Jumat, 06 November 2015

Renungan Part 52 (Aku Ingin Mejadi Manusia Apatis)

9gag.com

"Jangan jadi manusia apatis!" 
"payah... mahasiswa sekarang pada apatis!"
"apa sih apatis itu kak?"
"apatis itu tidak peduli, tidak acuh dengan keadaan sekitar... yang kamu perdulikan hanya diri kamu sendiri, kita tidak boleh begitu karena mahasiswa adalah agent of change, kita harus peduli dengan keadaan sekitar kita, dan akhirnya bisa membawa perubahan."

Kata apatis mulai kudengar semenjak mulai masuk bangku perkuliahan; apatisme berkonotasi negatif karena berhubungan dengan ketidakpedulian dan egoisme. Apa yang lebih buruk dari mementingkan pantat sendiri daripada mengutamakan kemaslahatan bersama? Kata apatisme itu adalah sebuah aib. 

Seperti halnya kebanyakan orang, kita cenderung menerima apapun begitu saja karena itu lebih mudah atau lebih menyenangkan. Tidak ada usaha konfirmasi, atau cek n ricek, tidak ada usaha memikirkan kembali, karena itu merepotkan. Sebuah berita bisa dipercaya begitu saja, lalu dishare di medsos tanpa tahu benar tidaknya, tanpa memperkirakan apakah itu memberikan dampak negatif atau tidak bagi orang lain, tak usah repot dan itu lebih menyenangkan. Begitu pula dengan kata apatis.

Mari merenungkan kembali segalanya, kali ini kita mulai dengan kata apatis. Kata ini berasal dari bahasa yunani, dan uniknya, makna kata ini dulu berbeda dengan yang sekarang. Berasal dari kata a- yang berarti "tanpa" dan pathos yang berarti "penderitaan" atau "hasrat" kata apathea (yang kini menjadi apatis) secara literal bermakna tanpa penderitaan atau hasrat. Dalam Filsafat aliran Stoik istilah ini digunakan untuk merujuk sebuah keadaan pikiran yang tidak terganggu oleh hasrat atau keinginan.

Oke... apa maksudnya ini? aku tidak ingin berbicara tentang ajaran stoik secara detail (karena tidak terlalu menguasai) tapi yang pasti poin pentingnya adalah kaum stoik merumuskan sebuah doktrin yang menyatakan bahwa seseorang itu dikatakan sebagai manusia bebas ketika dia tidak diperbudak oleh keinginan.  Kebebasan sejati terletak bukan pada pemenuhan keinginan secara gila-gilaan, justru ada pada sikap pengendalian diri di tengah-tengah godaan yang begitu besar.

Sungguh menarik, karena ketika kita hubungkan dengan ajaran budha, ada satu benang merah yang sangat kuat. Dalam budha, keinginan adalah sumber penderitaan, dan satu-satunya cara mencapai bahagia adalah mengatur sumber penderitaan itu sendiri, yaitu keinginan, atau hasrat. Berbicara masalah pengaturan hasrat, dalam islam pun dikenal puasa, yaitu ibadah yang mengatur pemenuhan hasrat dasar manusia yaitu makan, minum, dan seks. Lalu sedekah dan zakat yang menekan hasrat untuk ingin untung sendiri dan tidak mau berbagi, dan berbagai ajaran lainnya yang jika kita renungkan pasti memiliki hubungan dengan pengendalian hasrat atau hawa nafsu.

Menjadi apatis berarti tidak memarahi pasangan karena mereka tidak bertindak seperti yang kita inginkan, berarti tidak murung ketika belum punya motor seperti yang lainnya, berarti tidak iri dan dengki karena tetangga naik pangkat dan punya mobil baru, berarti tidak selalu membanding-bandingkan diri dengan orang lain, berarti tidak pelit membantu orang yang membutuhkan, berarti tidak larut dalam kesedihan karena dikecewakan atau gagal dalam sesuatu, berarti melawan semua hawa nafsu yang menyebabkan mudharat. 

Agak sulit mempraktekan hal ini di dunia di mana tujuan hidup manusia adalah konsumsi barang. Keinginan manusia selalu dimanjakan dengan berbagai produk, dan tidak memiliki produk itu berarti kesedihan. Pernahkan kita memikirkan apa kita benar - benar butuh barang yang kita konsumsi? alat elektronik, gadget, kendaraan, dan pakaian? "mengkonsumsi karena butuh itu pola pikir orang miskin" temanku pernah berkata. ah... begtiu besarnya pengaruh budaya konsumsi sehingga mendorong manusia memaksimalkan hasrat mereka. Lihatlah kota-kota yang mendewakan hasrat, mereka indah nan gemerlap, semua kebutuhan ada dan bahkan diada-adakan demi memenuhi hasrat manusia. Namun sepertinya ada satu hal yang tidak dapat disediakan kota itu, ketenangan batin. 

Apakah perubahan makna apatis menjadi negatif itu disengaja oleh oknum yang melihat itu sebagai ancaman bagi budaya konsumsi? Entahlah, yang pasti, Aku Ingin Menjadi Manusia Apatis.



Sumber Bacaan

McClain, Gary and Eve Adamson. (2001). The Complete Idiot Guide to Zen Living. Indianapolis: Pearson Education Company.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar