Rabu, 08 Januari 2014

Renungan part 3



Lebaran kemarin nenekku bertanya pada salah satu pamanku.
“Lebaran ini mau ngasih apa ke amih?” amih panggilan nenek di keluargaku. Salah satu pamanku yang lain membelikan dia cincin dan gelang emas, seharga jutaan. Bibiku membelikan pakaian baru untuknya walaupun sambil mengeluh karena salah memberikan model baju.
“Amih mah pengennya bukan yang kayak gini, coba nanti liat di mesjid pasti tahu”
Aku tertawa ketika mendengar apih (kakek) meledek amih dengan sebutan Mak Enok (tokoh di sinetron tukang haji naik bubur yang suka pamer) karena kelakuannya itu. Kurasa hal seperti itu tidak hanya terjadi di keluargaku, tapi juga di keluarga-keluarga lainnya, walaupun berbeda-beda tingkahnya. Hanya satu hal yang pasti, pada hari raya idul fitri atau lebaran kita harus memakai pakaian baru dan kalau perlu embel-embel lainnya juga baru. Ada perasaan dalam hati kita, sadar ataupun tidak sadar, berkata “Masa lebaran gak pake baju baru?”
Bahkan untuk memenuhi hasrat akan sesuatu yang baru ini seringkali orang bertindak kejahatan, pernah aku lihat berita tentang tersangka penipuan yang berkata bahwa motifnya adalah mencari dana untuk lebaran. Yang lebih lucu lagi, ada sebagian orang di kampungku yang tidak puasa ramadhan tapi ikut ribet membeli pakaian baru dan merayakan lebaran. Bukankah idul fitri adalah hari kemenangan bagi yang berpuasa? Aku merasa bahwa tradisi idul fitri tersebut telah membuat sebagian orang lupa akan esensi dari idul fitri itu sendiri. Pernahkah kita berpikir apa maksud hari kemenangan itu sendiri? Menang atas apa? Menang sebulan penuh puasa? Atau jangan-jangan kita bergembira karena justru bulan ramadhan telah selesai, tak ada lagi belenggu untuk makan di siang hari, oleh karena itu kita menghidangkan banyak makanan di hari itu?
“Laisal id liman libasuhu jadid walakinnal id liman tho’atuhu tajid”
Itu adalah hadits yang dibacakan seorang ustaz dalam kultum sebelum shalat idul fitri di kampung halamanku. Arti hadits tersebut kira-kira seperti ini (kalau salah tolong dikoreksi) “idul fitri itu bukan bagi orang yang memakai pakaian baru, tapi bagi orang yang ketaatannya bertambah”. Dalam pemahamanku, dari hadits tersebut, orang yang berhak bersuka cita merayakan idul fitri adalah orang-orang yang telah berhasil setelah satu bulan puasa menambah ketaatannya pada Allah. Kira-kira contohnya seperti orang yang dulu sebelum ramadhan suka bohongin orang lain, setelah ramadhan menjadi orang yang lebih jujur. Orang yang suka marah-marah setelah ramadhan menjadi lebih sabar. Orang yang senang riya, jadi lebih tawadhu.
Sejalan dengan keterangan yang terdapat dalam al-Quran bahwa tujuan berpuasa adalah membuat kita menjadi lebih bertakwa. Perubahan sikap dan perilakulah yang menjadi indikator keberhasilan berpuasa dan berhak bersuka cita menyambut idul fitri, bukan pakaian baru. Jadi dalam pemahamanku arti dari kemenangan itu adalah lewat puasa kita berhasil menaklukan nafsu (entah itu cuma satu, atau beberapa sekaligus) dengan begitu kita bisa memperbaiki sikap kita menjadi lebih baik, lebih diridhoi oleh Allah.
Dengan demikian, bagiku, berpuasa adalah latihan diri, latihan mengendalikan hawa nafsu. Jika akal disimbolkan dengan otak dalam kepala, kemudian spiritual/kesalehan disimbolkan dengan hati/qalbu di dalam dada, maka menurutku hawa nafsu disimbolkan dengan perut dan yang di bawah perut. Oleh karena ketika berpuasa dua tempat tadi dikekang. Dengan melatih diri tidak makan berlebih (yang buka puasa makannya banyak seakan-akan balas dendam berarti belum lulus pendidikan puasanya…) kita dilatih untuk mengontrol hawa nafsu, hingga akhirnya kita dapat mengontrol hawa nafsu yang lebih besar seperti nafsu untuk sombong, pamer, ingin dipuji, dan penyakit hati lainnya.    
Jadi, Apakah kita termasuk orang-orang yang memang berhak bersuka cita menyambut idul fitri? Tanyakanlah pada diri sendiri, perubahan apa yang kita alami selama setelah Ramadhan? Kesadaran apa yang muncul setelah tarawih selama sebulan? Pelajaran apa yang kita petik dengan mengosongkan perut seharian? Hikmah apa yang kita dapat setelah bertadarus sampai khatam dalam satu bulan? Sifat jelek apa yang berkurang setelah melewati ramadhan? Hanya masing-masing diri kita yang dapat menjawabnya.


Renungan part 2


Dulu pernah ada temanku bertanya.
“ngapain sih cape-cape jadi pengurus di UKM? Kayak digaji aja… mending kerja dapet duit”
Saat itu aku cuma tersenyum mendengarnya, diam tak bisa menjawab, perkataannya memang ada benarnya, tapi anehnya aku tetap mau menjadi pengurus dan sangat menikmatinya. Pertanyaannya adalah kenapa aku masih mau menjadi pengurus? Dan alhasil hanya menyisakan sedikit waktu untuk nyambi kerja untuk sekedar jajan tambahan. Sementara banyak teman-temanku yang kupu-kupu dan banyak memiliki waktu untuk kerja sudah mendapat gaji yang lumayan. Kok aku rela melepas kesempatan itu? Setelah merenunginya…… aku tahu, aku tidak pernah menyesali hal itu.
Aku melihat alasanku ini dari dua sisi, internal dan eksternal. Sisi internal adalah alasan yang berasal dari dalam diriku sendiri, kepuasan, kesenangan dan lainnya. Sementara sisi eksternal adalah faktor lingkungan UKM yang membuatku jatuh hati padanya.
Sisi internal aku mulai dari perasaan bahwa aku memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi entah sekecil apapun itu bagi UKM ini. Ketika kita tahu bahwa usaha sekecil apapun yang kita berikan ternyata berdampak pada hal lain (dalam konteks ini, usaha-usahaku berdampak pada keberlanjutan kehidupan UKM dan anggota lainnya), ada rasa kepuasan batin yang tak terhitung. Seorang ahli manajemen asal amerika bernama Patrick Lencioni berkata dalam bukunya the three signs of miserable job bahwa salah satu alasan orang mencintai pekerjaannya adalah ketika dia tahu dan merasa adanya relevansi dalam pekerjaannya, yaitu adanya dampak dari yang dia kerjakan kepada hal lain atau mungkin kehidupan orang lain. Kesadaran bahwa kontribusi apapun, sekecil apapun yang kuberikan sangatlah berarti dan penting bagi UKM dan anggotanya membuatku bertahan.
Lebih jauh lagi kurasakan bahwa relevansi ini tidak hanya selesai di masalah dampak kepada orang lain, tapi relevansi dengan bidang ilmu yang kugeluti. Di UKM aku menemukan masalah konkrit dari teori-teori yang diajarkan pada mata kuliah semacam Methods of Teaching, Teaching English as a foreign Language, Curriculum Development serta berbagai teori tentang pengajaran bahasa seperti masalah language acquisition. Di UKM aku temukan tempatku menerapkan semua teori itu. Itulah kenapa aku sangat bersemangat menjabat bidang yang berhubungan dengan kebahasaan (walau pada praktiknya tidak terlalu maksimal L). Artinya, Adanya kesempatan mengaktualisasikan teori yang kudapat dari bangku kuliah di dunia nyata menjadi alasanku bertahan.
Satu hal terakhir adalah adanya masalah nyata yang harus kuselesaikan. Ketika naik menjadi pengurus, banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi untuk mencapai tujuan bersama. Disitulah aku diajari mencari solusi atas suatu masalah, berani mengambil keputusan, dan berpendirian teguh dengan keputusanku. Seluruh aktifitas ini adalah sebuah ladang pendidikan mental dan karakter bagiku. Hal ini sangat berarti bagiku sebagai orang yang tidak pernah merasakan hal ini sepanjang hidupnya karena dari TK sampai SMA, problem solving tidak pernah terasa senyata dan semengasyikan seperti di UKM, bahkan mungkin aku tidak pernah mendapatkan kesempatan itu di institusi pendidikan formal.
Di sekolah aku hanya diajarkan bahwa pendidikan itu adalah hanya mengenai menghafal teori, memahaminya, dan memanfaatkan memori itu dalam ujian, dan mendapat nilai yang bagus. Sudah cukup. Tidak ada kesempatan untuk mengolah mental dan karakterku. Oleh karena itu, Kesempatan untuk mengeksplor mental dan karakter merupakan hal berpengaruh yang membuatku bertahan.
Ada pula sisi eksternal yang membuatku tetap bertahan, yaitu pola hubungan yang berdasarkan kekeluargaan. Mereka menerimaku dengan semua kelemahanku, entah mengapa aku merasa sangat nyaman, dan bahkan berkat mereka aku bisa merubah diri, entah bagaimana prosesnya yang pasti ada perubahan dalam diriku.
Aku teringat saat masa amanahku selesai dan ketika laporan pertanggungjawaban pengurus, aku berkata bahwa ketidakberesan pengurus periode ini memang semata-mata karena kelemahanku yang tidak bisa mengaturnya. saat itu aku merasa bahwa mengakui kelemahan di depan mereka bukanlah hal yang menakutkan dan mengancam diriku (biasanya orang tidak mau disebut lemah, dan selalu mencari alasan untuk menutupi kelemahannya), selain hal itu merupakan jalan terbaik yang dilakukan pemimpin, aku juga merasa bahwa it won’t do me any harm because I trust them.
Aku sempat berpikir bahwa ini bukanlah organisasi biasa, this is more than organization, it is how a family supposed to be (ada satu kejadian yang tak bisa diceritakan di sini yang benar-benar membuatku jatuh hati pada UKM ini). Intinya, kekeluargaan adalah sisi eksternal yang membuatku bertahan.
Setelah kurenungi, semua hal tersebut bagiku ternyata lebih penting dari pada uang sekalipun. Mungkin karena pengaruh pandanganku bahwa hidup ini bukan hanya masalah uang, materi memang penting tapi bukan menjadi tujuan hidup ini. Di hadapan Allah, orang yang mulia bukanlah orang yang memiliki banyak harta, namun orang yang paling bertakwa. Takwa menurut Harun Nasution dalam bukunya Islam Rasional, identik dengan sikap luhur (sikap-sikap terpuji) karena pada esensinya takwa adalah menjauhi larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya. Larangan Allah adalah hal-hal yang buruk dan perintah Allah adalah hal-hal yang terpuji, oleh karena itu aku memahami orang yang bertakwa adalah orang yang memiliki sifat-sifat baik nan terpuji. Di UKM, aku merasakan bahwa perubahan ke arah sifat baik (dalam mental dan karakter) sangat ditekankan demi kemajuan organisasi.
Hal yang kusadari berikutnya adalah bahwa proses yang dijalani anggota UKM ini (proses menjadi pengurus), tujuannya tidak sesempit untuk memajukan UKM belaka, tapi memiliki makna luas, yakni pembentukan manusia yang lebih baik, lebih terpuji, lebih bertakwa. Setidaknya itu yang aku rasakan, dan inilah yang tidak pernah aku sesali, bahwa aku merasakan pengalaman luar biasa ini di kepengurusan UKM, walaupun perubahan itu baru sedikit kurasakan tapi setidaknya kesadaran akan hal ini telah ada, toh pada dasarnya manusia sepanjang hidupnya terus berproses.  





Renungan part 1


Selasa, 30 Juli 2013, saat itu di kosan aku bersama seorang tamu bernama mas abdul karim, beliau adalah teman dari saudaranya teman kosanku….. (agak complicated memang). Dia berniat numpang di kosan bersama saudaranya teman kosanku itu karena harus melakukan serangkaian tes untuk daftar studi S3 di pasca sarjana UIN. Kami pun sedikit berbincang sekedar untuk mencairkan suasana, dan sampailah pada percakapan berikut.
“semester berapa mas toni?” Tanya mas karim.
“sekarang… berarti semester 10 mas hehe…”aku cengengesan.
“wah betah yah di kampus…” sindirnya
“haha iya…. Soalnya lagi seneng dapet ilmu baru…”
“memangnya kalau semakin lama, mata kuliahnya semakin dalem ya mas?”
“oh bukan gitu, kalau kuliah sih dari semester 8 juga udah kelar” jawabku “dapet ilmu barunya dari oranisasi mas…”
“oh… menarik ini” katanya sambil tersenyum, tapi tidak meneruskan kata-katanya.
