Kamis, 07 Januari 2016

Renungan Part 56 (Mati Itu Indah: Refleksi Diri buku karya M. Quraish shihab berjudul Kematian Adalah Nikmat)


tartil.me

Kematian, mau diaukui atau tidak, merupakan suatu momok yang menakutkan bagi banyak kalangan manusia. Ia adalah penyebab kesedihan mendalam bagi banyak makhluk yang ditugaskan sebagai khalifah di muka bumi ini, dan Ia adalah hal terakhir yang diharapkan kedatangannya oleh kebanyakan kita.

Sebegitu takutnya kita, sampai membicarakan tentang kapan kita mati kita seringkali terasa sangat tabu, dan sebagian kalangan muda seringkali tidak mengingat-ingat kematian karena merasa masih berumur panjang. Alhasil, hanya para orang tua yang sudah “bau tanah” yang seringkali sadar bahwa kematian sudah dekat. Saya rasa itu menjelaskan kenapa masjid di kampungku biasanya dipenuhi para orang tua dan kakek-kakek. Padahal, kematian bisa datang kapan pun, tanpa harus menunggu tua. Dia bisa hadir esok, atau bahkan beberapa saat lagi, tidak ada yang tahu pasti. Hal yang pasti adalah ketidakpastian kematian itu sendiri.

Dalam bukunya yang berjudul “kematian adalah nikmat” M. Quraish shihab mengajak kita untuk mengenal lebih dekat kematian yang begitu ditakuti oleh banyak kalangan. Beliau, dengan cara khasnya, membahas kematian dari berbagai sudut pandang, dan berbagai dalil ulama dari berbagai mazhab. Beliau mengajak pembaca untuk menyambut kematian sebagai sebuah anugerah (nikmat) karena pada sejatinya kematian adalah jalan menuju kehidupan abadi, dan disanalah manusia yang taat mendapat kenikmatan tiada tara dari yang maha kuasa.

Kematian bukanlah akhir, dia bukanlah ketiadaan, tapi dia adalah jalan kembalinya ruh manusia yang pernah dihembuskan Allah SWT pada manusia saat empat bulan dalam kandungan ke pangkuan-Nya. Apa yang terjadi setelah kematian adalah hisab dimana keadilan diberikan kepada manusia sesuai dengan amalnya di dunia. Dengan memaknai kematian sebagai sebuah anugerah dan beriman dengan balasan yang Allah janjikan sesuai perbuatan kita, maka ada beberapa implikasi yang bisa kita lakukan dalam kehidupan ini.

Pertama bagi kita yang ditinggalkan. Merasa sedih ditinggal orang yang sangat disayangi adalah wajar, itu sungguh manusiawi, tapi berlarut-larut dalam kesedihan bukan hal yang baik. Semua makhluk yang bernafas pasti memiliki ajal, apa yang dititipkan Tuhan pada kita di dunia ini, pasti diambil kembali. Kita sering menyebut orang meninggal dengan sebutan “berpulang ke Rahmatullah”, mereka sesungguhnya pulang, bukan pergi, pulang kembali ke pangkuan-Nya. Yang dapat kita lakukan untuk mereka adalah berdo’a. Doanya anak soleh bagi orang tua tidak akan putus walau dipisah maut, itu yang guruku ajarkan. Jadi mengikhlaskan, karena mereka sebenarnya pulang ke Pemiliknya, dan berdoa terus menerus untuk mereka, agar Sang Pemilik menerima almarhum/almarhumah di sisi-Nya, adalah jalan terbaik menyikapi kematian sanak famili.

Kedua, bagi kita yang masih hidup. Kematian adalah peringatan bagi yang hidup untuk sadar bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini, kita hanya numpang lewat di dunia ini, dan suatu saat kita akn pulang kepada-Nya. Maka sudah sepatutnya kita mulai melunturkan kemelekatan terhadap dunia, hidup hanya untuk menuju kepada-Nya. Apalah arti banyak harta, toh tidak akan dibawa mati. Apalah arti istri cantik, toh dia tidak akan menemani kita di kubur nanti. Semua yang tidak membawa kita lebih dekat kepada-Nya, tidak berarti. Apa yang benar-benar penting bagi Dia adalah ketakwaan kita, sebagaimana yang selalu khatib jumat dengungkan di setiap khutbahnya.

Renungan Part 55 (Seri Resolusi Cinta: Cinta dan Ego)

weknowyourdreams.com

Cinta itu indah, kata sebagian orang. Cinta itu dapat membuat sakit dan menderita, kata sebagian lain. Jawabannya akan sangat bergantung pada keadaan orang yang anda tanya pendapatnya tentang cinta. Coba tanya pada sepasang kekasih yang baru seminggu jadian, lalu tanya pada seseorang yang baru ditinggal kekasihnya menikah dengan orang lain. Jawaban mereka biasanya sangat berbeda tajam. Jika cinta adalah penyebab kebahagiaan sekaligus penderitaan, apakah sebenarnya cinta itu? kenapa ia begitu paradoks? Kalau begitu adalah sebuah kebohongan besar ketika ada orang yang mengatakan cinta adalah obat segala derita, cinta adalah kunci keindahan dan perdamaian dunia.

Mungkin kita terlalu lama terjebak, apa yang kita pikir itu cinta, sebenarnya bukan cinta. Kita tidak pernah menderita karena cinta. Keinginan ego untuk memiliki orang lain yang tidak kesampaian, tidak memiliki orang yang selalu memanjakan ego kita, memiliki seseorang yang tidak mau mengikuti ego kita, dan ditinggalkan seseorang yang menurut ego kita akan memberikan kebahagiaan, itulah yang menyebabkan penderitaan, bukan cinta. Penderitaan dan kesedihan adalah akibat dari terlukanya ego kita, dan kita terlalu lama menyamakan ego dengan cinta.

Kata orang cinta itu harus memiliki, tidak, Ego yang harus memiliki. Cinta itu melepasnya pergi ketika kita yakin dia akan lebih bahagia dengan orang lain. Cinta bukan jual beli, memandang sesuatu dari sudut pandang untung rugi. Cinta itu memahami, menerima, merawat, tak tuntut suatu apa pun. Itulah cinta sejati, cinta seorang manusia, tapi kita terlalu lama terjebak dengan makna cinta dangkal, sedangkal cinta antara lelaki dan wanita.

Apa yang laki-laki rasakan kepada wanita tidak sepenuhnya cinta, justru di zaman sekarang, sangat jauh dari cinta yang sebenarnya. Terutama para remaja yang terjebak di zaman ini, budaya permisif dan budaya munafik. Mereka dilarang berpacaran ditakut-takuti siksa neraka akan perzinahan, tapi para orang dewasa dan budaya popnya mengkampanyekan itu semua, karena it's a good business. Apa yang ditonjolkan dari percintaan lelaki dan perempuan (pacaran)?

Gengsi, adalah yang pertama. Memiliki status jomblo seakan mimpi buruk, dan karcis menuju kesedihan. Setidaknya itu yang terasa setelah kampanye meme yang menyindir jomblo makin banyak. Dalam strata sosial masyarakat modern Jomblo itu sama dengan kaum sudra, bukan salah para remaja (yang bagi banyak orang belum pantas memiliki hubungan seperti ini) hingga akhirnya mereka mencari pacar demi gengsi.  Pacar adalah piala, dan yang mendapatkannya adalah pemenang, sedangkan para jomblo adalah losers. Gengsi bukanlah cinta, tapi Ego.

Seks, adalah yang kedua. Meski tak banyak orang yang mau mengakui ini, tapi ini adalah motif yang kuat. Sudah banyak pasangan mesum dari remaja sampai yang cukup dewasa tertangkap di kamar-kamar hotel. Media menyebutnya sebagai Operasi Penyakit Masyarakat. Ya Penyakit Masyarakat. Seks adalah makhluk misterius yang membuat para remaja penasaran setengah mati, para orang tua enggan membicarakannya, para pemuda dilarang membahasnya, dia disebut tabu, dilabeli jorok (hal jorok yang sangat penting bagi keberlanjutan manusia). Semakin sesuatu itu disembunyikan, semakin penasaran para pencarinya. Hingga akhirnya mereka membuka keran lain, yaitu pornografi. Guru seks pemuda adalah pornografi, maka tak aneh perilaku mereka mirip para bintang porno, karena murid adalah cetakan guru. Ini yang menjadi momok masyarakat kita, pacaran akan menjerumuskan pada perzinahan, seks bebas! padahal seks hanya sebagian kecil dari  ekspresi cinta.

Anehnya, seks diberi tempat khusus dalam pendidikan di beberapa negara, dan negara kita sepertinya sedang membahas penerapan itu. Tapi tak ada yang memberi tempat khusus pada pelajaran cinta sesungguhnya. Ada pakar seks, tapi tak ada pakar cinta. Kita terjebak dalam makna dangkal akan cinta, kita terlena dengan kekuasaan Ego yang memabukan.        

Senin, 21 Desember 2015

Renungan Part 54 (Sekolah itu .....)

www.quotehd.com

Aku menghabiskan 6 tahun untuk sekolah dasar, 3 tahun sekolah menengah pertama, dan 3 tahun sekolah menengah atas. tak lupa satu tahun di Taman Kanak-kanak. Bisa dibilang aku cukup sukses mengikuti program wajib belajarnya pemerintah. Apa yang kualami dan kupelajari selama hidupku di sekolah? banyak hal, positif,  negatif, lucu, dan miris.

Oke, sebaiknya kita pahami dulu apa itu sekolah. Dalam bahasa aslinya, yaitu latin, asal kata sekolah adalah schola yang secara harfiah berarti waktu luang atau waktu senggang, hm..... kenapa kata ini yang dipakai? kenapa sekolah itu waktu senggang? Karena pada zaman dahulu kala, orang-orang Yunani menggunakan waktu luang mereka untuk mendatangi tempat atau seorang pandai untuk mempelajari hal-hal yang dirasa perlu untuk diketahui. Bayangkan anda adalah seorang anak petani, dan sudah dua kali ayah anda gagal panen. apa yang menyebabkan panen gagal? apakah di metode penanaman? atau perawatan? karena tak bisa menjawabnya sendiri, anda datang ke seorang ahli tanaman yang tinggal di batas desa, maka setiap sore setelah mengurus kebun, anda mendatanginya dan mempelajari banyak hal tentang tanaman, lalu tercerahkanlah pikiran anda. Ilmu yang diterima dari sang pandai tanaman, benar-benar bermanfaat menyelamatkan panen berikutnya. Anda pun menghormati si pandai, karena telah menolong anda. Kira-kira begitulah.

Setidaknya ada beberapa hal yang dapat kita simpulkan, orang zaman itu mendatangi si pandai karena butuh ilmunya, dia mengalami masalah di kehidupan nyata dan butuh bantuan si pandai, ilmu yang didapat sangat berguna untuk hidupnya, dan dengan demikian si pandai sangat dihormati oleh dirinya. Setelah zaman berganti, kini sekolah bukan lagi tempat mengisi waktu luang.

Entah kenapa pelajaran sekolah tidak membantuku memecahkan masalah sehari-hari.
Suatu ketika, ibu memintaku membersihkan ikan untuk dimasak, waktu itu aku masih kelas lima SD, dan aku hanya menatap ikan itu menggelepar di tatakan, tak tahu harus bagaimana. apakah memegangnya harus begini? bagian mana yang harus kupotong? kira-kira bagaimana ya ibuku biasa melakukannya? hey... aku tidak pernah melihat bagaimana ibuku membersihkan ikan. kenapa bisa? setelah pulang sekolah biasanya aku mengerjakan PR sambil menonton TV, aku ini kan anak pintar, selalu dapat ranking 1, aku harus mengerjakan PR, terutama matematika. yah.... mungkin ikan ini bisa kupotong dengan pertambahan? perkalian? pengurangan? atau dengan mencari penyebut dan pembilangnya terlebih dahulu? Oke ikan segitiga sama sisi, bagaimana cara mencari luasmu? aku tahu cara mencari luas bangun datar, tapi apakah itu bisa membantuku menyiapkan ikan ini untuk dimasak? Sial.... semua itu tidak berguna. Ikan itu terus menggelepar dan aku disebut bodoh karena tidak bisa membersihkannya. Hey... aku kan ranking 1.

"kapan terjadi perang Diponegoro?" tanya guruku. aku dengan mudah menjawabnya, juga pertanyaan sejarah lainnya yang berkenaan dengan tanggal, tahun, tempat, atau nama. Semua bisa kujawab, walau sekarang tak satupun masih kuingat. Ketika kupikir sekarang, apa gunanya menghafal itu semua? agar ujianmu nilainya bagus. Hahaha.... sungguh tidak penting. Aku tidak tahu kapan hafalan informasi itu berguna, mari kita mengira-ngira, hm.... bukan... itu ujian, bodoh.... itu juga tes..... oke aku menyerah. Tidak Ada. tapi agar bermanfaat, aku harus mengamalkan ilmu hafalan itu kan. Ya.... aku akan menyelipkan informasi itu di sela-sela percakapan, dengan begitu orang akan jadi lebih tahu, dan ilmuku bermanfaat. Hm..... sepertinya aku akan menjadi orang yang menyebalkan.

