Minggu, 24 Mei 2015

Capitalism 101: Lahirnya Golongan Konsumen



Seperti yang kita bahas dalam tulisan sebelumnya, kapitalisme digerakan oleh tiga golongan, yaitu golongan kapitalis (pemilik modal), golongan buruh, dan golongan konsumen. Sekarang, mari kita bahas lebih lanjut golongan yang paling terakhir muncul, sekaligus memiliki peran yang paling penting bagi keberlangsungan kapitalisme, yaitu golongan konsumen.

Kita pasti pernah masuk ke sebuah mall, Pondok Indah misalnya, berjalan diantara pameran barang-barang jualan yang tertata rapi, indah dan menggoda. Stan makanan dengan gambar-gambar hidangan menggiurkan, lalu etalase kaca toko yang dipenuhi pakaian indah seakan menggoda kita. Apa yang kita rasakan? Kita sangat ingin membelinya. Lalu kita masuk ke sebuah toko, melihat sebuah sepatu cantik, model terbaru, terbuat dari kulit asli. Kita membayangkan gagahnya diri kita memakai sepatu itu, kawan-kawan kita memuji keindahannya, dan sepatu itu memberikan kesan bahwa kita adalah orang yang sangat penting, orang-orang ingin menjadi seperti kita dengan memakai sepatu itu, selayaknya kita ingin menjadi seperti para selebritis yang menjadi model iklan sepatu tersebut. Kita pun membelinya, tak perlu repot, kartu kredit mempermudah transaksi. Dengan sekali gesek, sepatu itu kita bawa pulang, bersama beberapa kantong pakaian, kosmetik, dan gadget terbaru. Sepatu dan pakaian kita taruh di sebuah ruangan khusus, bukan lemari kayu yang biasa orang punya, tapi ruangan khusus, yang nampak mulai penuh, sepatu dan pakaian baru itu hampir tidak memiliki tempat. lalu gadget terbaru kita mulai mainkan, dan meninggalkan gadget lama tergeletak di meja, walau sebenarnya yang lama belumlah rusak, dia masih berfungsi dengan baik, hanya saja yang baru lebih ngetren, dan memilikinya memberikan perasaan bangga luar biasa.

Begitulah contoh kecil perilaku golongan konsumen di era kapitalisme. Manusia dulu pun sudah melakukan kegiatan konsumsi, hanya saja tidak segila dan seaneh sekarang. Pada zaman dahulu, manusia mengkonsumsi barang seadanya, lebih mementingkan kegunaan. Ketika mereka butuh, mereka membelinya (jika tidak bisa didapat sendiri dengan membuat). Kebiasaan ini menjadi masalah ketika teknologi produksi barang menjadi lebih canggih, masalahnya adalah ada lebih banyak barang yang diproduksi daripada yang dibeli konsumen. Hal ini tentunya menyebabkan kerugian bagi para pemilik modal, dan juga buruh mereka. Nah, untuk merubah kebiasaan "membeli seperlunya" maka kemewahan harus dibuat menjadi sebuah kebutuhan.  Di Amerika, hal perubahan ini dilakukan lewat tiga cara:

Pertama, Marketing dan advertising. Marketing adalah temuan baru manusia, dia lahir ketika pedagang mulai sadar bahwa banyak nilai-nilai tertentu dapat dimasukan ke pada komoditas selain daripada kegunaannya yang dapat mendongkrak penjualan. Salah satunya adalah nilai borjuis, dengan display yang menarik, komoditas seakan memberikan kesan borjuisme, masyarakat kalangan atas, sehingga jika kita membelinya, kita akan termasuk ke dalam kalangan tersebut. Lalu muncul departemen store, atau mall. Oh.. mall adalah tempat yang luar biasa, dia adalah tokoh masyarakat yang selalu didengar petuahnya, tidak ada kata tidak untuknya, ketika dia mendikte manusia bagaimana cara berpakaian, mempercantik rumah, dan menghabiskan waktu luang. Mall adalah pusat kehidupan manusia perkotaan zaman sekarang. Hidup seakan tidak lengkap tanpa pernah mengunjunginya. Itulah kenapa mall selalu penuh di hari-hari libur. Manusia zaman sekarang mendefinisikan mengunjungi mall (baca: melakukan kegiatan konsumstif) sebagai bentuk memaknai hidup.

Advertising atau iklan adalah temuan revolusioner lainnya. Tujuan iklan adalah membentuk nafsu konsumen secara agresif dan menciptakan nilai dalam komoditas dimana dengan membelinya konsumen menjadi orang yang lebih baik. Di zaman sekarang setiap sendi hidup kita terasa penuh oleh iklan, cara pandang kita dibentuk oleh iklan, dan begitulah iklan berhasil membentuk manusia menjadi manusia konsumtif.

Kedua, transformasi institusi-institusi yang ada di masyarakat. Berbagai institusi seperti pemerintahan, sampai institusi pendidikan turut berperan serta dalam suburnya budaya konsumerisme. Pemerintah berperan sebagai  pendukung dengan segala kebijakan dan kemudahan yang diberikan pada para pengusaha, sementara universitas membantu meningkatkan ilmu penyubur konsumerisme, marketing dan iklan.

ketiga, transformasi dalam nilai intelektualitas dan spiritual. Perkembangan dalam ilmu pengetahuan khususnya psikologi merupakan bagian dari perubahan ini, menurut Robbins, para pelaku iklan memanfaatkan perubahan psikologis manusia desa menjadi manusia urban dengan tidak menekankan pada produk itu sendiri, atau fungsi dasarnya, melainkan efek psikologis, fisik, sosial, dan kesejahteraan yang pembeli dapat dari barang tersebut.

Oleh karena itu, pakaian, deodoran, dan parfume, misalnya, akan diiklankan sebagai alat penting dalam mendapatkan cinta. alkohol dan rokok, sebagai benda penting dalam membangun persahabatan. Mobil dan asuransi sebagai bukti tanggung jawab seorang laki-laki pada keluarga.  Akhirnya, komoditas menjadi alat pemuasan diri dan ekspresi diri.







The Last of Us: Book of Death (Part 3)


Semua stasiun televisi memberitakan kekacauan di beberapa tempat di jakarta, lebak bulus salah satunya, kekacauan yang disebabkan oleh ratusan orang mengamuk tanpa sebab dan mulai melukai warga sekitarnya dengan cara menggigit mereka! jangan-jangan luka di kaki mbo iyem adalah gigitan warga yang mengamuk itu, pikir Bayu.

Tampak di layar televisi, seorang reporter laki-laki melaporkan langsung dari tempat kejadian, tiba-tiba seorang warga yang mengamuk berlari menubruknya dari belakang, dan menggigit pundak si reporter, darah bercucuran, dan semua itu terekam oleh kamera, live disaksikan seluruh penduduk yang menonton acara tersebut. Pihak stasiun tv segera memutus sambungan kamera tersebut.

“gilaaaa.... apa yang  baru saja terjadi??” Gading panik.

“itu yang aku maksud, kita tidak boleh ada yang keluar, saat aku joging ke lebak bulus, aku bertemu dengan beberapa orang gila itu, tapi aku berhasil kabur setelah aku menghajarnya. Tak kusangka ini terjadi hampir di seluruh kota.”

“jadi... darah di badanmu itu...” bayu tidak dapat meneruskan kata-katanya.

“ini milik mereka,... mbo iyem pasti diserang oleh mereka, dan entah bagaimana dia berubah menjadi seperti mereka.”

“kegilaan mereka menular?”

“sepertinya...” angguk Santi.

“Lalu kita harus gimana?”  Gading berteriak dengan panik.

***
Bayu terbangun, mata kuning mbo iyem yang mencoba menyerangnya tadi terbayang di mimpi. Dia tertidur di sofa sejak sore karena lelah memblokir semua akses masuk ke dalam rumah. Kini sebatang lilin di atas meja menerangi ruangan utama rumah itu. Semua furnitur besar di rumah ini seperti lemari telah dipindahkan untuk menghalangi pintu agar tidak bisa didobrak dari luar. Sejak siang, para manusia rabies, begitu Gading menyebutnya, telah berkeliaran di perumahan ini. Mereka selalu mencoba mendobrak masuk ke rumah, itu sebabnya tidak ada lampu yang menyala, hanya lilin menerangi ruangan besar itu.

Mayat mbo iyem masih tergeletak di tempat yang sama, tergolek dengan mata melotot dan mulut mengeluarkan semacam busa berwarna putih, ketika mata bayu tak sengaja melihatnya, rasa mual menyerang, pening di kepalanya masih belum hilang, dan jawaban operator yang sama masih didengarnya ketika dia mencoba menelpon Winda.

Entah bagaimana perasaan gading tapi yang jelas nafsu makannya tidak berkurang sedikitpun. Kini dia telah menghabiskan piring mie instan keduanya, saat dia senang seperti saat berhasil mendapatkan pacar, dia merayakannya dengan banyak makan, saat dia sedih ketika sering ditolak perempuan, dia pun menghibur hatinya dengan banyak makan, dalam kondisi ketakutan seperti sekarang pun dia tetap banyak makan. Bayu kembali melirik mayat mbo iyem, dia yakin sekali, tidak akan ada makanan yang bisa ditelannya saat ini.

“kita harus membuang mayat itu,” santi datang membawa sepiring mie instan dari dapur. “baunya mulai menusuk hidung.” Dia menyuapkan sesendok mie. Gading masih sibuk dengan mienya, sementara bayu hanya merubah posisi duduknya di sofa.

“oh tuhan... tidak adakah cara lain, aku tidak berani menyentuh makhluk itu.” Rengek gading. Bayu setuju dengan gading, tapi mayat itu harus dienyahkan jika bayu ingin mualnya hilang.

“biar kubantu...” bayu berinisiatif. Dia segera memegang kedua kaki mbo iyem, sementera santi memegang kedua ketiaknya. Bayu menahan nafas tidak ingin sedikitpun mencium baunya, ketika dia mulai kehabisan udara, dia memaksa bernafas lewat mulut, tidak nyaman, tapi lebih baik daripada menghirup udara yang berbau mayat mbo iyem. Kini mereka berdua menaiki tangga menuju balkon.

“apakah mayat biasa mulai berbau setelah enam jam meninggal?”

“kurasa tidak, ada yang aneh dengan mayat ini. Dia membusuk lebih cepat.”

“apakah karena penyakit yang membuat mereka menjadi gila?”

“mungkin..” santi hanya mengangkat kedua bahunya. Dia tidak menunjukan sedikitpun rasa jijik, setelah yang dilakukannya pada mbo iyem, atau makhluk yang dulunya mbo iyem ini, dia tetap terlihat biasa saja. Kini mereka berada di balkon. Tempat tersebut merupakan favorit bayu di sore hari, karena dengan duduk di balkon rumah ini, kau dapat melihat matahari ketika ia terbenam, sungguh indah. Tepat dibawahnya adalah jalanan komplek, santi memperhatikan keadaan sekitar memastikan tidak ada makhluk gila itu di jalanan. Hanya ada satu, dia sedang menabrak-nabrakan dirinya ke tembok pagar rumah ini, mereka sepertinya menjadi bodoh dan tidak berakal, mereka bahkan tidak tahu cara membuka pintu.

BUKKK.... mayat mbo iyem menabrak aspal. Si manusia gila dekat pagar mendengar suara itu, dia berlari mendekati mayat mbo iyem, mengendus-endusnya seperti seekor kucing yang menemukan makanan dan memastikan bahwa itu layak dimakan, kemudian kembali menabrak-nabrakan diri ke tembok yang tadi, mayat mbo iyem tidak layak dia makan.

“sungguh bodoh...” gumam santi.

“apa dia bisa melihat kita?”

“kurasa tidak. Kurasa kita bisa menyalakan lampu sekarang.” Santi berbalik menuju kamarnya. bayu kembali ke ruang tengah, gading terkapar di sofa memegangi perut. Sepertinya roti bakar dapat membuat perut bayu lebih baik. Dia segera menuju dapur, dan kembali duduk di sofa dengan dua potong roti bakar hangat.

“semua ini terasa seperti mimpi...” gading benar, tapi bayu tidak pernah memimpikan hal yang sangat buruk seperti ini. “di film-film... ini adalah bencana zombie, kau tahu, mereka adalah mayat hidup yang bangkit kembali dengan rasa lapar akan daging manusia.” Bayu teringat film zombie yang ditonton terkhir kali beberapa bulan yang lalu dengan winda di bintaro plaza, ah... bagaimana keadaan winda saat ini, bayu segera mengambil hape mencoba menelponnya, tapi lagi-lagi operator yang menjawab.

“alat komunikasi lumpuh, listrik padam, dan akhirnya peradaban musnah. Itu yang terjadi berikutnya.”

“makhluk itu terlihat sangat bodoh, aku tidak yakin mereka mampu mengalahkan manusia,”

“mungkin, tapi sejak sore semua stasiun tv mati, adakah polisi yang datang menyisir tempat ini mencari korban selamat? Mereka mungkin sibuk menyelamatkan diri.”

“aku yakin pemerintah sedang melakukan sesuatu. Mereka pasti punya rencana..” ada keraguan di kalimatnya sendiri. Tidak, itu adalah harapannya, bahwa semua akan baik-baik saja. Kini gading dan bayu sama-sama terdiam, mereka berdua tenggelam dalam lamunannya masing-masing. Dunia bayu akan indah jika semua ini tidak terjadi, karir, percintaan, dan kehidupan sosialnya begitu sempurna jika saja ini tidak terjadi, jika oh.. jika...., apakah semua itu dapat kembali seperti semula ketika semua ini berakhir? Kapan ini akan berakhir?

Gading bukanlah seorang pejuang, dia jenis orang yang terbiasa melarikan diri dari masalah, dan juga orang yang pesimis. Dalam keadaan seperti ini, pikirannya hanya dipenuhi dengan segala kemungkinan buruk yang dapat terjadi, dan solusi terbaik yang ada di otaknya ini adalah bunuh diri, dia tidak ingin mati pelan-pelan dicabik-cabik oleh makhluk itu seperti pak septo tetangga sebelah tadi siang.    

“hey... jika ini adalah hari terakhirmu hidup, apa yang ingin kau lakukan?”

“apa yang kau bicarakan?” bayu tidak nyaman dengan pertanyaan gading. “kita tidak akan mati besok!”

“Kau benar, mungkin lusa kita akan mati.”

“Gading... Cukup!”

“setiap manusia pasti akan mati..”

“ya.. tapi aku tidak akan mati oleh makhluk itu, aku sudah memutuskan untuk mati di pelukan winda!”

“aku yakin sekali pernah mendengar bahwa kapan kita mati sudah diputuskan oleh tuhan jauh hari sebelum kita bahkan lahir...” bayu diam tak dapat menjawab. “jika kau dapat selamat sampai bencana ini berakhir, apa kau yakin winda selamat? Dari tadi kau tidak dapat menghubunginya kan?” bayu segera beranjak dan menarik baju gading dengan kasar.

“bajingan... berani sekali kau bilang begitu?!”

“aku hanya bilang bahwa kematian tidak ada yang tahu kapan akan datang” wajah gading datar penuh keputusasaan. “jika ini hari terakhirmu, apa yang ingin kau lakukan?” bayu melepas baju gading, dia terduduk, air mata membasahi pipinya.

“aku hanya ingin memeluk winda...” bayu menyeka air matanya. “dengar gading, aku tahu kita sama-sama putus asa, tapi aku yakin jika kita berjuang, kita dapat mengatasi bencana ini.” Itu adalah kata-kata yang terlahir dari pengalaman bayu yang berjuang untuk sekolah dari kecil. Pengalaman itu telah memberikan bukti bagaimana kerja kerasnya membuahkan hasil. Walau harus bayu akui, tidak ada masalah di pengalamannya sebesar masalah yang mereka hadapi sekarang.

