta itu sendiri, mungkin itu kenapa itu disebut make love atau bercinta karena itulah intinya, cinta.

Apa yang akan terjadi dalam ranah ragawi ketika yang substantif itu menjadi fokus perhatian? Maka sang suami tidak akan egois, ia tak akan lupa memuaskan sang istri. Istri tidak dipandangnya sebagai alat pemuas ketika dirinya bernafsu tanpa memperhatikan mood sang istri. Untuk membangun cinta, maka diperlukan suasana, oleh karena itu foreplay tidak pernah tertinggal untuk membangun suasana bercinta yang indah bersama pasangan. Bagaimana dampaknya pada kehidupan rumah tangga? sepertinya sudah banyak studi yang menyebutkan bahwa seks yang berkualitas meningkatkan kualitas rumah tangga pula.

Memandang hal yang substantif dari suatu hal, menurut Caknun, itu sangat penting. Contoh di atas hanyalah satu aplikasi dari bagaimana kita melihat mana yang materi (ragawi) dan mana yang hakiki (substansif). Namun sayangnya, memang mayoritas manusia terlalu terpaku pada yang materi. Tak perlu jauh mencari, coba lihat kita sendiri, bagaimana kita memandang puasa Ramadhan? Menahan lapar dan haus dari terbit fajar sampai terbenam matahari? Itu yang materi, lalu apa makna hakikinya? sepertinya ada di ayat tentang kewajiban berpuasa, yaitu agar kita bertakwa. Apa pengertian takwa? memlihara diri dari yang dilarang-Nya, melaksanakan perintah-Nya, yah.. pada intinya menjadi orang yang lebih baik. Bagaimana realitanya? Apakah orang bertakwa berlomba - lomba memakai baju baru di Hari Raya? Melakukan kegiatan konsumtif berlebihan untuk membeli makanan buka puasa? Menahan lapar dan haus, tapi tidak menahan lidah dari ghibah dan fitnah, dari menyakiti orang lain, dari berbohong? Tidak menahan diri dari mendzalimi orang lain demi kepentingan pribadi?

Seringkali kita lebih risau dengan baju lebaran daripada puasa kita yang tidak sebulan penuh, lebih risau dengan nanti buka dengan apa daripada introspeksi diri apakah puasa kita hari ini sudah bermakna, dan banyak hal lainnya. Kita terlalu sibuk dengan yang nampak daripada yang hakiki. Menurut Caknun, sampai level materi saja tidaklah cukup, kita harus meningkatkan diri sampai ke level hakiki. Walau memang ada yang berpendapat dalam hal tadarrus al-Quran misalnya, bahwa membacanya saja tanpa mencoba memahami maknanya itu sudah dapat pahala, jadi tidak apa-apa, yang salah itu tidak membaca sama sekali. Tapi membaca saja itu cuma materi, yang hakikinya adalah memahami maknanya. Karena kita sudah puas pada yang materi, kita kehilangan makna sebenarnya dari kegiatan itu.

Melihat mana yang materi dan mana yang hakiki dari suatu kegiatan itu sangat penting, karena itulah inti dari kegiatan tersebut. Dengan begitu, kita tidak terjebak dalam kenikmatan masturbasi (materi), kita tidak dangkal memahami sesuatu, dan kita bisa lebih tercerahkan akan makna dari apa yang kita lakukan.





Sabtu, 13 Juni 2015

Renungan Part 38 (Keindahanmu Tak Berarti Apa - Apa Tanpa Keburukanku)




Malam itu dalam pengajian bulanan Kenduri Cinta di Taman Ismail Marzuki, seorang jemaah bertanya pada Cak Nun, "Perdamaian seperti apakah yang kita butuhkan? bukankah yang buruk itu akan selalu ada seperti dalam konsep yin dan yang?" ah.... sebuah pertanyaan yang menarik.

Saat kecil, aku sangat suka film Power Ranger, tak pernah rasanya aku melewatkan satupun episode yang tayang tiap minggu pagi itu. Terkadang aku sering membayangkan diriku sebagai pahlawan layaknya Power Ranger, mengalahkan kejahatan di dunia ini. Mungkin, pikiran itu terbawa sampai dewasa, aku cenderung idealis, tidak suka dengan yang salah, dan buruk, dan selalu memimpikan dunia yang lebih baik tanpa keburukan. Dunia yang penuh keadilan dan perdamaian. Tidak kah kau memimpikannya? Misalnya sebuah masyarakat yang penuh keimanan, setiap individu menjalankan syariat islam yang begitu indah, sehingga terciptalah sebuah masyarakat madani, atau masyarakat islami, atau apalah istilahnya.

Itu pula yang menjadi judul makalahku di semester dua pada mata kuliah Metodologi Studi Islam. Masyarakat ideal dalam pandangan islam, yaitu masyarakat yang semuanya menjalankan syariat islam dengan baik. Tak ada cela di dalamnya karena semua dibimbing oleh ajaran islam yang indah. Profesor Suwito, sang pengampu mata kuliah, dengan tegas mengomentari makalahku sebagai "ngawang-ngawang". Ketika berbicara ideal, itu semua hanya terjadi di alam ide, di dalam kepalamu, di dalam mimpimu! Sakit... kenapa aku tidak boleh bermimpi akan hal itu? karena realita memang tidak pernah seideal yang diimpikan. 

Mungkin kau sama seperti diriku, menganggap bahwa untuk negeri ini berkeadilan, maju, dan sejahtera, maka setiap keburukan manusia di dalamnya harus dihapuskan. Segala jenis maksiat, dan hal - hal yang kita pandang negatif dalam sistem moral kita harus dienyahkan! Tapi lagi - lagi kenyataan mengecewakanku, semua itu tidak pernah sepenuhnya hilang dari muka bumi, lantas kapankah mimpi itu akan terjadi? Kenapa tuhan tidak membuat itu terjadi saja? aku pun menjadi pesimis, kalau begitu, untuk apa kita memperjuangkannya? pantas para pejuang - pejuang itu hidupnya menderita, karena semakin hari mereka semakin sadar, kejahatan yang mereka perangi tidak pernah mati, semua usaha terasa sia-sia dan omong kosong belaka. Satu koruptor mati, koruptor lainnya terlahir, begitulah siklus itu terjadi berulang - ulang.

Mungkin kau pernah mendengarnya dari guru mengaji, bahwa jika Allah ingin, semua manusia di bumi ini dibuatnya menjadi islam, menjadi orang beriman, menjadi orang baik, hore.... tidak akan ada koruptor. Tapi Allah tidak melakukannya. Kenapa? mungkin.... ini hanya pendapatku... kebaikan itu tidak berarti tanpa adanya kejahatan. Itulah kenapa ada malaikat dan iblis, ada surga dan neraka, ada baik dan buruk, ada cantik dan jelek, ada kaya dan miskin, ada yin dan yang. Kau pasti pernah menonton film Megamind kan? seorang penjahat super yang kehilangan arti hidup ketika pahlawan super yang menjadi rival abadinya tidak ada. 


Maka sangatlah tidak pantas yang kaya menghina yang miskin, yang pandai menghina yang bodoh, dan yang saleh menghina yang suka maksiat. Kita disebut kaya karena ada pembandingnya yaitu miskin, kita dapat rangking teratas karena pandai, dan harus ada yang bodoh untuk mengisi rangking terbawah. Kita dihormati kesalehannya karena ada orang yang suka maksiat yang dibenci. Kedua kutub itu saling membutuhkan. Oleh karenanya, kita harus berterimakasih kepada iblis, atas jasanya orang-orang yang beriman dapat sertifikasi akan keimanannya, apalah arti iman jika tidak pernah dites kan? 

Pada akhirnya, aku berkesimpulan bahwa sebenarnya, dunia ini sudah indah apa adanya, tanpa kita usahakan untuk merubahnya, tapi memang untuk merubah pola pikir untuk menjadi seperti itu. tidaklah semudah membalik telapak tangan. Kita terlalu lama didoktrin untuk tidak menerima kekurangan, atau kejelekan. 


   




Minggu, 07 Juni 2015

The Last of Us (Part 7): Book of Madness


Santi memutar kaki kanannya, dan setelah memeriksa pergelangan kaki yang tidak lagi terasa sakit, dia yakin bahwa kini dia telah sembuh, dan bisa bergerak bebas kembali. Seperti kemarin, hari ini awan hitam masih memayungi langit rempoa, hujan seakan tidak ingin berhenti sejak malam. Jam menunjukan pukul sembilan pagi, dan perut santi berbunyi minta diisi, dengan malas dia bangkit dari tempat tidur, darah bekas mayat Adi dan Gading telah kering di lantai kamarnya. Sejak kemarin, setelah membuang kedua mayat itu, bayu tidak keluar dari kamarnya, tidak bahkan untuk makan, hal itu memaksa santi menyeret kakinya yang sakit untuk berjalan dan memasak sendiri di dapur, lalu membawakan makanan untuk bayu. Percuma, dia tidak menyahut ketika dipanggil, dan kamarnya terkunci dari dalam. Santi meletakan piring berisi mie instan itu di depan pintunya, mungkin suatu saat dia lapar dan akan keluar juga, tapi ternyata tidak. Piring itu kini masih tergeletak di depan pintu kamarnya, dengan mie yang telah membesar.

“jangan – jangan dia mati bunuh diri di dalam kamarnya...” gumam santi. Ia tak ambil pusing, perut keroncongannya lebih penting saat ini. Setelah menyantap sekaleng ikan kalengan dan mie instan, ia duduk di balkon sambil menikmati sebotol jus jeruk. “ah... sial, minuman ini pasti lebih nikmat kalau dingin.” Santi melemparkan botol jus jeruk yang telah habis diteguknya ke tempat sampah di pojok balkon. “setelah ini apa yang harus kulakukan?” matanya menerawang ke langit, memperhatikan awan hitam yang enggan pergi.

Kenapa kau gundah gulana?

Santi menoleh, dan mendapati sesosok makhluk bertubuh besar berdiri di sampingnya. Karena hanya memakai sebuah celana pendek, semua otot di tubuhnya yang menonjol seperti binaragawan terekspos. Rambutnya gondrong sebahu tidak beraturan, hampir menutupi kedua telinganya yang runcing. Rahangnya kotak ditumbuhi bulu – bulu halus, dan dua buah gigi taring menyembul dari senyumnya. Kedua mata makhluk tersebut merah menyala menatap santi lekat.

“Kliwon!” santi terpekik.

Aku tidak suka melihatmu gundah seperti itu

“huh... darimana saja kau?! Sudah seminggu kau tidak muncul dan menemaniku. Tak tahukah kau bahwa dunia sekarang sedang kacau didera sebuah bencana misterius. Kemarin aku hampir saja mati.” Santi mendengus.

Aku ada urusan di langit, tenanglah.... dunia ini memang sudah kacau sejak dihuni oleh para manusia jahanam. Karena sejak dulu manusia sudah saling memangsa satu sama lain, tapi dalam bentuk yang berbeda. 

Oh... santi mana mungkin aku tidak tahu apa yang terjadi padamu, bukankah sudah kubilang aku akan selalu ada untukmu? Janganlah kau meragukanku, pertolonganku kuberikan lewat bocah lelaki itu.