Sekolah telah merenggut jati diriku
Aku adalah anak kampung, dan yang namanya kampung, dipenuhi sawah dan kebun. Tapi jangan tanya aku apa obat alami untuk luka selain ..... uh.... aku lupa namanya, bentuk daunnya pun sudah lupa. Jangan tanya pula apa makanan terbaik untuk kelinci, atau ayam, atau domba. Walaupun pernah punya dulu sekali. Jangan tanya juga cara menerbangkan layang-layang, karena di saat anak-anak lain bermain layang-layang di sawah, aku hanya menonton dari balik jendela sambil mengerjakan PR. Aku terlahir di kampung tapi tak punya skill anak kampung. Membersihkan ikan saja aku tak mampu. Tak aneh sekarang tidak ada yang mau jadi petani, walau bapaknya petani. Karena sekolah mengajarkan hidup itu harus maju dan sukses. Menjadi petani itu tidak maju dan sukses, kau mau tahu apa yang maju dan sukses? jadi pegawai kantoran, berdasi, bersepatu pantopel, bermobil, dan duduk di ruang kerja ber-AC. Dalam sosiologi SMA, para siswa dicekoki mobilitas sosial naik dan turun, naik jika ayahnya petani lalu anaknya jadi direktur, turun apabila sebaliknya. Tak pernah ada yang bertanya "kenpa direktur lebih baik dari petani? kenapa kekayaan jadi ukuran? kenapa dasi jadi ukuran? kenapa.. kenapa...?" tidak ada. Begitulah, para anak muda jadi tak sudi mengurus lahan pertanian warisan kerluarga, setelah sekolah kaki mereka jadi terlalu mulia untuk mencari nafkah di tanah. Lahan-lahan tak tertanami itu akhirnya ditumbuhi rumput liar dan menjadi sarang ular. Oh aku ada ide bagus untuk membuatnya produktif, jual saja ke developer, biar dijadikan perumahan, atau Mall.... ya mall.... pusat perbelanjaan, sekarang semua orang senang belanja. Begitulah nasib sawah di desaku, jika bukan menjadi perumahan, ya jadi pusat perbelanjaan. Para pemudanya tidak ada yang mau jadi petani, karena tidak punya kemampuan bertani yang tidak diajarkan di sekolah, juga karena tak mau kalah gengsi. Lalu kita marah ketika kita harus mengimpor kedelai? bawang? beras? Hello..... sekarang gak ada rakyat indonesia yang mau jadi petani. Negara agraris itu hanya masa lalu. Padahal apa salahnya menjadi Petani?

Entah kenapa sekolah itu mirip dengan penjara
Apa persamaan sekolah dan penjara? Pertama adalah seragam yang harus dikenakan setiap waktu. Jika tidak, maka hukuman menanti. Kedua, sangat gila akan kesunyian dan ketertiban. Aku tidak pernah mengerti kenapa anak yang baik adalah anak yang pendiam? sekolah yang baik adalah sekolah yang siswanya duduk tenang dan diam di dalam kelas, walau tidak ada guru dan tugasnya telah selesai? kenapa duduk-duduk di taman sekolah saat KBM, walau guru tak ada dan tugas telah selesai, itu dilarang? dan guru tahu bagaimana susahnya para siswa untuk diam tenang di dalam kelas ketika gurunya tak ada. Kau tahu? kenapa tidak sekalian kunci saja kelasnya dari luar. Aman kan? Sekolah dan penjara mengatur jadwal istirahat, makan, bahkan ketika ujian, kebutuhan ke kamar kecil saja diatur-atur. Memangnya aku bisa mengatur perutku untuk sakit di jam-jam tertentu? Sontoloyo! Lalu keduanya sama-sama menuntut manusia yang patuh dan mudah diatur yang tidak mempertanyakan keputusan-keputusan pihak atas. Anak SD mana yang mampu mengkritisi keputusan guru dan kepala sekolah? bukankah seharusnya guru mulai mengajarkannya sejak kecil? bagaimana dengan Tingkat Universitas? razia celana jeans di fakultas keguruan, contohnya. kenapa kuliah tidak boleh pake celana jeans? karena kau nanti akan menjadi guru, celana jeans tidak mencerminkan sikap guru. Oh ya? kata siapa nanti kalau lulus akan menjadi guru? aku akan melamar di pekerjaan yang syaratnya S1 semua jurusan, kau tak berhak menentukan masa depanku. Lalu, kenapa Jeans tidak mencerminkan akhlak guru? Apakah jeans itu dosa? hanya karena mereka (orang barat) menetapkan standar celana bahan itu formal dan jeans informal lalu kenapa kita mengikutinya? apakah pengaruh negatif celana jeans dalam pembelajaran di kelas? apakah memakai celana jeans menurunkan prestasi belajar mahasiswa? apakah memakai celana jeans menurunkan moral si pemakai? lalu kenapa sarungan pun dilarang? sarung itu tanda kesalehan kan? biasanya para santri dan kiyai juga bersarung. Dan akhirnya bertanya pun dilarang.

