Minggu, 12 Juli 2015

Renungan Part 41 (Lubang di Dalam Hati)

www.azquotes.com

Akhir - akhir ini aku senang sekali mendengarkan lagu-lagu letto. Banyak yang bilang bahwa lagu letto sungguh romantis sehingga cocok bagi orang yang sedang dimabuk asmara, tapi bukan itu yang membuatku senang mendengarkan lagu mereka. Setelah membaca buku tentang tasawuf, aku melihat satu dimensi makna berbeda dalam setiap lirik lagu letto. Kurasa ini bukanlah suatu kebetulan, mengingat pencipta lagu-lagu mereka adalah anak dari Emha Ainun Nadjib. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Salah satu lagu yang menjadi favoritku adalah lagu berjudul "Lubang di Hati". Berikut liriknya dengan sedikit perubahan untuk mengungkapkan nuansa religius yang kutangkap:

Ku buka mata dan ku lihat dunia
T'lah kuterima anugerah cinta-Nya

Tak pernah aku menyesali yang ku punya
Tapi ku sadari ada lubang dalam hati

Ku cari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini
Ku menanti jawaban apa yang dikatakan oleh hati

Reff:
Apakah itu kamu apakah itu dia
Selama ini ku cari tanpa henti
Apakah itu cinta apakah itu cita
Yang mampu melengkapi lubang di dalam hati

Ku mengira hanya dialah obatnya
Tapi ku sadari bukan itu yang kucari
Ku teruskan perjalanan panjang yang begitu melelahkan
Dan ku yakin Kau tak ingin aku berhenti 

Lagu tersebut diawali dengan ucapan rasa syukur akan segala anugerah cinta Yang Maha Kuasa yang kita rasakan setiap harinya. Tanpa maksud untuk tak bersyukur, sebenarnya kita merasakan sesuatu yang kurang dalam hidup ini, ada sebuah lubang yang menganga di dalam hati. 

Harus diakui secara jujur, bahwa lubang di dalam hati ini adalah rasa kurang akan sesuatu. Serasa hidup ini belum lengkap dan belum bahagia tanpa adanya sesuatu itu. Tapi apakah sesuatu itu? Oleh karena itu setiap manusia mencari sesuatu yang mampu mengisi lubang ini. Namun, seringkali kita tidak bertanya kepada pihak yang benar, kita lebih sering bertanya (atau mungkin tidak pernah bertanya, tapi ide itu dijejalkan ke dalam kepala kita oleh masyarakat, pendidikan, atau pergaulan) pada akal. Padahal, yang terbaik adalah bertanya ke dalam hati, seperti yang letto anjurkan. kenapa hati?

Menurut Syekh Ragip al-Jerrahi (seorang tokoh sufi) hati, dalam hal ini berarti hati batiniah, adalah pusat spiritual manusia. Ia adalah sumber cahaya batiniah, inspirasi, kreativitas, dan belas kasih. seseorang yang hatinya tebuka akan lebih bijaksana, penuh kasih sayang, dan lebih pengertian daripada mereka yang hatinya tertutup. Kita seringkali menjumpai orang yang berpendidikan tinggi dan pintar, tapi tindakan mereka tidak bermoral, koruptor contohnya. Mereka adalah contoh hasil pendidikan akal tanpa mempedulikan perkembangan hati. Pendidikan akal (yang menjadi pusat perhatian pendidikan barat) hanya berpusat pada daya kerja akal, seperti matematika dan logika. Mengembangkan hanya akal saja, tidak akan memberikan kebijaksanaan, dan jawaban "apa sesuatu itu?" hanya bisa diberikan oleh kebijaksanaan yang tercerahkan dari hati.

Ketika kita bertanya pada akal, kita seringkali merasakan kebimbangan, apakah jawabannya adalah kamu wahai karir? hm... karir sangat penting, ia adalah salah satu simbol kesuskesan, siapa yang tidak bahagia ketika sukses, pasti itu jawabannya. Benarkah? apakah itu dia yang disebut dengan harta dan jabatan? tidak... banyak orang kaya dan berpangkat tapi tetap merasa ada yang kurang. Mungkinkah itu cinta? apa yang dimaksud dengan cinta? apakah itu pasangan hidup? apakah itu sanak famili? banyak manusia menderita karena mencintai pasangannya, mereka dikhianati, diselingkuhi, merasa tidak dihargai, merasa cinta mereka tidak dibalas secara sempurna sebagaimana yang diinginkan, keluarga pun banyak mensyaratkan cinta mereka, kita dicintai asal menjadi apa yang mereka minta dan mau.... cinta seperti ini membawa lebih banyak lubang. Apakah itu cita? impian?  apa itu impian? cita-cita? apa yang kau rasakan ketika kau telah mencapai cita-cita itu? masih ada yang kurang.

kita sering mengira hal-hal tersebut menjadi obat lubang hati, tapi sebenarnya bukan itu, karena kita mencari di tempat yang salah. Perjalanan ini memang melelahkan bagi yang serius mencari, tapi yakinlah bahwa Allah tak ingin kita berhenti mencari, karena hidup sejatinya adalah proses pencarian. Lalu apa yang sebenarnya dapat mengisi lubang di hati?

lagu tersebut tidak menjawab secara eksplisit, tapi biarlah aku mencoba memberi pendapat, tentu dengan sudut pandang tasawuf (bukan bermaksud sok ahli dalam hal tasawuf, karena pada dasarnya pendapat ini berasal dari pendapat orang lain yang lebih ahli tentunya, penulis hanyalah pencari pemula dalam bidang tasawuf). Cinta adalah jawabannya. Cinta kepada Allah tentunya, Cinta seperti ini menjadi inti dari tasawuf. Cinta kepada Allah tidak sesempit menjalankan perintahnya dan menjauhi larangannya. Seperti yang dikatakan Cak Nun, cinta kepada Allah terwujud dalam ibadah yang tujuannya adalah Allah, bukan surga atau neraka. Ia terwujud pada kehampaan cinta pada segala hal selain Allah. Cinta seperti ini hanya dapat ditemui di dalam hati, bukan akal, melalui proses peyucian hati yang tidak mudah.

Mendengarkan lagu tersebut bagaikan sebuah alunan pengingat untuk selalu berzikir pada-Nya, mengingat apa yang paling penting dalam hidup ini.

Referensi
Frager, Robert. Psikologi Sufi. 2014. Jakarta: Penerbit Zaman.


      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar