Jumat, 18 September 2015

Renungan Part 49 (Menjadi Manusia)

karengately.files.wordpress.com

Sewaktu kecil, aku pernah mendengar ibuku berkata padaku dengan penuh harap "sing jadi jelema". Sebuah doa yang berarti semoga nanti menjadi orang (manusia). Jujur saja, saat itu aku kurang mengerti apa maksudnya menjadi orang dalam doanya, tapi menurut lingkunganku menjadi orang artinya menggapai kesuksesan, harta, tahta, dan mungkin juga wanita, menggapai kejayaan. Aku sempat berkelakar, kalau begitu apa aku saat itu? setengah orang? atau mungkin makhluk lain, dedemit, atau mungkin binatangkah? 

Hal ini, secara tidak langsung membawaku pada sebuah pertanyaan filsafat, yang menjadi salah satu pertanyaan sophie dalam novel dunia sophie, siapa aku? pertanyaan singkat yang jika direnungi sangat dalam maknanya. Ketika kita ditanya siapa kita, umumnya kita menghubungkan pertanyaan itu dengan identitas kita. aku Toni, aku orang sunda, aku muslim, aku orang indonesia, aku mahasiswa, aku guru, aku laki-laki, dan banyak embel-embel identitas yang bisa kita tempelkan pada diri kita untuk memahami siapa aku. Tapi, sepertinya itu bukan jawaban tepat dari pertanyaan siapa aku karena setiap identitas itu bisa berubah dan tidak tetap. Nama dapat diganti, agama dan pekerjaan dapat berubah, status sosial tidaklah kekal, bahkan di zaman sekarang jenis kelamin pun bisa dirubah. Jika aku lahir di tanah pasundan, apakah itu membuatku tidak bisa menjadi orang jawa? jika aku lahir di indonesia, bukankah aku bisa mengganti kewarganegaraanku? 

Jadi siapa aku? jika embel-embel identitas tidaklah pasti, jika mereka semua itu adalah ilusi. Ya, identitas adalah ilusi, dan bahkan dapat membawa petaka jika kita percaya ilusi itu nyata. Seorang budha myanmar melukai Muslim rohingya hanya karena mereka berbeda agama. Seorang laki-laki memperkosa wanita dengan dalih si wanita memakai pakaian seksi dan menyulut nafsu kelaki-lakiannya. Orang indonesia dan Malaysia saling menghina karena berbeda kewarganegaraan. Laki-laki jawa jangan menikahi Wanita sunda hanya karena watak bawaan suku. Padahal jika kita tarik satu benang lurus dari semua itu, apalah bedanya muslim dan budha, kedua-duanya sama-sama makhluk biologis yang memliki ciri fisik sama, organ tubuh yang sama, memiliki kerinduan yang sama akan hidup damai dan penuh kasih. Yang membedakan hanyalah konsep identitas yang kita anut. Padahal sejatinya kita semua makhluk ciptaan Allah.

Menjadi manusia bagiku adalah melepas identitas. Seperti seorang sufi yang diceritakan dalam novel tentang Syekh Siti Jenar. Sang sufi selalu bergaul dengan pelacur, dan dianggap sebagai seorang pendosa oleh masyarakat umum. Syekh Siti Jenar berkata dia adalah kekasih Allah, tapi bagaimana mungkin orang yang setiap hari bergaul dengan pelacur itu kekasih Allah? dia pastinya hanya seorang lelaki pengumbar nafsu, tanya muridnya. Jenis kelamin itu tidak relevan baginya, sehingga kalaupun dia berada dalam satu ruangan dengan beberapa wanita cantik jelita yang telanjang, kesuciannya tidak akan pernah ternoda, jawab Syekh Siti Jenar. Sang sufi adalah manusia yang telah melepas identitasnya sebagai lelaki, berikut embel-embel kelaki-lakiannya. Oleh karena itu Cak Nun pernah mengajak jemaah maiyahan untuk menjadi manusia dulu sebelum menjadi laki-laki atau perempuan. Sehingga tidaklah perlu hijab yang memisahkan laki-laki dan perempuan, karena sang lelaki tidak melihat wanita dalam balutan nafsu kelaki-lakiannya, tapi melihat mereka sebagai sesama manusia, sama seperti dirinya. Kelebihan manusia adalah akal dan nurani, seorang manusia tidak akan menyakiti orang lain karena itu berlawanan dengan nurani yang memiliki percikan Ilahi. Oleh karena itu, seorang laki-laki yang menyadari kemanusiaannya tidak akan berbuat buruk pada wanita lain sekalipun wanita itu memakai pakaian seksi, karena ia sadar, perbuatan buruk itu berlawanan dengan  nuraninya. 

Jadi siapa aku? aku hanyalah seorang hamba Allah, dari milyaran hamba lainnya. Tugasku adalah mendekati-Nya, menggapai kemanusiaan yang hakiki. Dalam tradisi Zen, hal ini disebut dengan menyadari jati diri sejati kita. Oleh karena itu, mari sama-sama berusaha menjadi manusia.


Minggu, 06 September 2015

The Last of Us (Part 8): Book of Madness


Apa yang membuat dunia ini lebih baik? Santi selalu memikirkan hal tersebut sejak kecil. Seseorang pernah berkata padanya bahwa cinta membuat dunia ini indah. Tapi sudah lama sekali dia tidak percaya akan cinta, orang yang seharusnya mencintainya adalah orang yang paling ia benci. Sang ayah tiri mungkin punya cara sendiri dalam menunjukan cinta kepada Santi, atau mungkin memang dia tidak pernah mencintai Santi. bagaimanapun, dia lah penyebab penderitaan Santi. Pada intinya, Santi kecil tidak pernah mengecap kasih sayang orang tua sebagaimana anak lain. Terutama setelah sang ibu meninggal saat Santi berumur 7 tahun, cinta seakan tidak mau mendekatinya.

Mencari kehangatan cinta dari lawan jenis juga merupakan sebuah kesalahan. Ketika SMA, Santi pernah dekat dengan seorang teman laki-lakinya, dia sangat manis, sangat perhatian, dan selalu ada untuk Santi, setidaknya sampai ia mengutarakan keinginannya untuk bercinta dengan Santi dan ditolak. Memang sudah menjadi sifat kebanyakan manusia untuk melakukan sesuatu atas dasar keuntungan yang didapat. Dan menurut Santi, itu bukan cinta, itu adalah bisnis, jual beli, atau barter. Kita melakukan sesuatu untuk orang lain dengan harapan akan menerima imbalan atas tindakan kita. Menurut Santi mereka adalah sampah.

Santi terduduk merenung, ini adalah hari ke-20 ia dan Bayu bertahan hidup. Mereka telah berjalan jauh dari rempoa menuju Bogor, sepanjang jalan yang mereka temui hanyalah manusia rabies, tidak ada satupun manusia yang mereka temui. Santi tidak percaya mereka masih mampu bertahan selama ini. Strategi utama untuk dapat bertahan adalah dengan tidak menghadapi para manusia rabies itu dalam jumlah banyak, sehebat apapun dirimu, dikeroyok manusia rabies adalah akhir hidupmu. Untungnya mereka tak berakal, Santi dan Bayu dapat dengan mudah memanfaatkan kelemahan mereka itu.

“Bayu... Kenapa kau begitu mencintai kekasihmu itu?” Santi melempar kayu kering ke perapian untuk menambah kayu bakar.

“Kenapa kau ingin tahu?”

“Aku hanya tidak mengerti apa itu cinta, apa yang membuat orang lain rela melakukan banyak hal demi orang lain, apa yang membuat seseorang depressi karena kehilangannya.”

“Maksudmu aku depressi sekarang?” Bayu memicingkan matanya.

“orang waras mana yang tahan bergaul denganku?”

“Orang waras yang terjebak di dunia gila seperti ini.” Bayu menghela nafas, memandang langit yang ditaburi bintang, tanda malam itu sepertinya tidak akan turun hujan. Bayu lebih senang tidak hujan, dengan begitu dia bisa tidur dekat perapian seperti ini, hangat... mengingatkan dirinya akan pelukan winda.

“Cinta adalah perasaan kasih sayang, ketika kau mencintai seseorang, kau tidak ingin dia terluka, kau hanya ingin dia bahagia.”

“hm... lalu kenapa kau mencintai winda?”

“entahlah... aku tidak tahu..”

“bukan karena kecantikannya? Laki-laki biasanya melihat fisik kan?”

“awalnya... tapi semakin kupikir semakin aku tidak tahu, kenapa aku mencintainya.” Bayu merebahkan dirinya, menggunakan ransel sebagai penyangga kepala. “bisakah kita tidak membicarakan ini?”

“maaf... aku tidak bermaksud mengingatkanmu.” Santi beranjak dari duduknya menuju sebuah sungai kecil yang terletak beberapa meter dari perapian mereka. Saat air mineral mereka habis, air dari sungai adalah pilihan terbaik. Belum ada keluhan sakit perut yang dirasakan, sepertinya air sungai memang tidak sekotor yang orang pikirkan, atau mungkin karena para manusia yang mengotori air sungai kini sudah hampir punah?

“jangan bergerak!” sebuah moncong senjata menempel di dahi santi. seorang laki-laki muda menodongkan senapan AK-47 di samping Santi. “ikuti kata-kataku maka kau akan selamat!” si lelaki membentak.

“berapa umurmu nak?! Sudah berani memegang senjata!” Santi balas membentak. Si pemuda nampak kaget.

“Jangan banyak bicara! Kalau tidak kau akan kutembak!”

“oh.. ya? Pernah menembakan senjata sebelumnya?” Santi memandang tajam, si pemuda nampak ragu dan gugup. Dengan cepat santi memegang moncong senapan itu dan menariknya, membuat si pemuda terhuyung ke arah santi yang segera melayangkan sikut ke dagu si pemuda. Ia jatuh tak sadarkan diri. Santi segera berlari ke perapian, namun terlambat, beberapa lelaki yang juga memegang senapan AK-47 telah mengepung perapian, mereka membuat bayu berlutut sambil mengangkat tangannya. Setelah berhari-hari tidak bertemu manusia, ini adalah keadaan yang benar-benar tidak santi harapkan.

“Apa yang kalian inginkan?” Tanya Santi.

“Kami ingin makanan yang kalian miliki.” Jawab seorang laki-laki gondrong bertubuh ceking yang berdiri di belakang bayu. “dan dirimu....” Ia menyunggingkan senyum memperlihatkan giginya yang kuning karena terlalu banyak merokok.

“Apa?”

“Kami sudah lama tidak menemui wanita secantik dirimu, apalagi sejak semua manusia berubah menjadi monster, rasanya dunia ini membosankan. Jika kau mau menghibur kami, kau dan kekasihmu ini kami biarkan hidup, bagaimana?”

Santi memandang sekeliling, ada lima laki-laki bertubuh besar mengepung mereka, empat orang menenteng senapan sementara satu lagi hanya memegang sebilah golok panjang yang dipenuhi darah, sepertinya darah para manusia rabies. Mereka semua mengenakan baju yang sama, apakah mereka... Santi mengenal baju itu.

“membiarkan kami hidup? Memangnya kalian bisa membunuhku?” ejek santi.

“wanita sialan, kau pikir siapa dirimu? Baiklah jika tak bisa dengan jalan halus, Sentot, Paijo, pegangi dia!” dua laki-laki segera mendekati santi mencoba menangkap tangannya, tapi santi segera mengelak dan menendang laki-laki di sebelah kanan hingga ia terlempar. Lelaki lainnya mencoba memukul wajahnya, tapi santi menangkis dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya mengambil karambit yang tersembunyi di pinggang dan langsung merobek leher si lelaki dalam kecepatan tinggi, ia rubuh tanpa tahu apa yang terjadi dan darah terus mengalir dari lehernya. Ia menggelepar dan bersuara seperti orang tersedak bak ayam yang baru saja disembelih. Melihat itu, keempat temannya segera menjauh dan menodongkan senjata mereka, tangan mereka gemetar melihat kejadian tersebut. Karambit memang senjata efektif dalam pertarungan jarak dekat, karena musuh yang tidak jeli tidak akan melihatnya dan mengurangi kewaspadaannya. Selain itu, daya rusaknya pun besar, terutama jika mengenai bagian vital seperti urat nadi. Dengan ketajaman yang luar biasa, karambit Santi adalah senjata mematikan yang tersembunyi.

“bajingan! Apa yang kau lakukan!!?” teriak si lelaki gondrong.  “kau mau mati!?”

“mati? Kalian mengacungkan senjata yang tidak ada pelurunya kepadaku, kurasa kalian yang mau mati!” Santi memasang kuda-kuda.

“kenapa dia bisa tahu?” bisik seorang laki-laki kepada temannya. Kini keraguan nampak di wajah mereka. “bagaimana dia bisa melakukan itu?” bisik laki-laki lain.

“kalian hanya cecunguk kecil, penjahat kelas teri, nyali kalian hanya sejauh menggertak dan menindas orang lemah. Kalian adalah sampah yang harus kubersihkan.” Santi segera menerjang dua orang yang berada di dekatnya, tanpa perlu waktu lama, kedua orang tersebut rubuh dengan leher dan tangan bersimbah darah. Sadar bahwa senjata mereka tidak berpeluru, bayu segera menghajar lelaki gondrong di belakangnya. Sementara dua lelaki lain akhirnya meregang nyawa di tangan Santi.

“Tolong berhenti!! Aku menyerah!” si lelaki gondrong yang telah babak belur bersujud di depan Bayu yang langsung menghentikan tendangannya. “tolong jangan bunuh aku, kami hanya mencoba bertahan hidup... tolong mengerti..” Bayu terdiam.

“habisi dia bayu! Kata-kata mereka hanyalah kebohongan! Mereka adalah narapidana, sampah masyarakat, mereka tidak berhak untuk hidup!” Santi memprovokasi.

“Tolong.. ampuni aku..” Si lelaki gondrong menatap mata bayu, air mata nampak menetes dari sudut matanya. Tatapan mata itu mengingatkan bayu akan mimpi buruk yang membuat tidurnya tidak nyenyak selama ini. “Pergilah...” ujar bayu pelan.

“te.. terima kasih...” si lelaki gondrong dengan susah payah berdiri dan lalu berbalik untuk pergi. CRASS!!

Tubuh si lelaki gondrong rubuh dengan sebilah golok tertancap di kepalanya, golok yang beberapa hari ini menyelamatkan bayu dari gigitan manusia rabies. “Apa yang kau lakukan?!” Teriak Bayu.

“Kau Salah... Mereka tidak pantas hidup. Mereka adalah penjahat, sampah masyarakat, mereka berbuat jahat bukan karena terpaksa, tapi karena mereka suka! mereka seperti Adi yang kau bunuh tempo hari!”

“Adi?” Bayu memejamkan matanya. “Apa kau pernah dihantui rasa bersalah Santi? Setelah merenggut nyawa seseorang, di setiap tidurmu, mereka selalu datang lalu tanpa kau sadari ketika melihat mereka kau mulai merasakan sakit di hatimu, kau mulai berpikir, kenapa aku melakukan itu?”

“Apa yang kau bicarakan?”

“Adi memang manusia jahanam! Tapi membunuhnya adalah kesalahan, karena Winda tidak akan bisa kembali walau dia kutusuk beratus-ratus kali, apa yang tersisa setelah itu? Hanya rasa sakit, dan menyesal.”

“Menyesal? Kau harusnya bangga mereka adalah orang yang hatinya busuk, keberadaan mereka adalah ancaman bagi masyarakat, melenyapkan mereka adalah tindakan mulia!” santi menaikan nada bicaranya.

“kau tahu orang yang melakukan sodomi? Ketika ditelusuri, umumnya mereka adalah korban ketika mereka kecil.”

“apa hubungannya?”

“manusia tidak menjadi busuk tanpa alasan, ketika aku melihat bahwa sebenarnya setiap manusia memiliki sisi baik dan buruk, aku merasa tidak pantas merenggut nyawa orang lain karena dasar penghakimanku yang subjektif terhadap orang lain. Aku merasa sakit. Tidak kah kau merasakan itu?” bayu menyentuh pundak Santi.

“Aku sangat tidak setuju denganmu.” Santi menggelengkan kepala seraya berjalan menjauh dari bayu.

“kurasa inilah kenapa kau tidak dapat memahami cinta, santi.” Bagi bayu, memahami orang lain adalah kunci dari mencintai, karena cinta bukan tentang diri sendiri, seseorang harus mampu melakukan empati, melihat dan merasa dari sudut orang lain untuk dapat memahami cinta yang tulus. 

Kini, ia merasakan kerongkongannya sangat kering, dengan botol minum kosong, ia berjalan ke arah sungai untuk mengambil air, namun langkahnya terhenti karena ia melihat sesosok manusia bergerak di pinggir sungai, seorang remaja yang nampaknya baru sadar dari pingsan. Melihat bayu mendekat, si pemuda segera mengambil AK-47 yang tergeletak dan menodongkannya pada bayu.

“Jangan bodoh, kami tahu senapan itu tidak berpeluru.” Bentak santi yang kini berada di belakang bayu. Si remaja, nampak gugup ketakutan, ia menurunkan senapannya, air mata mengalir deras. “aku... minta maaf....” kata-katanya meluncur dibalik tangisan.

“hey.. Santi, bagaimana kau tahu senapan mereka tidak berpeluru?”

“kliwon yang memberitahuku,” jawab santi sambil berjalan mendekati si remaja meninggalkan bayu yang mengerutkan dahinya.

Selasa, 25 Agustus 2015

Renungan Part 48 (Synthesized Happiness vs Natural Happiness)

psychcentral.com


Kebahagiaan adalah sesuatu yang paling diinginkan di dunia ini, tak seorang pun manusia yang mau hidup dalam penderitaan dan kesedihan. Kebahagiaan memberikan rasa senang, aman, nyaman, dan gembira dalam hati. Kebahagiaan adalah sesuatu yang abstrak, tapi setidaknya aku bisa memberi contoh keadaan yang dapat memberikan perasaan bahagia. Aku merasa bahagia ketika: ayahku membelikan sepeda idamanku saat masih kecil; aku mendapat ranking pertama di sekolah dan membuat ibuku bangga; aku diterima di Universitas negeri; aku mendapat IPK yang cukup tinggi; perempuan yang kusukai akhirnya menerima cintaku; aku mendapat uang beasiswa dan mampu membeli laptop tanpa meminta kepada orang tua.

Itu adalah beberapa contoh keadaan yang telah membuatku merasa bahagia, dan berikut ini adalah keadaan yang kurasa akan membuatku bahagia. Aku akan merasa bahagia ketika: dapat melanjutkan studi ke luar negeri; mendapatkan pekerjaan dengan gaji besar; dapat menikahi seorang wanita cantik; dapat membeli sebuah rumah yang besar, sebuah mobil, dan beberapa barang lainnya yang membuat orang lain kagum denganku.

Ketika kupikir kembali, semua keadaan yang kuanggap dapat membuatku bahagia dan yang sudah kurasa membuatku bahagia, berpusat pada mendapatkan apa yang kuinginkan. Aku seringkali merasa sedih ketika ada hal-hal yang kunginkan tidak kudapatkan. Dalam beberapa kasus, ada orang-orang tertentu yang mengalami depresi ketika hal yang mereka inginkan tak kunjung didapat, atau mereka sudah mendapatkannya tapi kemudian tiba-tiba hilang terenggut oleh suatu hal. Tak sedikit yang menjadi gila karenanya, dan aku harus bersyukur walau banyak keinginan tak terpenuhi aku tak kunjung gila. Aku berpikir, inikah kebahagiaan sejati? Aku ragu, karena daftar keadaan yang telah membuatku merasakan kebahagiaan hanya mampu membuatku bahagia dalam waktu yang relatif singkat. Setelah seminggu, atau satu bulan, rasa bahagia itu lenyap, dan aku pun berfokus pada keinginanku selanjutnya untuk bisa merasa bahagia kembali.

Mendapatkan apa yang kita inginkan adalah definisi dari natural happiness atau kebahagiaan alami. Itulah yang dikatakan seorang ilmuwan Amerika bernama Dan Gilbert dalam pidatonya di TED (bisa dilihat di Youtube, channel TED, link terlampir). Ini adalah jenis kebahagiaan yang sangat umum orang pahami. Iya kan? Tapi, tidak mendapatkan yang kita inginkan, ataupun mendapat hal yang sangat kita tidak inginkan, kedua-duanya dapat membuat seseorang bahagia. Benarkah itu? Dan Gilbert membuktikannya dengan data dari sebuah penelitian.  

Ada dua kelompok orang, yang pertama adalah kelompok orang yang memenangkan lotere sebesar 314 juta dolar, dan yang kedua adalah kelompok orang yang menjadi lumpuh, tidak bisa berjalan selama-lamanya. Mari berpikir, manakah yang bahagia dan mana yang sedih bahkan depresi? Tak perlu waktu lama, kita biasanya langsung menjawab (dengan keyakinan) bahwa kelompok pertama pasti bahagia, dan kelompok kedua pasti sedih dan depresi. Orang gila mana yang tidak bahagia ketika tiba-tiba menjadi milyuner dadakan? Dan siapa pula yang tidak sedih setelah kehilangan kemampuannya untuk berjalan? Untuk sesaat jawaban itu tepat, tapi setelah kurun waktu satu tahun, penelitian menunjukan bahwa kedua kelompok itu sama – sama bahagia. Loh... bagaimana mungkin?

Ini adalah jenis kebahagiaan yang kedua. Seorang penulis dan motivator, Gobind Vashdev, mengatakan bahwa kebahagiaan itu datangnya dari dalam hati, bukan dari benda atau hal yang kita dapat. Happiness from the inside. Bahkan situasi terburuk yang kita alami pun bisa menjadi sumber kebahagiaan, yang perlu dilakukan adalah hanya merubah sudut pandang kita akan suatu kejadian. Kalau dalam ajaran zen yang pernah kubaca, sebuah kejadian itu netral adanya, tidak baik ataupun buruk, pikiran kitalah yang menjadikan itu baik atau buruk. Bayangkan seseorang membuang ludah tepat di depan kaki kita, apa yang kita rasakan? Marah? Tersinggung? Kenapa kita merasa begitu? Karena dalam pikiran kita meludahi adalah tanda menghina. Tapi di sebuah suku pedalaman afrika, meludahi adalah tanda salam seperti halnya berjabat tangan ketika bertemu. Mereka tidak akan marah diludahi, justru mereka tersenyum. Apa yang berbeda antara kita dan mereka? cara memaknai sebuah tindakan meludah. Ludah itu netral tidak baik atau buruk, pikiran kitalah yang memberikan label itu.

Dari kecil, guru mengajiku selalu mengajarkan untuk mengambil hikmah dari segala musibah. Ini adalah cara lain untuk merubah sudut pandang dari negatif ke positif. Ada sebuah kisah terkenal yang menggambarkan bagaimana suatu musibah sebenarnya akan memiliki hikmah yang baik. Pada zaman dahulu kala, ada seorang raja yang senang berburu. Setiap kali ia berburu ia pasti ditemani oleh penasihatnya. Suatu hari terjadilah sebuah kecelakaan ketika sedang berburu dan dia kehilangan jari kelingkingnya, sang raja sedih luar biasa, tapi si penasihat berkata "janganlah bersedih tuan raja, kejadian ini pasti ada hikmahnya." mendengar kata-kata itu sang raja marah dan menjebloskan dia ke penjara. Beberapa waktu kemudian, Raja kembali berburu, namun sialnya, hari itu dia dan rombongan ditangkap oleh sebuah suku pedalaman yang masih primitif. Para tawanan akan dijadikan persembahan dewa dengan cara direbus hidup-hidup, namun ketika sang kepala suku melihat bahwa raja tidak punya kelingking dia pun dibebaskan karena persembahan haruslah manusia sempurna tanpa cacat. Akhirnya sang raja kembali ke istana dan menemui penasihatnya di penjara. "kau benar wahai penasihat, jika saja aku masih punya kelingking, aku pasti sudah mati direbus suku pedalaman itu. aku sangat menyesal dan meminta maaf telah memenjarakanmu" sang penasihat pun tersenyum dan berkata. "aku senang tuan raja akhirnya mendapatkan hikmahnya, dan aku pun senang tuan raja memenjarakan aku." Sang raja kaget. "kenapa kau malah senang kupenjarakan?" si penasihat menjawab. "jika tidak dipenjarakan, aku pasti menemani anda berburu, dan sudah dipastikan aku akan mati direbus suku pedalaman itu."

Dan Gilbert menyebut jenis kebahagiaan ini dengan isttilah synthesized happiness, atau kebahagiaan yang dibuat pikiran dengan melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda atau dengan mengambil hikmah suatu kejadian yang tidak kita suka. Jadi tak perduli situasi apapun yang kita alami, kita tetap bisa bahagia. Alat ini sebenarnya sudah ada dalam tubuh manusia, hanya saja kebanyakan manusia tidak menyadarinya sehingga tidak mengoptimalkan fungsinya.

Lalu mana yang lebih baik? natural happiness  ataukah  synthesized happiness? mana yang merupakan kebahagiaan sejati? 

Sebagian orang melihat bahwa synthesized happiness adalah sebuah bentuk pelarian atas kegagalan mendapatkan natural happiness. Itu hanya usaha menghibur diri bahwa sebenarnya kita gagal dan tidak berhasil. Secara pribadi, aku sangat tidak setuju dengan anggapan ini, karena pandangan ini menurutku dipengaruhi kuat oleh cara pandang bahwa materi mendatangkan kebahagiaan. Bayangkan sebuah masyarakat yang selalu merasa cukup dan bersyukur atas apa yang mereka punya, maka iklan tidak akan berguna, mall tidak akan ramai, dan para perusahaan besar akan bangkrut. Karena sadar atau tidak, para perusahaan besar menggunakan natural happiness untuk mendongkrak penjualan. Ini sangat terlihat di iklan. "Anda tidak akan bahagia jika tidak berkulit putih, karena orang-orang tidak suka yang berkulit hitam, belilah produk pemutih kami". Natural happiness sangat menguntungkan gaya hidup konsumtif, yang kemudian menguntungkan pengusaha rakus. 

Sedangkan synthesized happiness dianjurkan oleh para sufi. Mencari kebahagiaan dari dalam hati kita, hati yang merupakan kuil Tuhan. Di sanalah tempat kebahagiaan sejati, karena kita diajarkan untuk bersyukur, berprasangka baik, dan tetap bersikap positif dalam keadaan seburuk apapun. Satu hal yang pasti di dunia ini adalah keburukan atau musibah tidak akan pernah hilang di dunia, itu adalah hukum alam yang pasti dialami setiap manusia, jadi cara terbaik untuk bahagia bukanlah menghindarinya, tapi menerimanya dengan tangan terbuka dan pikiran positif. Menurutku, itulah kebahagiaan sejati.      

link Channel TED Dan Gilbert di youtube:
https://www.youtube.com/watch?v=4q1dgn_C0AU

Minggu, 23 Agustus 2015

Renungan Part 47 (Food Bank: Skandal Negara Kaya Raya?)

cmsimg.coloradoan.com

Pernahkah mendengar istilah food bank? Istilah ini memang sepertinya tidak atau mungkin belum populer di Indonesia. Food bank adalah organisasi amal non profit yang membagikan makanan pada orang-orang yang kesulitan membeli makanan agar tidak kelaparan. Dari yang kubaca, fenomena food bank ini semakin populer di Inggris dan Amerika Serikat sejak tahun 2000an, terutama setelah krisis melanda dua negara kaya tersebut. Bahkan di Inggris, food bank menjadi sebuah kontroversi karena semakin banyak muncul dan mulai dipolitisasi oleh oposisi untuk menunjukan gagalnya pemerintah Inggris mensejahterakan rakyatnya.

Oke, Inggris dan Amerika adalah negara kaya raya dalam pandangan kita. Bagi kita yang tak pernah menginjakan kaki ke sana, yang kita tahu tentang mereka adalah sebuah negara makmur sentosa. Kehidupan mereka lebih baik dari kita dalam hal ekonomi dan banyak aspek lainnya. Kelaparan di kedua negara tersebut adalah sesuatu yang tak masuk akal. Tapi kenapa food bank menjamur? Dan katanya, semakin banyak orang datang ke food bank, walaupun mereka harus menahan rasa malu (siapa yang tidak malu dengan meminta-minta seperti itu, oh... sepertinya orang indonesia tidak malu). Kelaparan mereka tentunya bukan seperti busung lapar yang pernah terjadi di Indonesia, mereka hanya tidak punya uang untuk membeli makanan, dan tidak ada orang atau keluarga yang dapat membantu, maka food bank adalah solusinya. Menjamurnya food bank, bisa menjadi tanda bahwa orang-orang seperti itu makin banyak di sana.

Aku penasaran, warga negara kaya raya seperti apakah yang terpaksa harus datang ke food bank? Sangat beragam, salah satu artikel di guardian.com menyebutkan ada seorang wanita yang ditinggalkan suami dan menanggung dua anaknya, dia baru dapat pekerjaan, tapi dia baru dapat gaji sebulan kemudian, jadi selama 30 hari itu dia tidak punya uang untuk makanan. Food bank adalah solusinya. Kemudian, ada mantan tentara yang sakit-sakitan karena obat yang dia minum seharusnya diminum setelah makan, tapi dia tidak punya uang untuk membeli makan. Lalu, seorang wanita yang mendapat kdrt di rumahnya, sehingga dia harus kabur dari rumah, depresi yang dialaminya membuatnya sakit-sakitan, dan memaksanya berhenti bekerja. Akhirnya dia harus ke food bank karena tidak punya uang sedikitpun, bahkan dia tinggal di tempat penampungan orang tak punya rumah. Dan masih banyak alasan lainnya orang-orang pergi ke food bank, untuk tetap bertahan hidup.

Miris, di negara yang kaya raya hal seperti ini dapat terjadi. Kebijakan pemerintah mensejahterakan rakyat mereka pun dipertanyakan, tentu ada yang salah di situ sehingga fenomena ini terjadi. Mungkin mereka bukan negara kaya, tapi negara yang sebagian kecil penduduknya kaya raya, tapi sebagian lainnya sama saja dengan kita, untuk makan saja susah. Kesenjangan ekonomi sungguh besar. Kelaparan yang terjadi bukan karena tidak ada makanan, justru banyak makanan terbuang begitu saja dari industri makanan. Masalahnya adalah masyarakat tidak punya uang untuk membeli makanan itu. Menurut Robin Aitken, salah satu pendiri Oxford Food Bank, solusi masalah kelaparan ini adalah membuat sistem yang memanfaatkan surplus makanan untuk menambal kekurangan makanan. Robin menambahkan bahwa di banyak supermarket, pelanggan diajak membeli lebih banyak untuk disumbangkan ke food bank, ketika banyak pelanggan melakukan itu maka supermarket mendapatkan banyak untung. Ironisnya, pelanggan tidak tahu bahwa supermarket membuang makanan yang tak terjual. Jika supermarket memang serius ingin bersama-sama menanggulangi kekurangan makanan, kenapa mereka melakukan itu? Karena mereka sebenarnya tidak perduli dengan kelaparan, mereka hanya perduli dengan keuntungan. Biasalah... Kapitalis. Ya... jika kita perhatikan, Inggris dan Amerika adalah dedengkotnya negara kapitalisme, dan food bank mungkin muncul sebagai salah satu efek dari efek buruk kapitalisme: Kesenjangan Pendapatan.

Miris lainnya adalah orang-orang datang ke food bank karena tak ada orang terdekat yang membantu mereka. Di tatanan masyarakat barat yang mandiri dan individualis, bahkan keluarga pun tidak selalu ada bagi semua orang ketika dalam kesusahan. Bisa jadi karena memang keluarga mereka tidak bisa diharapkan, atau memang mereka tidak punya keluarga. Kurasa ini efek negatif menurunnya kesakralan pernikahan dan membangun keluarga. Mereka bisa saja punya anak tanpa ada pernikahan. Di Indonesia, Masyarakat betawi khususnya, keluarga terbiasa tinggal saling berdekatan. Sehingga ketika mendapat masalah, ada sanak famili yang dapat membantu. Di Barat, kemandirian mereka, dan sistem keluarga inti, biasanya membuat keluarga tinggal saling berjauhan, bahkan mungkin ada saja orang yang tidak kenal nenek, paman, atau bibinya. Ketika mereka kesulitan, siapa yang dapat membantu?

