Senin, 21 Desember 2015

Renungan Part 54 (Sekolah itu .....)

www.quotehd.com

Aku menghabiskan 6 tahun untuk sekolah dasar, 3 tahun sekolah menengah pertama, dan 3 tahun sekolah menengah atas. tak lupa satu tahun di Taman Kanak-kanak. Bisa dibilang aku cukup sukses mengikuti program wajib belajarnya pemerintah. Apa yang kualami dan kupelajari selama hidupku di sekolah? banyak hal, positif,  negatif, lucu, dan miris.

Oke, sebaiknya kita pahami dulu apa itu sekolah. Dalam bahasa aslinya, yaitu latin, asal kata sekolah adalah schola yang secara harfiah berarti waktu luang atau waktu senggang, hm..... kenapa kata ini yang dipakai? kenapa sekolah itu waktu senggang? Karena pada zaman dahulu kala, orang-orang Yunani menggunakan waktu luang mereka untuk mendatangi tempat atau seorang pandai untuk mempelajari hal-hal yang dirasa perlu untuk diketahui. Bayangkan anda adalah seorang anak petani, dan sudah dua kali ayah anda gagal panen. apa yang menyebabkan panen gagal? apakah di metode penanaman? atau perawatan? karena tak bisa menjawabnya sendiri, anda datang ke seorang ahli tanaman yang tinggal di batas desa, maka setiap sore setelah mengurus kebun, anda mendatanginya dan mempelajari banyak hal tentang tanaman, lalu tercerahkanlah pikiran anda. Ilmu yang diterima dari sang pandai tanaman, benar-benar bermanfaat menyelamatkan panen berikutnya. Anda pun menghormati si pandai, karena telah menolong anda. Kira-kira begitulah.

Setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita simpulkan, orang zaman itu mendatangi si pandai karena butuh ilmunya, dia mengalami masalah di kehidupan nyata dan butuh bantuan si pandai, ilmu yang didapat sangat berguna untuk hidupnya, dan dengan demikian si pandai sangat dihormati oleh dirinya. Setelah zaman berganti, kini sekolah bukan lagi tempat mengisi waktu luang.

Entah kenapa pelajaran sekolah tidak membantuku memecahkan masalah sehari-hari.
Suatu ketika, ibu memintaku membersihkan ikan untuk dimasak, waktu itu aku masih kelas lima SD, dan aku hanya menatap ikan itu menggelepar di tatakan, tak tahu harus bagaimana. apakah memegangnya harus begini? bagian mana yang harus kupotong? kira-kira bagaimana ya ibuku biasa melakukannya? hey... aku tidak pernah melihat bagaimana ibuku membersihkan ikan. kenapa bisa? setelah pulang sekolah biasanya aku mengerjakan PR sambil menonton TV, aku ini kan anak pintar, selalu dapat ranking 1, aku harus mengerjakan PR, terutama matematika. yah.... mungkin ikan ini bisa kupotong dengan pertambahan? perkalian? pengurangan? atau dengan mencari penyebut dan pembilangnya terlebih dahulu? Oke ikan segitiga sama sisi, bagaimana cara mencari luasmu? aku tahu cara mencari luas bangun datar, tapi apakah itu bisa membantuku menyiapkan ikan ini untuk dimasak? Sial.... semua itu tidak berguna. Ikan itu terus menggelepar dan aku disebut bodoh karena tidak bisa membersihkannya. Hey... aku kan ranking 1.

"kapan terjadi perang Diponegoro?" tanya guruku. aku dengan mudah menjawabnya, juga pertanyaan sejarah lainnya yang berkenaan dengan tanggal, tahun, tempat, atau nama. Semua bisa kujawab, walau sekarang tak satupun masih kuingat. Ketika kupikir sekarang, apa gunanya menghafal itu semua? agar ujianmu nilainya bagus. Hahaha.... sungguh tidak penting. Aku tidak tahu kapan hafalan informasi itu berguna, mari kita mengira-ngira, hm.... bukan... itu ujian, bodoh.... itu juga tes..... oke aku menyerah. Tidak Ada. tapi agar bermanfaat, aku harus mengamalkan ilmu hafalan itu kan. Ya.... aku akan menyelipkan informasi itu di sela-sela percakapan, dengan begitu orang akan jadi lebih tahu, dan ilmuku bermanfaat. Hm..... sepertinya aku akan menjadi orang yang menyebalkan.