Kata menarik yang diucapkan beliau memiliki dampak yang sangat besar dalam benakku. Aku pun mulai merenungi jawabanku itu tadi. Beberapa bulan yang lalu ketika orang tuaku pun bertanya kenapa belum lulus aku menjawab
“iya ma… sekarang masih pengen ngegali pengalaman dulu”
beliapun menjawab “ya cari pengalamannya pas udah lulus aja”
“ya gak bisa, kalau udah lulus mah fokus kerja, mana bisa ngegali pengalaman lagi, soalnya cuma ada di kampus”
Yang kumaksud cuma ada di kampus adalah sebuah UKM di kampus UIN.
Kenapa itu dijadikan alibi olehku? aku mulai merenung…………., tapi ternyata, selain karena kemalasan ngerjain skripsi, pemikiran kaku otakku kalau nulis ide harus sudah clear, dan sikap perfeksionis, “pengalaman” atau “ilmu baru” yang kumaksud tadi bukanlah sekedar alibi saja. Ini adalah hasil renunganku atas hal tersebut:
Aku dilahirkan dari keluarga yang tidak terlalu terbuka dalam hal komunikasi. Tidak pernah terjadi sesi curhat di keluargaku, bukti nyata dari semua itu adalah kakunya hubunganku dengan kakakku sendiri. Ketidakpekaanku akan lingkungan sekitar mungkin jadi salah satu bentuk negative dari hubungan yang tidak terbuka dalam keluarga. Aku tidak pernah ditegur karena tidak peka. Ketidakpekaan ini membuatku sulit menempatkan diri pada posisi orang lain, egois, dan sulit memahami perasaan orang lain.
Di sini aku tidak bermaksud menyalahkan orang tua atas kejelakan diriku, sekali lagi kutekankan TIDAK, cuma menggambarkan bahwa sebenarnya sikap seseorang ya bawaan dari lingkungan terdekat, yaitu keluarga. Kalau ada yang pernah merasa nada suaraku tinggi ketika bicara  dan tersinggung (padahal tidak ada maksudku menyinggung), itu karena secara tidak sadar aku terpengaruh oleh gaya bicara orang tuaku yang seperti itu (akupun baru sadar setelah di bangku kuliah, tepatnya setelah belajar mata kuliah perkembangan peserta didik). Toh orang tuaku tidak pernah kuliah, wajar kalau mereka tidak paham, dan aku sangat memakluminya.
Anehnya, pengetahuanku akan hal seperti itu, masih belum cukup membuatku bersikap lebih bijak (tetep tidak peka, egois). Aku merasa setelah sekolah dari tk sampai kuliah semester 6 tidak ada kemajuan berarti dalam masalah sikap. Semua itu berubah setelah aku diberi amanah besar di UKM tersebut. Sejak masuk UKM aku sering didoktrin tentang kekeluargaan, dan trust. Tapi tak pernah kurenungkan dalam-dalam sampai amanah itu datang, dan lebih menyesalnya lagi, kesadaran itu muncul justru setelah amanah itu selesai.
Entah bagaimana pendapat orang lain tentang kekeluargaan, tapi dari yang kupahami dengan hatiku, kekeluargaan berarti keadaan dimana saling mengerti. Mengerti dalam hal yang sangat dalam dan tercermin dalam tindakan. Sementara trust bagiku berarti mempercayakan kelemahan kita pada keluarga kita karna kita tahu dia tidak akan menggunakannya untuk menjatuhkan kita tapi justru untuk melengkapi kita. Ada unsur husnuzon dalam pengertian trust yang kupahami. Yang berimplikasi bahwa setiap tindakan keluarga kita, walaupun menyakiti hati kita, adalah murni bermaksud baik, hanya mungkin caranya yang salah, atau kita tidak bisa melihat niat baik itu karena ketidakbijaksanaan kita sendiri, atau ketidakpahaman kita yang mendalam akan dirinya yang berarti belum sepenuhnya kita anggap sebagai keluarga.
Bicara teori memang membingungkan, biar aku berikan contoh sebuah kejadian seminggu yang lalu. Saat itu aku sedang pulang ke sukabumi, aku dan ibuku terlibat perdebatan tentang sepatu. Beliau menanyakan sepatu bekas kakakku yang kubawa ke ciputat, apakah masih ada, aku yang sudah lupa menyangkal pernah bawa sepatu (ternyata sepatunya sudah hilang lama sekali digondol maling di kosan lama). Aku emosi karena aku mengganggap ibuku sepertinya lebih mementingkan sepatu. Akhirnya kami pun bertengkar, ibu pergi ke dapur dan aku termenung di depan tv sambil bersama adikku yang sedang menyetrika (dia juga kena semprot ibuku karena malas menyetrika bajunya sendiri).