Santi tersenyum mendengarnya, pertama kali dia bertemu kliwon adalah saat dia dikurung di gudang oleh ayah tirinya. Hanya karena kesalahan kecil, sang ayah yang memiliki latar belakang militer itu sangat mudah marah pada dirinya. Hukuman fisik sudah menjadi makanan sehari – hari, tapi saat itu, sang ayah memikirkan hal lain, santi telah kebal dengan pukulan dan tendangan, anak nakal itu perlu yang lain. Maka Sang ayah memasukan santi ke dalam gudang gelap di bawah tanah, teriakan santi tidak digubris. Saat itulah santi bertemu kliwon, suara besarnya menjadi penenang dalam kegelapan gudang, dan ketika santi dapat melihat wajahnya yang menyeramkan di luar gudang, santi tetap merasa tenang berada di sampingnya. Sejak itu, dia selalu ada kapanpun santi dihukum dan dalam kesulitan, kliwon bahkan dengan senang hati melatih santi berkelahi untuk membalas orang – orang yang jahat kepadanya. Kliwon adalah satu – satunya teman dan pelindung santi.

Ketika santi menghajar kaka kelasnya, kliwon ada di sana, dan ketika untuk pertama kalinya santi melawan sang ayah, kliwon pun ada disana. Tatapan mata merah itu seakan memberikan kekuatan bagi santi untuk melawan semua manusia yang telah menyakitinya. Manusia adalah makhluk yang lemah hatinya, mudah terpengaruh oleh nafsu untuk menguasai dan nafsu untuk dihormati. Mereka pikir karena kau seorang perempuan yang lemah, mereka bisa melakukan seenaknya kepadamu. Buktikanlah temanku! Bahwa selama ini merekalah yang lemah, hancurkan mereka! Maka dengan tangan terkepal santi menghajar siapapun yang menghina dan menginjak – injak manusia lainnya.

Semenjak itu santi ringan tangan kepada siapapun yang menurutnya melakukan hal yang tidak pantas. Seperti si ajo, tukang kebun tante Mira yang dia hajar beberapa tahun lalu. Secara tidak sengaja santi melihat si Ajo sedang mengintip tante mira yang sedang mandi. Kamar mandi tante mira berada di samping kamarnya, dan terdapat sebuah lubang ventilasi di dalam kamar mandi yang menghadap ke sebuah gang kecil antara rumah tante mira dan pagar yang menempel dengan rumah tetangga. Disitulah tempat peralatan si Ajo disimpan. Rupanya dia sering melakukan itu, bahkan terakhir kali santi melihatnya mengintip sambil memuaskan dirinya sendiri. Sungguh menjijikan, saat itu pula santi menghajarnya habis – habisan.

“apa yang harus kulakukan sekarang kliwon?”

Itukah alasan gundah gulanamu? Bukankah keadaan ini cocok dengan hal yang paling kau sukai? Sebelum ini terjadi, satu-satunya cara kau merasa hidup adalah dengan menghajar orang di klub kumpulan orang dungu itu.

Semenjak santi menghajar kaka kelasnya saat SMP, santi merasa bahwa dengan berkelahi hidupnya terasa lebih memiliki arti. Sudah beberapa kali santi mencoba bunuh diri akibat derita yang diberikan oleh siksaan sang ayah, tapi santi tidak pernah berani. Rasa dingin pisau yang menempel di urat nadi, saat santi hendak mengirisnya, membuat nyali ciut. atau  panasnya tali yang melingkar di leher selalu membuat santi cemas, pada akhirnya dia selalu mengurungkan semua niat untuk bunuh diri, melakukannya sendiri terlalu menakutkan. Lalu kliwon hadir dan mengajarinya berkelahi, memberikan dirinya sebuah alat perlawanan. Sekaligus membuat hidupnya terasa lebih berarti, karena di setiap perkelahian, hidupnya yang penuh derita menjadi lebih menarik.

“kau benar...”

Lalu kau bisa melakukan hal yang selalu kau impikan, hal yang baru kau lakukan sekali, tidak kah kau rindu?

Santi menatap kliwon, ingatannya terbang ke beberapa tahun yang lalu, santi yang baru dikeluarkan dari SMA tidak dapat pulang karena sang ayah telah mengusirnya dari rumah. Ia hidup di jalanan, selama beberapa hari mimpinya dilalui dari satu emper toko ke emper lainnya di sebuah pasar, untuk makan dia harus mencuci piring di warung, terkadang dia pun harus mengemis. Tapi dia tidak sedih, kliwon selalu di sana menemani. Di saat seperti itu, ia bertemu maman sang preman pasar. Ia tergoda dengan kecantikan santi, setelah beberapa kali rayuan murahannya ditolak, maman kehabisan kesabaran dan berniat mengambil paksa apa yang diinginkannya.

Malam itu maman menghampiri santi yang tertidur di sebuah gang gelap dekat pasar, dengan paksa maman menarik tubuh santi dan menyeretnya ke tempat yang lebih sepi, sebuah tanah terbengkalai di belakang pasar. Tidak ada yang berani mendekati tempat itu di malam hari, menurut kabar, itu adalah tempat sebuah kerajaan jin. Dulu developer pasar pernah hendak membabat tanaman yang ada di sana dan membangun kios – kios baru, tapi para pekerja tidak ada yang berani meneruskan, karena di hari pertama saja, dua orang meninggal dalam kecelakaan kerja, dan beberapa lainnya kesurupan, mereka berteriak – teriak menuntut semua orang pergi dari tempat itu. Ke sanalah maman membawanya, ia tidak pernah takut dengan jin, justru jin adalah sahabat baiknya. Tapi itu adalah sebuah kesalahan besar, dengan bantuan kliwon santi menghabisi maman, mencekik leher besarnya dengan seutas tali rafia yang ia temukan di sana. Tubuh besar maman terkapar tak bernyawa.

Santi puas, itu adalah pembunuhan pertama baginya, dan hatinya merasa senang. Tapi kemudian ia dirisaukan dengan mayat maman, akan ada orang yang menemukannya, dan dia bisa saja jadi tersangka karena  ada lebih dari tiga orang melihat dirinya diseret maman. Ini bisa merepotkan. Lalu kliwon memberikan sebuah golok yang sangat tajam. Dengan bersemangat, santi mencincang tubuh maman, dipotongnya sedikit demi sedikit bahkan sampai tulang belulangnya. Santi melakukan itu ditemani kliwon sambil terus bergumam “bajingan... kau pantas mendapatkannya, tanpa dirimu, dunia akan menjadi lebih baik!”. santi memasukan potongan-potongan itu ke banyak kantong plastik, dan membuang mereka di berbagai tempat, sementara kepalanya ia masukan ke sebuah septic tank. 

Santi mengendus tangannya, merasakan bau amis darah yang melumuri tangan itu beberapa tahun yang lalu, ia tidak pernah menyesali itu, justru ia bangga telah menghilangkan satu sampah pengganggu dari muka bumi. tapi semenjak itu, ia tidak pernah lagi melakukannya, terlalu merepotkan untuk menghilangkan bukti agar tetap bisa lepas dari polisi. Tapi kini, tidak ada polisi, kliwon benar, ini lebih baik. Santi bisa leluasa membunuh para sampah yang sering ia temui atau yang akan ia temui.

“kurasa sudah saatnya aku mewujudkan mimpiku.” Santi berjalan mendekati pagar balkon. Angin mempermainkan rambutnya yang tergerai sebahu. Percikan air hujan mulai membasahi sebagian badannya. “dengan bantuanmu kliwon, sejak saat ini, kita akan membersihkan tiap sampah yang akan kita temui!”  kliwon menyunggingkan senyum sambil mengangguk setuju. Aku akan selalu ada untukmu temanku.

“santi.... dengan siapa kau bercakap – cakap?” Bayu mematung di pintu. Santi dan kliwon menoleh, mata merahnya kembali menatap santi kepalanya bergoyang ke kiri memberikan tanda pada santi.

“bukan... dia bukan sampah.”