Sekolahku yang mahal
Semakin ke sini, semakin aku yakin bahwa pendidikan adalah komoditas. Buktinya? hanya orang berduit yang mampu mengakses pendidikan bermutu. Sekolahkan butuh biaya, ya memang wujud sekolah berikut sistemnya dan standar sekolah bagus nan bermutu dalam sistem yang sekarang (aku yakin dipengaruhi oleh para kapitalis), butuh biaya yang tidak sedikit. Tak perlu aneh, karena sekolah dan universitas sendiri bagaikan sebuah pabrik pencetak tenaga ahli yang dibutuhkan oleh sistem kapitalisme saat ini. aku senang dengan kata "mencetak", pernahkah kau melihatnya di visi misi insititusi pendidikan? atau sekedar semboyan yang ditempel di lingkungan insititusi itu? mencetak lulusan bla bla bla.... kata ini menarik karena bagiku, ia memposisikan peserta didiknya sebagai sebuah benda mati yang bisa dibentuk seperti apa saja sekehendak pabriknya. Apakah mereka benda mati atau makhluk yang memiliki kehendak?

Atau mungkin sekolah telah menjelma menjadi institusi kapitalis, maksudku pengelolaan sekolah diperlakukan seperti halnya sebuah perusahaan pengejar profit. Ada istilah pekerja (guru) kontrak, yang direkrut oleh sebuah divisi yang disebut HRD, konsumen perusahaannya adalah para murid, oleh karena itu para murid dan orang tuanya diperlakukan bak raja, ingat konsumen itu raja jadi harus dilayani sebaik-baiknya, demi menarik banyak konsumen, perusahaan harus marketable, pakailah kurikulum yang ngetren, seperti kurikulum Cambridge atau Kairo. Pokoknya yang berbau luar negeri, orang indonesia itu goblok, asal ada luar negerinya pasti dikira bagus, masalah benar bagus atau tidak, itu urusan belakangan, supaya konsumen tidak kabur, mereka harus dibuat betah, dengan berbagai pelayanan dan fasilitas. Kebutuhan mereka dipenuhi tanpa cela, kebersihan dan kerapihan ditugaskan pada OB, tugas konsumen hanya belajar, bukan bersih-bersih, itu pekerjaan pembantu. Demi menjaga pasar, kualitas lulusan pun harus terjaga, semunya harus lulus UN dengan nilai bagus bagus, usahakan masuk Universitas favorit juga. Tapi terkadang ada yang aneh, walau dimanage bak sebuah perusahaan, institusi ini tak kena wajib UMR bagi pekerjanya. Alamak.......

Ya jangan heran sekolah bagus itu mahal, sesuai dong dengan kualitas yang ditawarkannya. Seperti tas Hermes yang sampai milyaran itu, keluarnya uang yang cukup untuk ngasih makan orang sekampung terasa pantas dengan kualitas, gengsi, dan harga diri yang diterimanya.

Sekolah hanya tempat pengajaran
Diakui atau tidak, bagiku sekolah saat ini hanya mampu mengajari, bukan mendidik. Mengajari berbagai ilmu pengetahuan yang telah disensor demi kepentingan sistem, dicekokan ke dalam otak para siswanya, siapa yang berhasil menghafal paling banyak, dijanjikan kesuksesan di dalam sistem itu. Bagaimana dengan karakternya? walaupun usaha pemerintah sudah sangat giat untuk ini, terbukti dalam K13, tapi seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memupuk karakter? apakah ruang kelas yang tersekat dinding, yang terkadang memisahkan murid dari dunia nyata mereka cukup efektif menanamkan tenggang rasa dan sebagainya? apakah kualifikasi seorang guru untuk menjadi pendidik inspirator muridnya? pertanyaan terakhir ini cukup berat, karena idealnya seorang guru memiliki 4 kompetensi yang terdiri dari pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial. Hm.... Too good to be true, yah namanya juga ideal, ngawang-ngawang, adakah guru yang benar benar menguasai keempatnya? kompetensi kepribadian dan sosial nampaknya yang paling berat. Jujur... untuk menjadi orang baik dan suri tauladan itu susahnya minta ampun..... Tapi kan the show must go on, jadi belum baik pun guru harus tetap ke sekolah, ya pura-pura baik aja deh di sekolah.... munafik dong? serba salah jadinya. Ya sudah, selama belum bisa baik, aku mengajar saja, tidak mendidik, terus kapan baiknya? Jadi guru berat euy....

Lalu apa?
Sebelumnya, aku ingin meminta maaf, jika curhatan di atas terkesan menjelek-jelekan sekolah, seolah-olah ia tidak ada baiknya sedikitpun, padahal akupun hidup dari sekolah. Atau aku seakan menjadi murid tidak tau diri dan terima kasih pada sekolah yang sedikit banyak memberi banyak pengetahuan. Bukan itu, semua hal memiliki sisi positif dan juga negatif, sekolah sebagai institusi pendidikan terus menerus berproses menuju kesempurnaan yang salah satunya dengan kritik diri. Disamping itu, bagiku sekolah itu terlalu sempit jika dianggap sebagai satu-satunya perwujudan dari pendidikan itu sendiri. Aku lebih senang dengan istilah 'sekolah kehidupan', dimana semua tempat adalah kelas, dan semua orang adalah guru. Para murid belajar tertib dari orang yang tidak tertib di lampu merah perempatan, para murid belajar tumbuhan dan hewan di sawah dan kebun, para murid belajar ikhlas dan sabar ketika banyak hal tak sesuai harapan. Hanya mungkin, tak semua sadar bahwa lingkungan kita penuh dengan hikmah dan pelajaran berharga, karena dalam otak kita, belajar ya di sekolah. Hanya beberapa gelintir orang yang menjadi lulusan sekolah kehidupan, orang-orang yang belajar walaupun tidak di institusi sekolah formal, tapi hasilnya sungguh luar biasa. Bu Menteri Susi misalnya? darimana dia belajar semua keahliannya itu? SMA saja tidak lulus.... Sekolah kehidupan saudara-saudara.... dan aku yakin banyak sosok lainnya yang seperti dia.

Intinya adalah belajar tak selesai ketika bel pulang berbunyi, ketika ijazah diterima, dan guru bukan hanya orang yang mengajar di sekolah. Kelas tak tersekat olah dinding segi empat, karena seluruh dunia ini adalah kelas, dimana kita belajar dari siapapun dan apapun sampai kita tak mampu belajar lagi, alias mati. Sekolah terlalu sempit untuk belajar!

Jumat, 27 November 2015

Renungan Part 53 (Wisuda oh... Wisuda)

media.viva.co.id

Mahasiswa mana yang tidak ingin wisuda? kujamin tidak ada, bahkan mahasiswa baru yang masih unyu-unyu pun ketika melihat acara wisuda, melihat meriahnya, serunya, dan tetek bengek lainya, langsung bermimpi untuk segera wisuda. Tapi jujur saja, secara pribadi aku tidak tahu bagaimana menyikapi hal ini. Bagaimanakah sikap kita seharusnya, dan bagaimana kita memandang wisuda itu sendiri adalah pertanyaan yang menjadi tema tulisan kali ini.

Wisuda itu harus bahagia 
Seperti ada aturan tak tertulis bahwa seorang wisudawan itu harus berbahagia, senyum mengembang harus menghiasi wajah. Oleh karena itu, seorang wisudawan yang sedih dan menangis pasti dianggap sebagai sebuah anomali, kecuali ia menangis karena bahagia. Kenapa kita harus bahagia? kurasa ada beberapa alasan yang membuat kebahagiaan itu akan muncul dalam hati ketika wisuda.

Wisuda itu butuh perjuangan. Pengerjaan skripsi adalah tantangan terbesar dalam mencapai wisuda, dan bukan kepintaran akademis yang menjadi syarat utama selesainya skripsi, tapi justru kemampuan untuk melawan rasa malas. Selain menghadapai dosen pembimbing yang killer, susah ditemui, dan revisinya ampun-ampunan, kebiasaan menunda-nunda (procrastinating) menjadi musuh terbesar para mahasiswa tingkat akhir.   Oleh karenanya wisuda adalah perayaan keberhasilan melawan rasa malas itu, dan kita berhak berbahagia. Ya... asal jangan terlena dengan perayaannya dan membuat kita jatuh kembali dalam kemalasan sih Masalahnya melawan malas itu perjuangan tanpa akhir, tak berhenti sampai wisuda. Kelak kita dihadapkan dengan calon mertua, sengitnya persaingan antar pengangguran, atau buasnya bos di tempat kerja. Perjuangan belum berakhir kawan. 

Wisuda itu bangga karena tanda sebuah bentuk kesuksesan. Siapa yang tidak bangga dengan adanya titel di belakang namanya? titel itu adalah tanda bahwa seseorang itu berilmu, dan orang berilmu itu dihormati oleh orang lain. Pantas dong kita bahagia? siapa yang tidak bahagia dihormati? Asal jangan jumawa saja dengan titel itu dan memandang rendah orang lain karena titel, sebanyak apapun di belakang nama kita, hanyalah sebuah bungkus, sebuah tanda akan keluasan ilmu (seharusnya). Masalahnya adalah banyak kok orang diwisuda tapi sebenarnya tidak dapat apa-apa, ilmunya super cetek, lalu pantaskah yang begini ini bangga? sebenarnya, orang yang benar-benar mendapat ilmu setelah kuliah pun tidak pantas bangga dan jumawa, toh ilmunya itu baru sedikit, lagipula orang yang benar-benar berilmu biasanya semakin menunduk (seperti padi). Jadi menurutku, kebanggan ketika wisuda itu hanya mitos, kita dibuat percaya bahwa itu ada padahal sebenarnya tidak ada. 

Kita bahagia karena dapat membuat orang tua bahagia. Walaupun kita bisa mempertanyakan lagi kenapa orang tua bahagia anaknya wisuda, alasan ini lebih patut diperhitungkan. Setidaknya kita bisa membuat orang tua bahagia karena itu bagian dari birrul walidain dan dicatat sebagai salah satu amal ibadah kita. Lagipula, membuat senang orang lain, terutama orang tua kita, adalah perbuatan yang sangat baik, jadi bolehlah kita berbahagia karena orang tua kita bahagia.

Bebas dari pertanyaan "kapan wisuda?". Ini adalah pertanyaan menusuk hati terutama bagi mahasiswa tua. Ketika teman, rival, atau musuh diwisuda lebih dulu kemudian mereka bertanya "lo kapan?" Seakan sebuah belati menusuk hati, sakitnya tuh disini. Jangankan ditanya, dengan melihat saja sudah menjadi cobaan yang berat. Belum lagi ketika pertanyaan itu muncul dari orang tua, di suatu pagi mereka mulai membandingkan diri kita dengan anak tetangga yang merupakan adik kelas kuliah tapi telah diwisuda dan bekerja, hingga akhirnya berujung pada pertanyaan "kamu kapan?". Jika kita bahagia diwisuda salah satunya karena alasan ini, maka kita telah tertipu. Seperti halnya energi yang tidak dapat hilang, ia hanya berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Begitu pula pertanyaan menusuk ini, ia hanya berubah dari "Kapan Wisuda?" menjadi "Kapan Nikah?", "Kapan punya anak?", "kapan punya rumah? mobil?" dan kapan-kapan lainnya. It's endless.

Lalu apakah wisuda itu harus bahagia? Tentu saja, apapun yang kemudian akan terjadi di masa depan setelah wisuda, biarlah mereka tetap di masa depan yang merupakan sebuah misteri, karena mereka belum tentu terjadi. Untuk apa merisaukan sesuatu yang belum tentu terjadi? Ketika kita melihat teman, saudara, dan orang tua nampak bahagia ketika kita diwisuda, maka sepatutnya kita pun ikut bahagia, bukan karena kita merasa hebat, karena bertitel, atau mengganggap diri punya ilmu lebih.  

Ini alasanku, apa alasanmu?

Jumat, 06 November 2015

Renungan Part 52 (Aku Ingin Mejadi Manusia Apatis)

9gag.com

"Jangan jadi manusia apatis!" 
"payah... mahasiswa sekarang pada apatis!"
"apa sih apatis itu kak?"
"apatis itu tidak peduli, tidak acuh dengan keadaan sekitar... yang kamu perdulikan hanya diri kamu sendiri, kita tidak boleh begitu karena mahasiswa adalah agent of change, kita harus peduli dengan keadaan sekitar kita, dan akhirnya bisa membawa perubahan."

Kata apatis mulai kudengar semenjak mulai masuk bangku perkuliahan; apatisme berkonotasi negatif karena berhubungan dengan ketidakpedulian dan egoisme. Apa yang lebih buruk dari mementingkan pantat sendiri daripada mengutamakan kemaslahatan bersama? Kata apatisme itu adalah sebuah aib. 

Seperti halnya kebanyakan orang, kita cenderung menerima apapun begitu saja karena itu lebih mudah atau lebih menyenangkan. Tidak ada usaha konfirmasi, atau cek n ricek, tidak ada usaha memikirkan kembali, karena itu merepotkan. Sebuah berita bisa dipercaya begitu saja, lalu dishare di medsos tanpa tahu benar tidaknya, tanpa memperkirakan apakah itu memberikan dampak negatif atau tidak bagi orang lain, tak usah repot dan itu lebih menyenangkan. Begitu pula dengan kata apatis.

Mari merenungkan kembali segalanya, kali ini kita mulai dengan kata apatis. Kata ini berasal dari bahasa yunani, dan uniknya, makna kata ini dulu berbeda dengan yang sekarang. Berasal dari kata a- yang berarti "tanpa" dan pathos yang berarti "penderitaan" atau "hasrat" kata apathea (yang kini menjadi apatis) secara literal bermakna tanpa penderitaan atau hasrat. Dalam Filsafat aliran Stoik istilah ini digunakan untuk merujuk sebuah keadaan pikiran yang tidak terganggu oleh hasrat atau keinginan.

Oke... apa maksudnya ini? aku tidak ingin berbicara tentang ajaran stoik secara detail (karena tidak terlalu menguasai) tapi yang pasti poin pentingnya adalah kaum stoik merumuskan sebuah doktrin yang menyatakan bahwa seseorang itu dikatakan sebagai manusia bebas ketika dia tidak diperbudak oleh keinginan.  Kebebasan sejati terletak bukan pada pemenuhan keinginan secara gila-gilaan, justru ada pada sikap pengendalian diri di tengah-tengah godaan yang begitu besar.

Sungguh menarik, karena ketika kita hubungkan dengan ajaran budha, ada satu benang merah yang sangat kuat. Dalam budha, keinginan adalah sumber penderitaan, dan satu-satunya cara mencapai bahagia adalah mengatur sumber penderitaan itu sendiri, yaitu keinginan, atau hasrat. Berbicara masalah pengaturan hasrat, dalam islam pun dikenal puasa, yaitu ibadah yang mengatur pemenuhan hasrat dasar manusia yaitu makan, minum, dan seks. Lalu sedekah dan zakat yang menekan hasrat untuk ingin untung sendiri dan tidak mau berbagi, dan berbagai ajaran lainnya yang jika kita renungkan pasti memiliki hubungan dengan pengendalian hasrat atau hawa nafsu.

Menjadi apatis berarti tidak memarahi pasangan karena mereka tidak bertindak seperti yang kita inginkan, berarti tidak murung ketika belum punya motor seperti yang lainnya, berarti tidak iri dan dengki karena tetangga naik pangkat dan punya mobil baru, berarti tidak selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain, berarti tidak pelit membantu orang yang membutuhkan, berarti tidak larut dalam kesedihan karena dikecewakan atau gagal dalam sesuatu, berarti melawan semua hawa nafsu yang menyebabkan mudharat. 

Agak sulit mempraktekan hal ini di dunia di mana tujuan hidup manusia adalah konsumsi barang. Keinginan manusia selalu dimanjakan dengan berbagai produk, dan tidak memiliki produk itu berarti kesedihan. Pernahkan kita memikirkan apa kita benar - benar butuh barang yang kita konsumsi? alat elektronik, gadget, kendaraan, dan pakaian? "mengkonsumsi karena butuh itu pola pikir orang miskin" temanku pernah berkata. ah... begtiu besarnya pengaruh budaya konsumsi sehingga mendorong manusia memaksimalkan hasrat mereka. Lihatlah kota-kota yang mendewakan hasrat, mereka indah nan gemerlap, semua kebutuhan ada dan bahkan diada-adakan demi memenuhi hasrat manusia. Namun sepertinya ada satu hal yang tidak dapat disediakan kota itu, ketenangan batin. 

Apakah perubahan makna apatis menjadi negatif itu disengaja oleh oknum yang melihat itu sebagai ancaman bagi budaya konsumsi? Entahlah, yang pasti, Aku Ingin Menjadi Manusia Apatis.



Sumber Bacaan

McClain, Gary and Eve Adamson. (2001). The Complete Idiot Guide to Zen Living. Indianapolis: Pearson Education Company.