Beberapa saat kemudian ibuku lewat seperti kebiasaannya sambil melayangkan komen pedas menyakitkan hati, aku pun membalas “mama tuh kebiasaan, suka ngasih komen sambil lewat gitu, itu tuh salah mah buat ngedidik anak, gak ngefek buat anaknya malah bikin sakit hati” JLEBB!!! Seketika itu aku sadar, aku dapat mengeluarkan kata-kata itu karena aku setidaknya telah kuliah empat tahun, aku sedikitnya paham bagaimana mendidik anak dari teori-teori pendidikan sehingga berkesimpulan bahwa cara ibuku itu salah, tapi bagaimana dengan ibuku? Dia tidak pernah kuliah, pendidikan tertingginya adalah esemka. Sehari-hari kerjanya Cuma mengurus rumah, tidak pernah berkutat dengan buku-buku pendidikan. Mana paham dia masalah psikologi anak, cara mendidik humanis dan lain sebagainya. Aku memiliki posisi sebagai orang yang paham, sedangkan dia tidak. Akupun merasa bersalah. Bagiku ini bentuk konkret memahami keluarga kita.
Aku pun mulai berpikir, sebenarnya apa maksud ibuku mengungkit sepatu itu, aku tidak tahu, tapi aku Cuma bisa berhusnuzon saja, karena dia ibuku dan dia keluargaku yang pastinya paling menyayangiku. Biasanya pertengkaran seperti ini akan berakhir dalam kedongkolan dan tidak pernah ada penyelesaian kecuali oleh waktu, walaupun pemikiran diatas terjadi dalam benakku. Perasaan bersalah pasti muncul tapi cukup disimpan dalam hati saja. Tapi, sebagaimana yang kupahami dari kehidupan di UKM bahwa keharmonisan tidak akan dicapai dengan cukup “diem-dieman saja, menyimpan perasaan dongkol” maka untuk pertama kalinya dalam hidupku sejak aku bisa berpikir sampai saat itu, aku mendatangi ibuku memeluk tangannya dan meminta maaf atas kejadian tadi, aku mencurahkan isi hatiku bahwa aku tadi emosi makanya berkata-kata yang tidak enak hati, dan ternyata alasan dia menanyakan sepatu itu, gara-gara dia melihat sepatuku yang sudah bisa dibilang usang dan merasa prihatin denganku. Dampaknya sungguh luar biasa, dia menangis. Akupun merasa lega karena pertama kalinya aku bisa mematahkan kebekuan komunikasi di keluarga ini.
Kesimpulan dari cerita itu adalah bahwa tindakanku meminta maaf bukanlah hasil belajar ku di sekolah formal. Itu adalah satu perubahan sikap yang menurutku cukup signifikan yang tidak akan pernah dicapai dengan hanya menghafal teori atau rumus suatu ilmu pengetahuan. Itu merupakan hasil dari pendidikan karakter yang kuserap secara tidak langsung dari kehidupanku di UKM. Jadi yang kumaksud dengan ilmu baru atau pengalaman baru adalah perubahan sikap itu. Aku mendapat banyak hal yang berkaitan dengan cara berpikir, cara bersikap, pengambilan keputusan, idealisme, rela berkorban, keberanian, dan lainnya dari UKM, bukan di kelas kuliah. Dan hal-hal seperti ini harus mendapat perhatian lebih besar dalam pendidikan, bukankah esensi pendidikan itu sendiri adalah perubahab sikap? Bukan seberapa tinggi kepintaranmu yang dipresentasikan dengan angka? Jadi dalam pikiranku, seorang mahasiswa yang sukses bukanlah mahasiswa yang cepat lulus, dapet kerja bagus, gaji tinggi, dan setahun kemudian udah bawa mobil. Tapi orang yang setelah lulus telah mengalami perubahan sikap ke arah lebih baik, beridealisme, menginternalisasi nilai-nilai baik yang universal lainnya dan mereka berguna bagi masyarakat sekitarnya.
Jadi jawabanku pada mas karim bukan cuma nyari alesan atau kambing hitam kenapa belum lulus, karena toh aku melakukan hal yang sangat positif dalam waktu perampungan skripsiku ini….. setidaknya renungan ini menjawab pertanyaan orang yang mungkin suatu saat mewawancaraiku “kuliah S1 sampe 5 tahun setengah? Ngapain aja mas?” :D