“aku sangat takut bayu... tapi ini membuatku berpikir, apa yang kutakutkan sebenarnya? Para makhluk rabies itu? Atau kenyataan bahwa aku bisa mati dalam waktu dekat ini? Dan kusadari bahwa aku takut mati!” bayu pun takut, dia takut tidak bisa melihat dan menyentuh winda lagi.

“hey... kalian berdua bisa tenang tidak?” Santi datang sambil menyeruput kopi, sepasang headset menggantung di telinganya, dia kini mengenakan piyama berwarna biru muda dengan corak tokoh kartun yang bayu tidak kenal. Bau shampoo tercium dari rambutnya yang masih basah terurai, sepertinya dia baru saja mandi. Wajahnya tenang, tidak seperti santi di siang hari yang gemetar melihat mbo iyem bangkit dengan sebilah kaca menancap di punggungnya.

“kau? Bagaimana kau bisa setenang itu dalam situasi seperti ini?” bayu heran.

“tenanglah... kita aman di dalam rumah ini, asalkan kalian tidak membuat kegaduhan seperti barusan. Asal kalian tahu, mereka sangat tertarik dengan suara.” Jawabnya tenang.

 “apa kau yakin?” gading tidak percaya. Terdengar kegaduhan dari arah gerbang depan, seseorang memanjat pagar, dan menggedor-gedor pintu depan. 

“tolong.... tolong... buka pintunya...”

ketiganya kini saling menatap. Jika dibiarkan, dia akan menarik perhatian makhluk itu. Santi memiliki ide, dia segera menuju jendela, dari sela-sela besi tralis jendela, dia melihat seorang laki-laki terus saja menggedor pintu. Beberapa manusia rabies mencoba mendobrak pagar tertarik dengan si laki-laki. Pagar itu terlalu kuat untuk mereka robohkan.

“hey... Sssst...” santi memanggil. Si lelaki menoleh.

“tolonglah mba.. tolong biarkan aku masuk.”

“oke... tapi kau jangan berisik. Sekarang kau masuklah ke garasi!” santi dibantu bayu, memindahkan furnitur yang menghalangi pintu penghubung rumah dan garasi. Kini mereka semua berada di ruang tengah. Rupanya si lelaki melihat lampu menyala di kamar santi, dan mengira bahwa di rumah itu ada manusia. Santi segera menyadari kesalahannya, lampu mungkin tidak menarik para manusia rabies, tapi dapat menarik perhatian manusia lain yang selamat. Dia segera mematikannya, para manusia yang datang dapat menarik perhatian manusia rabies, santi tidak mau itu terjadi.

“aku sungguh berterima kasih...” si lelaki yang mengaku bernama Sandi itu mengenakan kemeja lengan panjang yang sudah kotor, bahkan lengan kirinya berlumuran darah, celana hitam yang bayu yakin berharga mahal yang dia kenakan pun terlihat sobek di lutut dan ujungnya. Sepertinya dia berjuang melawan para manusia rabies sampai seperti itu.

“ini... obati lukamu dengan ini,” bayu memberikan sebotol antiseptik dan perban. Sandi tidak berhenti bercerita bagaimana dia terjebak di mobil ketika semua itu terjadi. dia hendak pergi ke kantornya di sudirman, tapi mobilnya terjebak macet di rempoa, saat itulah dia melihat segerombolan orang menyerbu para pengemudi mobil dan motor dari arah pasar jumat. Saat siang dia berlindung dengan beberapa orang lainnya di alfamart. Namun akhirnya dia harus melarikan diri karena orang-orang gila itu dapat memecahkan kaca pintu alfmart. Menurut sandi, orang-orang gila itu memiliki kekuatan yang tidak biasa. Bayu setuju, dia sendiri pernah beradu tenaga dengan mbo iyem.

“apa yang menyebabkan luka di lenganmu?” santi menyelidik.

“oh ini... sepertinya karena aku terjatuh.” Sandi tersenyum. Santi tidak tenang dengan luka itu. Guratan kecemasan nampak di wajahnya, guratan yang bayu tidak lihat sebelum lelaki ini muncul. Setelah sekitar sepuluh menit, sandi tertidur di sofa, gading dan bayu terduduk di sofa di depannya. Santi segera menuju gudang dan kembali dengan tali. Dia mengikat sandi yang sepertinya tertidur sangat pulas, tidak terganggu dengan santi yang sedang mengikat tubuhnya. Sementara itu, bayu dan gading hanya melongo menyaksikannya.

“kalian diam.. jangan berkomentar.” Santi seakan tahu apa yang ada di pikiran mereka berdua. “kalian ingat apa yang terjadi dengan mbo iyem?” keduanya mengangguk. “aku yakin orang ini telah digigit, dan tinggal menunggu waktu dia berubah menjadi seperti manusia rabies itu.” Santi menyelesaikan simpul terakhir di ikatannya, kini si lelaki telah terikat sepenuhnya, tangan dan kakinya tidak akan dapat bergerak bebas. “aku mengikatnya dengan tujuan khusus.”

“tujuan apa?” bayu tak tahan untuk berkomentar. Si lelaki mulai mengerang, dia membuka matanya yang kini telah berubah menjadi kuning. Mulutnya mengeluarkan liur seperti anjing. Dia berontak mencoba melepaskan diri. Ketika dia berhasil duduk, santi menendangnya hingga jatuh ke lantai. Dia menginjak perutnya, membuat sandi makin mengerang. Santi menduduki dadanya, dan menempelkan lakban hitam di mulutnya.

“begini lebih baik” santi menghunus sebuah belati. Bayu dan gading berpandangan ngeri.

Selasa, 19 Mei 2015

Capitalism 101: Trias Capitalism



Kata kapitalisme sangat sering kita dengar, tapi coba anda definisikan, mungkin anda akan kesulitan. kata ini cukup mengusik benakku, karena sepanjang hidupku aku sering mendengar bahwa kapitalisme itu sesuatu yang negatif, berhubungan dengan amerika, berhubungan dengan penindasan golongan tak berduit, sumber masalah kemiskinan, dan ketidakadilan, sumber budaya konsumerisme, cinta dunia, dan lain-lainnya. Dia adalah musuh keadilan dan kebenaran, benarkah? Aku bahkan tidak mengenal secara jelas makhluk ini. Saatnya memulai pencarian, dan inilah hasil pencarianku. 

Kapitalisme sangat berhubungan erat dengan sistem ekonomi. Kapitalisme adalah sebuah budaya yang telah mendunia, karena kita tahu sistem ekonomi semua negara umumnya mengadopsi sistem barat, khususnya Amerika. Dan di Amerikalah kapitalisme berkembang pesat, bertransformasi menjadi sebuah budaya global yang diekspor ke berbagai belahan dunia. 

Trias Capitalism

Untuk memahami kapitalisme, sebaiknya kita memahami tiga unsur utama yang menjadi penggerak sistem ini. Di era ekonomi ini manusia digolongkan menjadi tiga jenis: pertama, golongan Kapitalis, yaitu golongan manusia yang tujuan hidupnya adalah berinvestasi lalu mendapatkan keuntungan lebih besar. Yang kedua, golongan buruh, yang memberikan tenaga mereka pada para kapitalis dengan imbalan berupa gaji. Yang ketiga, golongan konsumen, yang tujuan hidupnya adalah mengkonsumsi semua jenis barang dan jasa yang tersedia.

Memang, manusia tidak selalu tetap di satu golongan, para kapitalis dan buruh adalah juga konsumen, dan ada pula buruh yang mencoba menjadi kapitalis kecil-kecilan. Maka jika anda membuka usaha laundry, dan mempekerjakan orang untuk menjalankan usaha itu, anda seorang kapitalis, karyawan anda, adalah buruh. Ketiga golongan ini saling berkaitan dan saling membutuhkan, walau tak jarang pula sering bertikai. konsumen ingin menikmati barang dan jasa sebanyak-banyaknya, buruh ingin mendapatkan gaji yang sebesar-besarnya, lalu para kapitalis ingin mendapatkan keuntungan dari investasinya sebesar-besarnya pula. Namun pada intinya, sistem budaya kapitalisme berjalan dengan adanya hubungan ketiga golongan ini. 

Ada satu hal yang yang menjadi kesamaan tiga golongan tersebut: Uang. Ya... ketiganya berpusat pada uang.    kapitalis ingin mendapatkan uang dari investasinya, buruh ingin mendapatkan uang dari hasil kerjanya, lalu mereka bisa menjadi konsumen, mengkonsumsi barang dan jasa dengan uang tentunya. Kapitalisme memasukan ide ke dalam kepala kita bahwa hidup sejahtera adalah hidup dengan mengkonsumsi komoditas yang berlimpah. Kapitalisme seringkali dihubungkan dengan modernisasi, peradaban maju, dan perkembangan ekonomi. Sehingga masyarakat yang tidak menganut sistem ini, masyarakat yang tidak mau mengkonsumsi barang dan jasa lebih dari yang mereka butuhkan disebut masyarakat tidak maju, tidak beradab, miskin, terbelakang. 

Pola pikir kesejahteraan itu dicapai dengan mengkonsumsi barang dan jasa lahir dalam budaya kapitalisme. pola pikir ini mengakibatkan kita mengagungkan uang, karena hanya dengan uang kita dapat mengkonsumsi barang dan jasa yang tersedia. Budaya kapitalisme telah sukses menyatukan visi hidup umat manusia di seluruh dunia: Uang dan Konsumsi. 

Tulisan ini merupakan renungan atas buku Global Problems and The Culture of Capitalism karya Richard H. Robbins

(Next issue on Capitalism 101: Lahirnya Golongan Konsumen)

Kamis, 14 Mei 2015

The Last of Us: Book of Death (Part 2)


Mata bayu terasa berat, tidak seperti biasanya, kali ini tidak terdengar gangguan dari kamar sebelah di jam empat pagi, entah karena memang Santi tidak melakukan kegiatan hariannya, atau karena tubuh Bayu terlalu lelah sehingga gangguan itu tidak terdengar. Bayu mengambil smartphone yang telah dicasnya semalaman. Di zaman sekarang, hal pertama yang dilakukan manusia saat bangun tidur adalah mencari smartphonenya. Tampak beberapa pesan masuk sejak subuh, dan satu panggilan tak terjawab. Rupanya dari winda, pasti dia mencoba membangunkanku pikir bayu. Kini dia mengecek kotak pesan, Senyum Bayu mengembang.

“pagi sayaaang.... ayo bangun, nanti kamu terlambat”

“ih.. dasar tukang tidur.... ditelponin gak bangun-bangun.”

Jari bayu menari di layar touchscreen smartphonenya.

“ini baru bangun cinta... makasih ya udah bangunin”

Kini bayu bersemangat menyambut paginya, dia segera mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Gading rupanya telah berada di dalam kamar mandi, menunggu gading selesai mandi sama seperti menunggu bus transjakarta, sangat lama dan menyebalkan. Bahkan gading yang laki-laki mandi lebih lama dari santi, bayu memutuskan untuk memakai kamar mandi bawah yang biasa dipakai pembantu.

Biasanya, mbo Iyem sudah sibuk membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan jam segini, tapi tidak sedikitpun terlihat batang hidungnya. Mbo Iyem tidak tinggal di rumah itu, setiap pagi jam lima biasanya dia datang dan pulang sekitar jam empat sore, kalau tidak salah dia tinggal di dekat Situ Gintung, tapi sudah beberapa hari ini dia memang terlambat, katanya dia sekarang tinggal bersama anak pertamanya di pasar jumat, dekat dengan Lebak Bulus. Mungkin hari ini pun dia terlambat pikir bayu.

BRAKK!! Terdengar suara pintu dibanting, bayu menoleh, Santi berlari ke arah gudang mencari sesuatu, kini dia kembali dengan sebuah gembok besar di tangan, dia segera keluar. Bayu penasaran, apa yang sedang dilakukannya. Dia mengintip santi dari balik jendela, Santi sedang menggembok pagar depan. Apa yang dia lakukan? Pikir Bayu. Begitu kembali ke dalam rumah Santi segera mengunci semua pintu, pintu depan, belakang, bahkan jendela, semua dia kunci rapat-rapat. Bayu tahu peraturan nomor dua tentang santi, jangan pernah menegurnya langsung, tapi saat ini tante Mira sedang tidak ada, dan kelakuan Santi bisa jadi masalah, sebaiknya dia berbicara dengan Santi, batin Bayu.

“em... kenapa semua pintu dikunci san?” Tanya bayu datar, mencoba tidak menyinggungnya. Setahu Bayu, orang tidak waras mudah tersinggung.

“jangan ada yang keluar..!” Santi duduk di sofa sambil menatap lantai. Tatapannya kosong. Semua kunci pintu dan gembok dipegangnya erat-erat.

“Maksudnya?” Bayu melihat percikan darah di tangan Santi, di kaos putihnya yang basah oleh peluh, dan di wajahnya.

“kau harus dengar bayu, tidak ada yang keluar, disana berbahaya...” kini matanya mendelik Bayu.

Waduh, repot ini urusannya, gumam Bayu. Sepertinya Santi sedang kambuh, semenjak bayu tinggal disana, belum pernah ada kejadian seperti ini. Terakhir kali dia kambuh, menurut tante mira, tiga tahun yang lalu, dia memukuli tukang kebun tante Mira sampai babak belur, tanpa alasan yang jelas. Bayu hanya menatap Santi yang kembali menundukan kepala memandang lantai, kali ini tampak tubuhnya menggigil, Bayu tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Terdengar siulan Gading yang baru keluar dari kamar mandi, Bayu segera beranjak mendekatinya. Wajahnya yang ceria berubah kusut mendengar cerita Bayu tentang kelakuan Santi. Gading memutuskan untuk berbicara dengan Santi.

“Santi... aku dan bayu harus berangkat jam setengah delapan, boleh kan kita pinjem kuncinya sebentar.”

“jangan ada yang keluar, di sana berbahaya,” jawab santi lirih.

“san... aku harus bekerja, bayu ada pelatihan, jadi kita harus keluar.”

“di sana berbahaya..!” suaranya meninggi.

“Bahaya apa sih?”

“kau bisa mati kalau keluar, Gading!” Santi menatap Gading.

Gading, bayu, dan santi terdiam beberapa saat. “kita ikat saja cewe gak waras ini” bisik gading kepada Bayu.

“kita pake cara kekerasan?”

“ya aku sih menyebutnya pemaksaan” Bayu menelan ludah, setahu dia Santi pasti lebih kuat kalau masalah fisik, bisa-bisa dia yang benjol kena gebuk santi.

“aku dengar...” santi mendelik Gading.

“eh...”

“kau pikir aku tidak dengar apa yang kau bilang barusan” dia berdiri. Sepertinya dia tersinggung. Bayu merasa bulu kuduknya berdiri, dan jantungnya berdetak lebih cepat, melihat santi berdiri sambil mengepalkan tangannya, seakan ingin menghajar Gading, Bayu serasa beku karena keadaan.

“kau bilang aku cewe apa?” santi menunjuk Gading, tidak sempat dia melanjutkan kata-katanya. Terdengar suara dari luar berteriak.

“Den Bayu... Den Gading... Tolong bukain gerbang....” itu suara Mbo iyem. Ada sesuatu yang tidak biasa dari suaranya, seperti suara orang yang menangis. Santi segera menuju jendela untuk mengintip, dan segera melemparkan kunci kepada Bayu.

“cepat bukakan!”

Tanpa protes bayu segera menuju gerbang, dan terkejut melihat mbo iyem terduduk depan gerbang sambil menangis, kakinya bersimbah darah, motor bebek jadul andalannya digeletakan begitu saja di tengah jalan. Dengan sigap Bayu yang dibantu Gading menggotong mbo iyem  ke dalam rumah, santi segera mengunci kembali gerbang dan pintu.

“mbo apa yang terjadi?” tanya Bayu. Mbo Iyem, hanya menangis menahan sakit.

“Gading ambilkan air, kain bersih, alkohol, dan perban!” Komando Santi, Gading segera bergerak menuju tempat P3K dekat gudang.

“Mbo... apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini?” Bayu kembali bertanya, namun kini erangan sakit mbo Iyem berhenti, hanya ada kesunyian yang keluar dari mulutnya. Santi segera memegang urat nadi di leher Mbo iyem.

“dia masih hidup...” Bayu dan santi lega, ternyata Mbo iyem belum meninggal, dia hanya kehilangan kesadaran. Mereka mendudukan mbo Iyem di sofa. Kini Gading telah kembali, Santi segera membasuh luka di betis kanan Mbo iyem, dan memperbannya, tidak rapi, santi bahkan tidak tahu cara merawat luka seperti itu, yang terpenting darahnya berhenti mengalir.

“daging di betisnya dikoyak.... seperti bekas digigit.” Gumam Santi.

“apa mungkin dia digigit anjing? Setahuku tidak ada anjing liar di dekat sini. Sebaiknya kita segera bawa dia ke dokter.” Saran Gading.

“tidak.... itu bukan anjing, dan sudah kubilang, tidak ada satu pun yang keluar dari rumah, kecuali dia mau bernasib sama seperti mbo Iyem!”

“memangnya ada apa di luar sana? Apa yang membuat mbo Iyem menjadi seperti ini?” teriak Gading.

“aku tidak tahu... tapi yang pasti di luar sana berbahaya!” santi balas berteriak.

Gading dan bayu sadar, berdebat dengan santi sepertinya tidak akan menyelesaikan masalah. Mencapai kesepakatan tentang sesuatu dengan orang waras tapi penuh kepentingan saja sudah sangat sulit, apalagi jika yang dihadapi adalah orang yang kurang waras model santi. Bayu segera menarik gading ke dapur.

“kita harus melakukan sesuatu, aku takut mbo iyem kenapa-napa kalau tidak segera dibawa ke dokter.” Bisik Bayu.

“benar.. tapi kau tidak lihat tadi, santi tidak bisa dibujuk, lalu apa yang harus kita lakukan? Mencoba memberinya pengertian itu bagai menabur garam di lautan.”

“biar kupikir dulu.” Bayu duduk di kursi meja makan, sambil berpikir ia memperhatikan santi yang mondar-mandir di ruang tengah, mbo iyem terduduk di sofa membelakangi bayu. Tiba-tiba bayu melihat kepala mbo iyem bergerak.  Perlahan, mbo iyem bangkit dari sofa. Santi mematung, menatap mbo iyem, pandangannya dipenuhi kengerian. Sementara itu bayu segera menghampiri mbo iyem.

“mbo... mbo tidak apa-apa?”

“jangan Bayu!!” teriak santi.

“kenapa?”

Terlambat, mbo iyem berbalik, dan langsung menerkam bayu yang berada di belakangnya. Bayu tidak sadar dengan apa yang terjadi, yang dia tahu kini dia terlentang dan mbo iyem mencoba untuk menggigit lehernya, reflek dia menahan leher mbo iyem sekuat tenaga, wajahnya tepat terhenti di depan wajah bayu. Air liur bercampur darah menetes dari mulut mbo iyem yang terus mencoba mencapai leher bayu, matanya kuning menjijikan.

“AAAARRGH....” bayu sekuat tenaga menahan mbo iyem, tenaganya sangat besar, mbo iyem yang sudah tua, memiliki tenaga sebesar kuli bangunan berumur 20an, tidak mungkin. Batin bayu. Kini gigi mbo iyem telah menyentuh kulit leher bayu, tangan bayu sudah tidak bertenaga, dan akhirnya... BUKK!!!!

Mbo iyem terlempar ke samping menabrak sofa karena ditendang santi tepat di perutnya. Mbo iyem seperti tidak merasakan sakit, dia kembali berdiri dan kini balik menerjang santi. tapi, santi lebih cepat, dia tangkap tangan mbo iyem, lalu membantingnya ke lantai. Mbo iyem terjatuh tepat di atas meja kaca depan televisi. Meja tersebut pecah menimbulkan suara gaduh, banyak pecahan kaca terlempar ke berbagai sudut ruangan.

“anjriiit....” Gading berteriak. “mbo sadar mbo!!!” dia bersembunyi di balik sofa. Mbo iyem mengerang, sepertinya dia belum selesai, dia berdiri kembali, sebilah pecahan kaca besar menancap di punggungnnya, tapi mbo iyem seperti tidak merasakannya sedikitpun. Berbeda dengan mbo iyem yang tadi merintih kesakitan karena kakinya terluka.

“seharusnya dia tidak bisa bangkit lagi..” gumam santi.

“kenapa dengan mbo iyem?” tanya bayu. Mbo iyem berlari ke arah santi, gerakannya masih sama, mencoba menerkam, santi kembali menangkap tangannya dan membantingnya kembali ke lantai, tapi kali ini santi tidak melepaskan cengkramannya, dia memutar tangan mbo iyem dan menginjak sikunya sekuat tenaga. Bunyi tulang patah terdengar. Santi telah menghancurkan sendi siku kanan mbo iyem.

“Apa yang kau lakukan santi? kau bisa membunuhnya!” gading lagi-lagi berteriak.

“berisik sekali kau!” santi geram.

Mbo iyem masih mampu berdiri, walau tangan kananya menggantung-gantung setelah dipatahkan santi, dia nampak tidak merasakan itu sedikitpun. Air liur terus menetes dari mulutnya seperti anjing kelaparan yang baru menemukan seonggok daging. Dia mengerang dan hanya berdiri nampak menunggu sesuatu. Bayu, gading dan santi terbengong melihatnya, ketiganya diam membatu menunggu gerakan mbo iyem. Tapi sepertinya dia sedang tidak ingin bergerak, dia hanya berdiri terdiam.

“mbo...” bayu memanggil. Seketika mbo iyem menoleh dan menerjang bayu, beruntung bayu berhasil menghindar, tapi mbo iyem masih mengejarnya. Santi segera menghadang dan menendang perut mbo iyem, ia hanya mundur beberapa langkah dan kembali menerjang.

“sialan..” batin santi. Dengan sangat lincah santi berkelit dan berhasil menangkap mbo iyem dari belakang, kedua tangannya melingkar mengunci leher mbo iyem, dan dalam sekali gerakan dia mematahkan lehernya.

“dengan begini dia tidak akan mampu berdiri lagi.”

“aaah.... kau membunuh mbo iyem?” teriak gading.

“diam kau! Dari tadi hanya berteriak saja, memangnya apa yang harus kulakukan?” balas Santi.



Hening terjadi beberapa saat, semuanya kacau, kepala bayu pening tak mampu memahami semuanya, kini mbo iyem teronggok menjadi mayat di sudut rumah ini, dan santi lah pelakunya. Bayu duduk di sofa, tak mampu bicara, Gading duduk di sampingnya, begitu pun santi. dia duduk di sofa sebelah bayu. Mereka bertiga menggigil, bukan karena dingin, tapi karena takut. Gading menyalakan televisi dengan maksud menghilangkan suasana tidak nyaman itu, tapi ternyata di televisi, mereka melihat hal yang lebih menyeramkan terjadi. 

Rabu, 13 Mei 2015

Renungan Part 37 (susu kopong)



4 sehat 5 sempurna

Ungkapan yang sangat populer di kalangan masyarakat indonesia, siapa yang tidak tahu? Empat macam asupan yang dibutuhkan tubuh agar tetap sehat itu disempurnakan oleh segelas susu kaya kalsium. Ungkapan itu dipopulerkan pemerintah hampir selama 40 tahun, hingga akhirnya diganti menjadi makanan seimbang (setidaknya itu kata berita yang kulihat). Kurasa, dari sinilah kepopuleran susu di masyarakat kita berasal. Saking mendarah dagingnya pemahaman pentingnya susu, seakan hidup ini tidak lengkap jika tanpa meminumnya barang sehari. Seakan anak-anak kita tidak akan berkembang dengan baik jika tidak diberi susu sejak dini.

Kalau kita adalah korban iklan, maka anda akan percaya sepenuh hati bahwa tanpa susu formula anak-anak kita tidak akan menjadi anak yang luar biasa, karena kecerdasan mereka tidak optimal tanpa susu, atau kita akan percaya bahwa di masa tua tulang kita akan keropos tanpa meminum susu untuk manula. Kita harus sadar bahwa iklan Cuma kebohongan, tidak ada kebenaran barang sedikitpun dalam iklan. Mereka menjual mimpi.

Jika begitu, apakah susu itu benar benar penting? Atau hanya akal-akalan pengusaha agar produknya laku?

Menurutku, susu memang penting, sepenting tempe, tahu, dan sayur. Ia memiliki keutamaannya sendiri. Pernah suatu waktu aku bertanya ke temanku yang seorang ibu muda, “jika anak tidak diberi susu formula tidak apa-apa kan?” Dia menjawab ya tidak apa-apa, tapi.... (kata tapi menegasikan semua ide yang muncul sebelumnya). Intinya dia merasa bahwa tanpa susu, tidaklah lengkap, dengan susu menjadi lebih baik. Ini semacam indikasi pemikiran bahwa susu sangatlah penting melebihi yang lainnya, tak aneh jika susu anak menjadi item wajib dalam belanja bulanan, dan banyak ibu mengeluh jika uang belanja tidak cukup untuk beli susu, atau jika uang mereka habis karena harus membeli susu (yang cenderung mahal).

Kurasa disinilah akal-akalan pengusaha susu. Negara kita adalah pasar besar bagi produk susu, buktinya berbagai varian produk susu ada di kita (katanya di luar negeri, tidak ada). Mulai dari susu ibu hamil, susu balita, susu ibu menyusui, susu anak-anak, susu remaja, susu penambah berat badan, susu penurun berat badan, susu penambah masa otot, dan susu manula. Sepertinya, setiap jengkal hidup kita dipenuhi oleh keharusan minum susu. Dengan pikiran yang telah terpola bahwa susu itu sangat penting, dan beberapa iklan yang penuh kebohongan, jadilah kita pembeli dari berbagai produk susu itu.

Di sini, kita dipaksa secara tidak langsung untuk membeli produk yang nampak sangat esensial bagi keberlanjutan hidup padahal biasa-biasa saja.   

Tulisan ini terinspirasi oleh tayangan berita 360 di Metro TV