Sekolah telah merenggut jati diriku
Aku adalah anak kampung, dan yang namanya kampung, dipenuhi sawah dan kebun. Tapi jangan tanya aku apa obat alami untuk luka selain ..... uh.... aku lupa namanya, bentuk daunnya pun sudah lupa. Jangan tanya pula apa makanan terbaik untuk kelinci, atau ayam, atau domba. Walaupun pernah punya dulu sekali. Jangan tanya juga cara menerbangkan layang-layang, karena di saat anak-anak lain bermain layang-layang di sawah, aku hanya menonton dari balik jendela sambil mengerjakan PR. Aku terlahir di kampung tapi tak punya skill anak kampung. Membersihkan ikan saja aku tak mampu. Tak aneh sekarang tidak ada yang mau jadi petani, walau bapaknya petani. Karena sekolah mengajarkan hidup itu harus maju dan sukses. Menjadi petani itu tidak maju dan sukses, kau mau tahu apa yang maju dan sukses? jadi pegawai kantoran, berdasi, bersepatu pantopel, bermobil, dan duduk di ruang kerja ber-AC. Dalam sosiologi SMA, para siswa dicekoki mobilitas sosial naik dan turun, naik jika ayahnya petani lalu anaknya jadi direktur, turun apabila sebaliknya. Tak pernah ada yang bertanya "kenpa direktur lebih baik dari petani? kenapa kekayaan jadi ukuran? kenapa dasi jadi ukuran? kenapa.. kenapa...?" tidak ada. Begitulah, para anak muda jadi tak sudi mengurus lahan pertanian warisan kerluarga, setelah sekolah kaki mereka jadi terlalu mulia untuk mencari nafkah di tanah. Lahan-lahan tak tertanami itu akhirnya ditumbuhi rumput liar dan menjadi sarang ular. Oh aku ada ide bagus untuk membuatnya produktif, jual saja ke developer, biar dijadikan perumahan, atau Mall.... ya mall.... pusat perbelanjaan, sekarang semua orang senang belanja. Begitulah nasib sawah di desaku, jika bukan menjadi perumahan, ya jadi pusat perbelanjaan. Para pemudanya tidak ada yang mau jadi petani, karena tidak punya kemampuan bertani yang tidak diajarkan di sekolah, juga karena tak mau kalah gengsi. Lalu kita marah ketika kita harus mengimpor kedelai? bawang? beras? Hello..... sekarang gak ada rakyat indonesia yang mau jadi petani. Negara agraris itu hanya masa lalu. Padahal apa salahnya menjadi Petani?

Entah kenapa sekolah itu mirip dengan penjara
Apa persamaan sekolah dan penjara? Pertama adalah seragam yang harus dikenakan setiap waktu. Jika tidak, maka hukuman menanti. Kedua, sangat gila akan kesunyian dan ketertiban. Aku tidak pernah mengerti kenapa anak yang baik adalah anak yang pendiam? sekolah yang baik adalah sekolah yang siswanya duduk tenang dan diam di dalam kelas, walau tidak ada guru dan tugasnya telah selesai? kenapa duduk-duduk di taman sekolah saat KBM, walau guru tak ada dan tugas telah selesai, itu dilarang? dan guru tahu bagaimana susahnya para siswa untuk diam tenang di dalam kelas ketika gurunya tak ada. Kau tahu? kenapa tidak sekalian kunci saja kelasnya dari luar. Aman kan? Sekolah dan penjara mengatur jadwal istirahat, makan, bahkan ketika ujian, kebutuhan ke kamar kecil saja diatur-atur. Memangnya aku bisa mengatur perutku untuk sakit di jam-jam tertentu? Sontoloyo! Lalu keduanya sama-sama menuntut manusia yang patuh dan mudah diatur yang tidak mempertanyakan keputusan-keputusan pihak atas. Anak SD mana yang mampu mengkritisi keputusan guru dan kepala sekolah? bukankah seharusnya guru mulai mengajarkannya sejak kecil? bagaimana dengan Tingkat Universitas? razia celana jeans di fakultas keguruan, contohnya. kenapa kuliah tidak boleh pake celana jeans? karena kau nanti akan menjadi guru, celana jeans tidak mencerminkan sikap guru. Oh ya? kata siapa nanti kalau lulus akan menjadi guru? aku akan melamar di pekerjaan yang syaratnya S1 semua jurusan, kau tak berhak menentukan masa depanku. Lalu, kenapa Jeans tidak mencerminkan akhlak guru? Apakah jeans itu dosa? hanya karena mereka (orang barat) menetapkan standar celana bahan itu formal dan jeans informal lalu kenapa kita mengikutinya? apakah pengaruh negatif celana jeans dalam pembelajaran di kelas? apakah memakai celana jeans menurunkan prestasi belajar mahasiswa? apakah memakai celana jeans menurunkan moral si pemakai? lalu kenapa sarungan pun dilarang? sarung itu tanda kesalehan kan? biasanya para santri dan kiyai juga bersarung. Dan akhirnya bertanya pun dilarang.

Sekolahku yang mahal
Semakin ke sini, semakin aku yakin bahwa pendidikan adalah komoditas. Buktinya? hanya orang berduit yang mampu mengakses pendidikan bermutu. Sekolahkan butuh biaya, ya memang wujud sekolah berikut sistemnya dan standar sekolah bagus nan bermutu dalam sistem yang sekarang (aku yakin dipengaruhi oleh para kapitalis), butuh biaya yang tidak sedikit. Tak perlu aneh, karena sekolah dan universitas sendiri bagaikan sebuah pabrik pencetak tenaga ahli yang dibutuhkan oleh sistem kapitalisme saat ini. aku senang dengan kata "mencetak", pernahkah kau melihatnya di visi misi insititusi pendidikan? atau sekedar semboyan yang ditempel di lingkungan insititusi itu? mencetak lulusan bla bla bla.... kata ini menarik karena bagiku, ia memposisikan peserta didiknya sebagai sebuah benda mati yang bisa dibentuk seperti apa saja sekehendak pabriknya. Apakah mereka benda mati atau makhluk yang memiliki kehendak?

Atau mungkin sekolah telah menjelma menjadi institusi kapitalis, maksudku pengelolaan sekolah diperlakukan seperti halnya sebuah perusahaan pengejar profit. Ada istilah pekerja (guru) kontrak, yang direkrut oleh sebuah divisi yang disebut HRD, konsumen perusahaannya adalah para murid, oleh karena itu para murid dan orang tuanya diperlakukan bak raja, ingat konsumen itu raja jadi harus dilayani sebaik-baiknya, demi menarik banyak konsumen, perusahaan harus marketable, pakailah kurikulum yang ngetren, seperti kurikulum Cambridge atau Kairo. Pokoknya yang berbau luar negeri, orang indonesia itu goblok, asal ada luar negerinya pasti dikira bagus, masalah benar bagus atau tidak, itu urusan belakangan, supaya konsumen tidak kabur, mereka harus dibuat betah, dengan berbagai pelayanan dan fasilitas. Kebutuhan mereka dipenuhi tanpa cela, kebersihan dan kerapihan ditugaskan pada OB, tugas konsumen hanya belajar, bukan bersih-bersih, itu pekerjaan pembantu. Demi menjaga pasar, kualitas lulusan pun harus terjaga, semunya harus lulus UN dengan nilai bagus bagus, usahakan masuk Universitas favorit juga. Tapi terkadang ada yang aneh, walau dimanage bak sebuah perusahaan, institusi ini tak kena wajib UMR bagi pekerjanya. Alamak.......

Ya jangan heran sekolah bagus itu mahal, sesuai dong dengan kualitas yang ditawarkannya. Seperti tas Hermes yang sampai milyaran itu, keluarnya uang yang cukup untuk ngasih makan orang sekampung terasa pantas dengan kualitas, gengsi, dan harga diri yang diterimanya.

Sekolah hanya tempat pengajaran
Diakui atau tidak, bagiku sekolah saat ini hanya mampu mengajari, bukan mendidik. Mengajari berbagai ilmu pengetahuan yang telah disensor demi kepentingan sistem, dicekokan ke dalam otak para siswanya, siapa yang berhasil menghafal paling banyak, dijanjikan kesuksesan di dalam sistem itu. Bagaimana dengan karakternya? walaupun usaha pemerintah sudah sangat giat untuk ini, terbukti dalam K13, tapi seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memupuk karakter? apakah ruang kelas yang tersekat dinding, yang terkadang memisahkan murid dari dunia nyata mereka cukup efektif menanamkan tenggang rasa dan sebagainya? apakah kualifikasi seorang guru untuk menjadi pendidik inspirator muridnya? pertanyaan terakhir ini cukup berat, karena idealnya seorang guru memiliki 4 kompetensi yang terdiri dari pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Hm.... Too good to be true, yah namanya juga ideal, ngawang-ngawang, adakah guru yang benar benar menguasai keempatnya? kompetensi kepribadian dan sosial nampaknya yang paling berat. Jujur... untuk menjadi orang baik dan suri tauladan itu susahnya minta ampun..... Tapi kan the show must go on, jadi belum baik pun guru harus tetap ke sekolah, ya pura-pura baik aja deh di sekolah.... munafik dong? serba salah jadinya. Ya sudah, selama belum bisa baik, aku mengajar saja, tidak mendidik, terus kapan baiknya? Jadi guru berat euy....

Lalu apa?
Sebelumnya, aku ingin meminta maaf, jika curhatan di atas terkesan menjelek-jelekan sekolah, seolah-olah ia tidak ada baiknya sedikitpun, padahal akupun hidup dari sekolah. Atau aku seakan menjadi murid tidak tau diri dan terima kasih pada sekolah yang sedikit banyak memberi banyak pengetahuan. Bukan itu, semua hal memiliki sisi positif dan juga negatif, sekolah sebagai institusi pendidikan terus menerus berproses menuju kesempurnaan yang salah satunya dengan kritik diri. Disamping itu, bagiku sekolah itu terlalu sempit jika dianggap sebagai satu-satunya perwujudan dari pendidikan itu sendiri. Aku lebih senang dengan istilah 'sekolah kehidupan', dimana semua tempat adalah kelas, dan semua orang adalah guru. Para murid belajar tertib dari orang yang tidak tertib di lampu merah perempatan, para murid belajar tumbuhan dan hewan di sawah dan kebun, para murid belajar ikhlas dan sabar ketika banyak hal tak sesuai harapan. Hanya mungkin, tak semua sadar bahwa lingkungan kita penuh dengan hikmah dan pelajaran berharga, karena dalam otak kita, belajar ya di sekolah. Hanya beberapa gelintir orang yang menjadi lulusan sekolah kehidupan, orang-orang yang belajar walaupun tidak di institusi sekolah formal, tapi hasilnya sungguh luar biasa. Bu Menteri Susi misalnya? darimana dia belajar semua keahliannya itu? SMA saja tidak lulus.... Sekolah kehidupan saudara-saudara.... dan aku yakin banyak sosok lainnya yang seperti dia.

Intinya adalah belajar tak selesai ketika bel pulang berbunyi, ketika ijazah diterima, dan guru bukan hanya orang yang mengajar di sekolah. Kelas tak tersekat olah dinding segi empat, karena seluruh dunia ini adalah kelas, dimana kita belajar dari siapapun dan apapun sampai kita tak mampu belajar lagi, alias mati. Sekolah terlalu sempit untuk belajar!

Jumat, 27 November 2015

Renungan Part 53 (Wisuda oh... Wisuda)

media.viva.co.id

Mahasiswa mana yang tidak ingin wisuda? kujamin tidak ada, bahkan mahasiswa baru yang masih unyu-unyu pun ketika melihat acara wisuda, melihat meriahnya, serunya, dan tetek bengek lainya, langsung bermimpi untuk segera wisuda. Tapi jujur saja, secara pribadi aku tidak tahu bagaimana menyikapi hal ini. Bagaimanakah sikap kita seharusnya, dan bagaimana kita memandang wisuda itu sendiri adalah pertanyaan yang menjadi tema tulisan kali ini.

Wisuda itu harus bahagia 
Seperti ada aturan tak tertulis bahwa seorang wisudawan itu harus berbahagia, senyum mengembang harus menghiasi wajah. Oleh karena itu, seorang wisudawan yang sedih dan menangis pasti dianggap sebagai sebuah anomali, kecuali ia menangis karena bahagia. Kenapa kita harus bahagia? kurasa ada beberapa alasan yang membuat kebahagiaan itu akan muncul dalam hati ketika wisuda.

Wisuda itu butuh perjuangan. Pengerjaan skripsi adalah tantangan terbesar dalam mencapai wisuda, dan bukan kepintaran akademis yang menjadi syarat utama selesainya skripsi, tapi justru kemampuan untuk melawan rasa malas. Selain menghadapai dosen pembimbing yang killer, susah ditemui, dan revisinya ampun-ampunan, kebiasaan menunda-nunda (procrastinating) menjadi musuh terbesar para mahasiswa tingkat akhir.   Oleh karenanya wisuda adalah perayaan keberhasilan melawan rasa malas itu, dan kita berhak berbahagia. Ya... asal jangan terlena dengan perayaannya dan membuat kita jatuh kembali dalam kemalasan sih Masalahnya melawan malas itu perjuangan tanpa akhir, tak berhenti sampai wisuda. Kelak kita dihadapkan dengan calon mertua, sengitnya persaingan antar pengangguran, atau buasnya bos di tempat kerja. Perjuangan belum berakhir kawan. 

Wisuda itu bangga karena tanda sebuah bentuk kesuksesan. Siapa yang tidak bangga dengan adanya titel di belakang namanya? titel itu adalah tanda bahwa seseorang itu berilmu, dan orang berilmu itu dihormati oleh orang lain. Pantas dong kita bahagia? siapa yang tidak bahagia dihormati? Asal jangan jumawa saja dengan titel itu dan memandang rendah orang lain karena titel, sebanyak apapun di belakang nama kita, hanyalah sebuah bungkus, sebuah tanda akan keluasan ilmu (seharusnya). Masalahnya adalah banyak kok orang diwisuda tapi sebenarnya tidak dapat apa-apa, ilmunya super cetek, lalu pantaskah yang begini ini bangga? sebenarnya, orang yang benar-benar mendapat ilmu setelah kuliah pun tidak pantas bangga dan jumawa, toh ilmunya itu baru sedikit, lagipula orang yang benar-benar berilmu biasanya semakin menunduk (seperti padi). Jadi menurutku, kebanggan ketika wisuda itu hanya mitos, kita dibuat percaya bahwa itu ada padahal sebenarnya tidak ada. 

Kita bahagia karena dapat membuat orang tua bahagia. Walaupun kita bisa mempertanyakan lagi kenapa orang tua bahagia anaknya wisuda, alasan ini lebih patut diperhitungkan. Setidaknya kita bisa membuat orang tua bahagia karena itu bagian dari birrul walidain dan dicatat sebagai salah satu amal ibadah kita. Lagipula, membuat senang orang lain, terutama orang tua kita, adalah perbuatan yang sangat baik, jadi bolehlah kita berbahagia karena orang tua kita bahagia.

Bebas dari pertanyaan "kapan wisuda?". Ini adalah pertanyaan menusuk hati terutama bagi mahasiswa tua. Ketika teman, rival, atau musuh diwisuda lebih dulu kemudian mereka bertanya "lo kapan?" Seakan sebuah belati menusuk hati, sakitnya tuh disini. Jangankan ditanya, dengan melihat saja sudah menjadi cobaan yang berat. Belum lagi ketika pertanyaan itu muncul dari orang tua, di suatu pagi mereka mulai membandingkan diri kita dengan anak tetangga yang merupakan adik kelas kuliah tapi telah diwisuda dan bekerja, hingga akhirnya berujung pada pertanyaan "kamu kapan?". Jika kita bahagia diwisuda salah satunya karena alasan ini, maka kita telah tertipu. Seperti halnya energi yang tidak dapat hilang, ia hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Begitu pula pertanyaan menusuk ini, ia hanya berubah dari "Kapan Wisuda?" menjadi "Kapan Nikah?", "Kapan punya anak?", "kapan punya rumah? mobil?" dan kapan-kapan lainnya. It's endless.

Lalu apakah wisuda itu harus bahagia? Tentu saja, apapun yang kemudian akan terjadi di masa depan setelah wisuda, biarlah mereka tetap di masa depan yang merupakan sebuah misteri, karena mereka belum tentu terjadi. Untuk apa merisaukan sesuatu yang belum tentu terjadi? Ketika kita melihat teman, saudara, dan orang tua nampak bahagia ketika kita diwisuda, maka sepatutnya kita pun ikut bahagia, bukan karena kita merasa hebat, karena bertitel, atau mengganggap diri punya ilmu lebih.  

Ini alasanku, apa alasanmu?

Jumat, 06 November 2015

Renungan Part 52 (Aku Ingin Mejadi Manusia Apatis)

9gag.com

"Jangan jadi manusia apatis!" 
"payah... mahasiswa sekarang pada apatis!"
"apa sih apatis itu kak?"
"apatis itu tidak peduli, tidak acuh dengan keadaan sekitar... yang kamu perdulikan hanya diri kamu sendiri, kita tidak boleh begitu karena mahasiswa adalah agent of change, kita harus peduli dengan keadaan sekitar kita, dan akhirnya bisa membawa perubahan."

Kata apatis mulai kudengar semenjak mulai masuk bangku perkuliahan; apatisme berkonotasi negatif karena berhubungan dengan ketidakpedulian dan egoisme. Apa yang lebih buruk dari mementingkan pantat sendiri daripada mengutamakan kemaslahatan bersama? Kata apatisme itu adalah sebuah aib. 

Seperti halnya kebanyakan orang, kita cenderung menerima apapun begitu saja karena itu lebih mudah atau lebih menyenangkan. Tidak ada usaha konfirmasi, atau cek n ricek, tidak ada usaha memikirkan kembali, karena itu merepotkan. Sebuah berita bisa dipercaya begitu saja, lalu dishare di medsos tanpa tahu benar tidaknya, tanpa memperkirakan apakah itu memberikan dampak negatif atau tidak bagi orang lain, tak usah repot dan itu lebih menyenangkan. Begitu pula dengan kata apatis.

Mari merenungkan kembali segalanya, kali ini kita mulai dengan kata apatis. Kata ini berasal dari bahasa yunani, dan uniknya, makna kata ini dulu berbeda dengan yang sekarang. Berasal dari kata a- yang berarti "tanpa" dan pathos yang berarti "penderitaan" atau "hasrat" kata apathea (yang kini menjadi apatis) secara literal bermakna tanpa penderitaan atau hasrat. Dalam Filsafat aliran Stoik istilah ini digunakan untuk merujuk sebuah keadaan pikiran yang tidak terganggu oleh hasrat atau keinginan.

Oke... apa maksudnya ini? aku tidak ingin berbicara tentang ajaran stoik secara detail (karena tidak terlalu menguasai) tapi yang pasti poin pentingnya adalah kaum stoik merumuskan sebuah doktrin yang menyatakan bahwa seseorang itu dikatakan sebagai manusia bebas ketika dia tidak diperbudak oleh keinginan.  Kebebasan sejati terletak bukan pada pemenuhan keinginan secara gila-gilaan, justru ada pada sikap pengendalian diri di tengah-tengah godaan yang begitu besar.

Sungguh menarik, karena ketika kita hubungkan dengan ajaran budha, ada satu benang merah yang sangat kuat. Dalam budha, keinginan adalah sumber penderitaan, dan satu-satunya cara mencapai bahagia adalah mengatur sumber penderitaan itu sendiri, yaitu keinginan, atau hasrat. Berbicara masalah pengaturan hasrat, dalam islam pun dikenal puasa, yaitu ibadah yang mengatur pemenuhan hasrat dasar manusia yaitu makan, minum, dan seks. Lalu sedekah dan zakat yang menekan hasrat untuk ingin untung sendiri dan tidak mau berbagi, dan berbagai ajaran lainnya yang jika kita renungkan pasti memiliki hubungan dengan pengendalian hasrat atau hawa nafsu.

Menjadi apatis berarti tidak memarahi pasangan karena mereka tidak bertindak seperti yang kita inginkan, berarti tidak murung ketika belum punya motor seperti yang lainnya, berarti tidak iri dan dengki karena tetangga naik pangkat dan punya mobil baru, berarti tidak selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain, berarti tidak pelit membantu orang yang membutuhkan, berarti tidak larut dalam kesedihan karena dikecewakan atau gagal dalam sesuatu, berarti melawan semua hawa nafsu yang menyebabkan mudharat. 

Agak sulit mempraktekan hal ini di dunia di mana tujuan hidup manusia adalah konsumsi barang. Keinginan manusia selalu dimanjakan dengan berbagai produk, dan tidak memiliki produk itu berarti kesedihan. Pernahkan kita memikirkan apa kita benar - benar butuh barang yang kita konsumsi? alat elektronik, gadget, kendaraan, dan pakaian? "mengkonsumsi karena butuh itu pola pikir orang miskin" temanku pernah berkata. ah... begtiu besarnya pengaruh budaya konsumsi sehingga mendorong manusia memaksimalkan hasrat mereka. Lihatlah kota-kota yang mendewakan hasrat, mereka indah nan gemerlap, semua kebutuhan ada dan bahkan diada-adakan demi memenuhi hasrat manusia. Namun sepertinya ada satu hal yang tidak dapat disediakan kota itu, ketenangan batin. 

Apakah perubahan makna apatis menjadi negatif itu disengaja oleh oknum yang melihat itu sebagai ancaman bagi budaya konsumsi? Entahlah, yang pasti, Aku Ingin Menjadi Manusia Apatis.



Sumber Bacaan

McClain, Gary and Eve Adamson. (2001). The Complete Idiot Guide to Zen Living. Indianapolis: Pearson Education Company.




Rabu, 14 Oktober 2015

Renungan Part 51 (Kebenaran dan Penafsiran)

izquotes.com

Beberapa waktu yang lalu, saat panas-panasnya Pilpres yang dipenuhi isu sara, seorang Quraish Shihab, yang menyatakan keberpihakannya pada salah satu calon, diberitakan bahwa ia mengatakan kalau Nabi Muhammad itu tidak terjamin masuk surga. Umat islam pun meradang, dan isu ini sempat memanas karena dikompori oleh kepentingan politik di dalamnya. Pertanyaannya apakah ia benar-benar mengatakan hal itu? atau apakah itu yang dimaksud oleh beliau? Banyak pendapat pro dan kontra, yang membela beliau mengatakan itu fitnah karena hanya sepotong saja perkataan Quraish Shihab  yang dikutip sehingga terkesan makna itu yang dimaksud. Yang menghujat, keukeuh dan menambahkan tuduhan Quraish Shihab itu syiah dan lain sebagainya.

Kasus diatas adalah contoh bagaimana penafsiran manusia bisa berbeda dari yang sebenarnya. Si A berkata B, Kemudian Si C memahaminya sebagai B+, atau B-, atau mungkin malah menjadi D. Begitulah penafsiran, karena kemampuan akal seorang manusia untuk memahami sesuatu sungguh beragam dan, menurut Graeme Nicholson, sangat kuat dipengaruhi oleh kepentingan, bahasa, dan lingkungan. Terlebih lagi Nicholson membagi proses penafsiran menjadi dua, Background Interpretation yaitu proses penafsiran tanpa ada daya usaha dan berlangsung begitu saja. Penafsiran ini biasanya sangat personal dan kadar kebenarannya tidak terlalu umum, tidak selalu diterima banyak orang. Seperti ketika laki-laki A dan B sama-sama melihat seorang wanita yang bertubuh gempal, Lalu si A berkata "wah dia itu semok" yang bermakna ia menyukai wanita tersebut, sementara si B berkata "dia gendut" yang bermakna si B tidak menyukai wanita itu. Keduanya menafsirkan satu hal begitu saja secara langsung, dan memiliki subjektifitas tinggi. Lalu yang kedua adalah Foreground Interpretation yaitu penafsiran yang dilakukan secara sadar, dengan daya dan usaha melalui metode tertentu, seperti halnya penelitian. Nah, penafsiran seperti ini, terutama yang mengikuti metode ilmiah, lebih diterima kebenarannya secara umum daripada yang pertama tadi. Loh... jadi penelitian itu penafsiran? dapat salah dong ya? ya... bukankah suatu teori itu akan dianggap benar selama belum ada teori baru yang terbukti secara ilmiah mampu mematahkan teori lama itu? jadi teori hasil penelitian pun bisa dikatakan tidak 100% kebenarannya kan? cuma saat ini dianggap benar karena belum ada teori baru yang lebih benar, gitu loh. 

Beranjak dari situ, bahwa semua hal yang kita pahami di dunia ini, entah lewat pikiran kita sendiri, lewat penelitian ilmiah, atau lewat kajian para ahli, semuanya adalah sebuah penafsiran, bisa salah atau belum salah.   Itu semua tidak 100% benar. Hanya kita percayai sebagai kebenaran. Adakah yang bisa mengatakan kebenaran secara 100%? dengan keterbatasan akal manusia, tentunya tidak ada, kecuali jika ia mampu berkomunikasi dengan yang punya alam semesta. Maka dari itu, para Nabi dan Rasul tentu bisa mengatakan kebenaran karena mereka dipandu oleh Yang Maha Kuasa. Tapi apakah kata-kata mereka dan penjelasannya yang kita dapat beribu-ribu tahun setelah mereka meninggal masih memiliki kadar 100% kebenaran?

Para ahli hadits hanya bisa menafsirkan makna hadits, para ahli tafsir pun hanya bisa menafisrkan kandungan kitab suci, tentu keduanya memiliki metode penafsiran tertentu yang dibuat untuk menjaga kualitas tafsirannya, tapi tetap saja itu penafsiran, bukan kebenaran 100%. Oleh karena itu ada banyak ragam pendapat tentang suatu hal dalam fiqih misalnya. Kesimpulannya, tidak ada yang benar 100%. Oleh karena itu sangat naif bila salah satu kelompok mengklaim bahwa mereka menyuarakan kebenaran dan menafikan pendapat kelompok lain. Itu bullshit. Kita hanya bisa meyakini sesuatu sebagai kebenaran. 

Itulah gunanya akal dan hati, kita merenung, berpikir, menimbang, dan akhirnya memutuskan bahwa A itu benar. Tapi karena itu hasil penafsiran, kita tidak boleh menutup mata pada pendapat lain yang mungkin saja lebih baik. Jadi menggapai kebenaran adalah suatu proses tanpa henti sampai kita mati. Mungkin setelah mati baru kita tahu kebenaran yang sejati (wallahu a'lam). Manusia memiliki kedaulatan untuk memilih kebenaran yang ia yakini, dengan tanpa memaksakan kebenarannya kepada orang lain. 

Tulisan ini pun hanya sebuah usaha penafsiran yang kebenarannya terbatas, pembaca berhak setuju berhak juga tidak. Yang penting tak perlu lah kita saling menghina, saling memukul, apalagi sampai saling bunuh. Salam Damai.


Terisnpirasi dari kajian FLAT-Nerd tentang buku Graeme Nicholson berjudul Seeing and Reding.



Minggu, 11 Oktober 2015

Renungan Part 50 (Media dan Ketidak-pentingan-nya)

thelabrynthoflife.files.wordpress.com

Dulu, ketika aku ABG dan mulai mencoba memahami dunia orang dewasa, aku menyadari suatu hal, (yang sepertinya dipengaruhi oleh iklan juga sih....), bahwa informasi itu sangat penting. Tokoh Littlefinger di serial TV Game of Throne bahkan berkata "knowledge is power" yang bermakna pengetahuan (dalam makna infomrasi) adalah kekuatan; itu sangat benar, terutama di zaman sekarang. Mungkin ada yang pernah menonton serial TV Sherlock Holmes yang dibintangi Benedict Cumberbatch? Salah satu musuh Sherlock adalah orang yang sangat kuat yang bernama Charles Augustus Magnussen, seorang bos media yang mengetahui banyak informasi, terutama informasi rahasia orang-orang penting. Pengetahuannya akan informasi itu membuatnya tak tersentuh hukum, bahkan dengan mudahnya mengatur hukum. Informasi sangat penting.

Beranjak dari situ, aku melihat bahwa membaca koran, dan menonton berita itu sangat penting. membuat kita selalu update akan dunia, dan membuat wawasan kita sangat luas. kita tahu banyak hal, dan akhirnya dapat memahami keruwetan permasalahan yang dihadapi dunia. Sayang, akhir-akhir ini pendapatku itu mulai berubah. Kini aku mulai melihat bahwa media justru sangat tidak amat penting.

Media masa tidak dipungkiri lagi memiliki kekuatan untuk mempengaruhi banyak orang, dan kurasa bukanlah hal yang tidak mungkin ada pihak yang ingin memanfaatkan kekuatan media demi kepentingan pihak tertentu. kurasa sudah rahasia umum jika kita membandingkan beberapa TV berita di negara ini, maka kita akan merasakan kepentingan pihak tertentu dalam pemberitaannya itu. Bagi pendukung fanatik pihak A, biasanya tidak suka dengan berita-berita TV berita B, dan lebih memilih TV berita C, begitu pula sebaliknya. Ditambah propaganda tokoh tertentu yang kebetulan punya media untuk membangun imej semu dirinya agar bisa mencalonkan diri di pilpres berikutnya. Sepertinya setiap media berlomba-lomba mempengaruhi masyarakat demi kepetingan mereka masing-masing. Aku berkesimpulan, menonton berita di TV sudah tidak ada gunanya lagi.

Yang berikutnya adalah perasaan negatif setelah aku membaca atau menonton berita. Setiap selesai, pasti aku menggerutu, marah, atau mengumpat bahwa masyarakat indonesia itu bodoh, pemerintah bego gak ketulungan, DPR gak jelas kerjanya apa, Polisi kerjanya kayak preman, dan lain sebagainya. Yang kulihat dari duniaku adalah hal yang negatif. Apakah tidak ada hal positif di Indonesia ini? Atau jangan-jangan semua berita itu 90% menayangkan berita negatif, dan hanya 10% yang positif? well, tidak aneh sih, kalau merujuk pada kata-kata "bad news is a good news." Siapa pula yang akan tertarik dengan berita baik? berita buruk lebih heboh kan? aku tambah yakin, mengikuti berita semakin tidak berguna kalau kita ingin hidup bahagia.

Kemudian ada satu tren yang sangat menyebalkan yang kulihat dari aplikasi portal berita online di smartphoneku, sebut saja aplikasi itu BaBe. Jika kuperhatikan kolom komentar, terutama dalam berita yang berbau sara, dan masalah pemerintahan, rasanya tidak afdol kalau tidak ada pengguna yang tidak saling mencaci maki, menghina, dan merendahkan yang lain, hanya karena pendapat mereka tidak sama. seakan-akan mereka adalah kebenaran. Atau ada pula yang berkomentar provokatif, dan membuat telinga panas. Biasanya setiap pagi, aku selalu membuka aplikasi itu untuk mengecek ada berita apa hari ini, dan kemudian berlarut-larut menahan diri agar tidak emosi ketika menemukan debat seperti tadi, sampai aku berkeputusan bahwa ini tidak bisa diteruskan. aku menghapus aplikasi itu dari ponsel untuk selama-lamanya. Masyarakat indonesia yang katanya santun, ternyata tidak santun kalau bersembunyi di balik nama akun. Apakah ini kita yang sebenarnya?

Tidak ada lagi acara menonton berita pagi hari, yang kutonton sekarang adalah Kartun Spongebob Squarepants yang kurasa lebih menghibur, sekaligus mendidik daripada berita. Tidak ada lagi menelan berita bulat-bulat tanpa tabayun (begitukan istilah untuk cek and ricek??), karena berita-berita itu ditumpangi kepentingan pihak-pihak tertentu. Dan oleh karena itu, aku menghimbau mari kurangi nonton dan baca berita. LoL