Lalu kemana tetangga mereka? mungkin ini juga ekses negatif dari individualistis masyarakat modern. Kebersamaan sepertinya jauh dari kenyataan, karena tiap orang hanya mengurusi urusan masing-masing, sibuk dengan masalah masing-masing. Aku pernah mendengar ceramah seorang ustadz yang berkata bahwa muslim yang baik tidak akan berkenyang-kenyang sementara tetangga terdekatnya tidak bisa makan sama sekali. Mereka kan bukan muslim... tidak kah kita mulai merasakan hal yang sama mulai terjadi di lingkungan kita yang muslim? Barat adalah kiblat kemajuan, kita mengikuti mereka termasuk ke hal yang negatif sekalipun. Jangan suudzon.... mungkin tetangga mereka pun sama-sama susah makan dan pergi ke food bank.

Menonton video dokumenter dari channel VICE di Youtube tentang salah satu food bank di Newcastle, Inggris, membuatku bersyukur bahwa sampai hari ini aku tidak pernah meminta makan pada badan amal seperti itu (di Indonesia kan memang belum ada food bank). Melihat orang inggris hidup tanpa listrik, bukan karena pemadaman tapi karena tidak mampu membayar, membuatku bersyukur aku masih mampu membayar dan menikmati listrik walau beberapa waktu terjadi pemadaman oleh PLN. Nun jauh disana, di negara kaya raya, kemiskinan pun tetap ada, mereka miskin bukan karena tidak ada sumber daya yang tersedia untuk mereka nikmati, tapi karena mereka tidak punya uang untuk membeli sumber daya itu. Akankah  keadaan ini terjadi di Indonesia?


Sumber bacaan
http://www.theguardian.com/commentisfree/2015/apr/23/food-bank-poverty-benefits

http://www.telegraph.co.uk/foodanddrink/10517718/Food-banks-the-unpalatable-truth.html

http://www.theguardian.com/society/2015/aug/20/food-bank-users-suffer-more-from-shame-than-from-hunger

http://www.mirror.co.uk/news/uk-news/one-five-doctors-sending-patients-6302670

Channel VICE di Youtube tentang food bank

https://www.youtube.com/watch?v=OIWARrp_A68

Jumat, 21 Agustus 2015

Renungan Part 46 (Awas Bahaya Laten Komunisme!!)

static.pulsk.com

Apa yang kita pikirkan ketika mendengar PKI? umumnya yang muncul dalam benak kita adalah kekejaman, pembunuhan, pemberontakan dan ateisme. Orang-orang PKI itu kejam, mereka membunuh para ulama, mereka ateis, dan mereka pemberontak. Yang kutahu, kelompok komunis di indonesia sudah melakukan tiga kali pemberontakan, yakni di tahun 1926 (pada zaman ini Indonesia belum terbentuk, jadi kelompok komunis ini memberontak pada pemerintahan Hindia Belanda. Jadi, aku bingung, mereka seharusnya dilabeli pejuang kemerdekaan kan ya? kenapa pemberontak?), di tahun 1948, dan yang terakhir sekaligus yang menjadi akhir kehidupan kelompok ini di Indonesia yaitu di tahun 1965, yang kita kenal dengan nama G 30 S PKI. Aku tidang ingin membahas sejarah dari versi manapun, aku hanya ingin mengenal komunisme yang menjadi dasar PKI.

Baru - baru ini berita tentang PKI sering terdengar karena beberapa insiden. contohnya, isu presiden akan meminta maaf pada keluarga PKI. Banyak sekali yang menentang, terlihat sekali bagaimana masyarakat sepertinya sangat membenci sekaligus takut dengan partai dan ideologi komunis. Tak aneh, dari kecil aku saja sudah dicekoki video pembantaian jenderal oleh PKI, di pelajaran sejarah pun aku belajar itu. Kata mereka, generasi penerus harus tahu bagaimana kejinya mereka, dan oleh karena itu Komunisme tidak akan pernah muncul lagi di Indonesia, haram hukumnya! PKI memang menyeramkan, melihat benderanyan saja aku takut, Palu dan Arit, jangan-jangan itu lambang kekerasan mereka. Yang tak suka ditebas lehernya dengan arit, dan yang tak setuju dipalu otaknya.

Tapi kita seringkali tidak kritis dalam memahami suatu hal, menelan begitu saja apa kata orang. Kita tidak meluangkan waktu membaca, dan mencari tahu akan suatu hal secara objektif, dari berbagai sudut pandang, tapi kita berkoar-koar, bahkan mencaci yang tidak sependapat seakan-akan kita ini yang paling benar. Padahal pengetahuan secetek kubangan air. Karena aku tidak mau termasuk pada orang - orang seperti itu, maka kuputuskan untuk mencari tahu lebih tentang komunisme.

Komunisme
Apa itu komunisme? gampangnya begini, komunisme berasal dari kata communal, artinya bersama-sama, dibagi bersama, jadi komunisme ya paham untuk saling berbagi. Kalau kamu senang berbagi sesuatu yang merupakan milikmu dengan orang lain, berarti kamu komunis. Serius? Lah iya... komunisme itu adalah hasil pemikiran Karl Marx, seorang filosof eropa yang lahir di Jerman pada tahun 1818. Komunisme lahir karena Marx melihat penindasan kaum berduit (borjuis) terhadap para buruh (Proletar) di zaman itu. Dia melihat bahwa para kapitalis, pemilik perusahaan, hanya mengeksploitasi tenaga buruh, sehingga ada kesenjangan yang besar antara kaya dan miskin. Komunis hanya ingin membuat semua orang itu sejahtera, tanpa ada kesenjangan seperti itu dengan saling berbagi. Makanya di salah satu mantan negara komunis kepemilikan pribadi itu tidak diakui, semuanya milik pemerintah, dengan begitu ego individu dapat ditekan dan pemerintah dapat membagikan kesejahteraan secara merata.

Dari situ kita bisa melihat bahwa sebenarnya Komunis itu pada dasarnya tidak menyeramkan, justru membela kaum yang lemah. Tapi kenapa sepanjang sejarah komunis itu selalu diwarnai pemberontakan dan darah? menurutku, ini karena komunis percaya untuk mencapai utopia kesejahteraan merata itu lewat pergantian sistem pemerintahan secara radikal. Sistem demokrasi kita sekarang contohnya, hanya kaum borjuislah yang pasti akan berkuasa, kenapa? kita memang melakukan pemilihan langsung, rakyat yang memilih langsung, tapi kita semua tahu bahwa uang dapat membeli apapun, termasuk suara rakyat. Siapa yang memiliki uang segitu banyak? ya para kapitalis.... sementara itu pejuang komunis umumnya tidak memiliki banyak uang (karena senang berbagi... hehe). Jadi, perjuangan lewat jalan pemilu itu sia-sia, para kapitalis yang pasti menang, dan kemudian pemerintah dapat dengan mudah dipelintir kapitalis demi keuntungan mereka. Jauhlah mimpi kesejahteraan bersama itu dapat terwujud, karena para kapitalis tidak suka ide itu, mereka egois dan hanya ingin untung sendiri. Jadi bagaimana solusinya? Berontak!! Gulingkan pemerintahan secara paksa!!

Komunis itu Ateis
Aku melihat bahwa keparnoan beberapa kalangan umat islam terhadap komunisme itu karena mereka anti tuhan. Benarkah? hm... bisa saja, kalau kita sangat mengagumi Karl Marx, tanpa mau mengkritisi. Karl Marx sendiri berkata bahwa agama itu candu, jelaslah bagi kita bahwa dia adalah seorang ateis, kafir jahanam! Eits... bagiku jelas pula dia ateis, dia hidup di Eropa pada zaman dimana ilmu pengetahuan dijunjung melebihi tuhan, berapa banyak filosof atau ilmuwan barat yang tidak percaya tuhan? banyak sepertinya... coba kalau Karl Marx besar di jombang, kemudian pesantren di Tebu Ireng dan kuliah di IAIN Ciputat, pasti yang lahir dari pemikirannya bukan agama itu candu, tapi agama itu obat segala penyakit. Bukan pula komunisme yang dia dengungkan tapi Islam Liberal, atau jihad fi sabilillah. Dari latar belakangnya saja, sudah jelas dia tidak punya hubungan mesra dengan agama. Selain itu, alasan lain dia bilang agama itu candu adalah karena menurutnya agama mengajarkan untuk bersabar dan menerima takdir baik buruknya. Semua itu dari Tuhan, jadi kita terima dan bersabar saja. Ini adalah mental yang tidak baik, seorang komunis harus tidak mau menerima perlakuan buruk si kapitalis yang mengeksploitasinya, komunis harus melawan! Ajaran menerima takdir ini seringkali disalahgunakan oleh para kapitalis untuk mempertahankan ketundukan para buruh, dan sangat ampuh. Oleh karena itu, ada beberapa pemerintah dunia yang dengan sengaja menggandeng pemuka agama untuk melanggengkan kekuasaan. Dengan adanya pemuka agama di pihak mereka, rakyat yang tertindas tidak berani melawan, karena melawan sama saja dengan melawan agama, melawan tuhan, kafir jahanam! Pantas dibunuh! Oleh karena itu, agama bisa saja menjadi rintangan dalam membentuk masyarakat komunis.

Dari hasil bacaan yang sedikit ini, saat ini aku menyimpulkan bahwa membenci komunisme karena tindakan PKI itu sama seperti masyarakat Barat membenci islam karena tindakan Teroris. Kita sebagai umat islam akan berteriak "itu bukan islam yang sebenarnya! kau tidak tahu apa itu islam jangan asal tuduh!". Mungkin tindakan PKI, dan Komunis di negara lain hanya mencerminkan sisi buruk komunisme, atau mencerminkan salah tafsir akan ajaran komunisme (namanya juga konsep bikinan manusia, tak ada yang sempurna, Islam saja yang konsepnya dibuat langsung oleh Tuhan bisa disalahartikan menjadi terorisme). Kurasa ada hal-hal baik yang bisa kita pelajari dari faham komunisme asal kita mau berpikiran terbuka.    
   
Sumber bacaan:


Malaka, Tan, Merdeka 100%: Tiga Percakapan Ekonomi-Politik,Tangerang: Marjin Kiri.

Rahman, Arif dan Adi Prabowo, Das Kapital for Beginners,Yogyakarta: Narasi.