Kamis, 13 Februari 2014

renungan part 10 (Kedai 1001 Mimpi)


"Apa yang ada dalam pikiranmu ketika mendengar negara arab saudi?"

Tentu jawaban akan beragam tergantung pada latar belakang orang yang menjawab, namun jika pertanyaan tersebut ditanyakan pada orang indonesia muslim sepertiku, maka selain gambaran padang pasir, aku membayangkan sebuah negeri dimana agama islam lahir. Negeri dimana dua kota penting dalam sejarah islam berada: Madinah dan Mekkah. Negeri yang menjadi tujuan setiap muslim di dunia saat musim haji. Oleh sebab itu, tak aneh pula jika kebanyakan muslim yang kutahu dan termasuk diriku (sempat) menganggap negeri itu sebagai pusatnya islam dan ilmu keislaman. Negeri tempat para orang saleh, alim dan ulama.

Tapi hal tersebut akan segera menjadi paradok ketika bayangan nasib TKW indonesia yang bekerja di Arab Saudi muncul. Pemerkosaan, penyiksaan, bahkan pembunuhan TKW oleh majikan sudah banyak rasanya kulihat di TV, dan mungkin yang tak terliput berita lebih banyak lagi. Bagaimana mungkin negeri para orang saleh memperlakukan TKW yang juga sama-sama muslim (umumnya) seperti itu? apakah kata-kata bahwa semua muslim itu saudara tidak berlaku bagi mereka? apakah para orang saleh itu tidak mengerti bahwa martabat semua manusia itu sama dimata Allah? bagaimana mungkin negeri yang katanya menerapkan Syariah Islam, yang memiliki Polisi Syariah, menjadi tempat yang sangat tidak aman bagi sebagian besar TKW muslim asal indonesia? hilang sudah kepercayaanku pada negara berlandaskan syariah (itu).

Itu adalah sekelumit hal yang muncul dalam kepalaku ketika memikirkan Arab Saudi, dan buku berjudul Kedai 1001 Mimpi karya Valiant Budi menambah kemantapan kesimpulanku bahwa, keimanan dan ketaqwaan manusia tidak didasarkan pada nasab, suku, dan tempat dimana manusia dilahirkan.


Seperti lirik lagu nasyid yang pernah kudengar dari kelompok Snada kalau tak salah, bahwa iman tak bisa diwariskan dari ayah ke anak, seperti itulah pendapatku terutama setelah membaca buku tersebut. Valiant Budi, sang penulis buku, adalah seorang TKI yang bekerja di kota Dammam di Arab Saudi. Dia bekerja menjadi seorang barista di sebuah kedai kopi. Buku yang berisi pengalaman hidupnya di kota tersebut sungguh menakjubkan, atau tepatnya mencerahkan pandanganku sebagai pembaca untuk teguh pada kesimpulanku awalku tentang keimanan dan ketakwaan.

Manusia adalah makhluk yang dapat berbuat salah dan lupa, tak terkecuali penduduk negeri Arab Saudi. Banyak bentuk kebrobrokan masyarakatnya yang dialami sang penulis, mulai dari rasis, kesombongan, hingga kebodohan. Namun ironisnya terkadang mereka membawa-bawa nama agama sambil mengkafirkan orang lain yang tidak sependapat dengannya, seakan-akan dia telah mendapat sertifikat khusus dari Allah bahwa dia selalu benar.

Setidaknya ada dua hal utama yang menjadi hikmah dari kisah Valiant menjadi TKI di Arab saudi. yang pertama, kekayaan (orang Arab Saudi umumnya kaya) yang dibarengi kebodohan akan membuat manusia berperilaku seperti monster. Simaklah penggalaha kisah penulis berikut:

"saya juga ingin ice mocha dan hot mocha!" ujarnya saat melihat daftar menu yang menempel di dinding. lalu setelah dua minuman itu selesai kubuatkan, ia menatap kedua minuman bergantian, "kasih tanda, dong, mana yang panas dan mana yang dingin?!" (halaman 367)

aku jadi teringat salah seorang pelanggan yang memesan cappucino dan latte. Karena saat itu sedang penuh dan perlu menghemat waktu , aku hanya menandai satu cangkir untuk cappucino saja, dengan logika kalau yang satu cappucino yang lainnya pasti latte. Tiba-tiba saja pelanggan itu marah, "Hei bodoh! Kasih tanda dua-duanya dong! kalau ketuker gimana?!" (halaman 368)

Dan kejadian-kejadian lainnya seperti ketika sekelompok bapak-bapak yang tidak mau mengantri untuk memesan bahkan tidak mau membawa pesanan mereka sendiri dengan baki yang disediakan. Atau sekelompok keluarga yang memarahi penulis karena laptop mereka tidak bisa konek wi-fi gratis di kedai, karena mereka tidak menyalakan wireless connectionnya. Bisa dibayangkan, sikap tak menghormati orang lain yang mereka anggap rendah rupanya kenyataan, walaupun mereka salah. pantas banyak TKW yang disiksa.

dan hal yang kedua adalah beragama tidak dapat dipaksakan. kurasa ini sejalan dengan kata-kata la ikraha fi din. toh Arab Saudi yang memiliki polisi syariah pun tetap memiliki warga yang tidak peduli akan akhlak islami. Prostitusi terselubung, homoseksual dan dosa-dosa lainnya tetap terjadi di negeri itu. Ada satu kejadian dimana penulis berusaha mengusir keluarga yang betah nongkrong di kedai padahal sudah azan. peraturan disana menyebutkan jika azan maka semua toko harus tutup dan segera menunaikan shalat berjamaah di mesjid, jika tidak maka siap-siap saja didatangi polisi syariah. tapi si keluarga tadi dengan keukeuhnya tidak mau pergi, baru ketika ada polisi syariah yang menggedor-gedor kaca kedai, keluarga tersebut lari terbirit-birit keluar kedai. Hm.... terdengar mirip kejadianku di pesantren dulu (hahaha...) ya pemberlakuan hukum tanpa penghayatan hanya akan memunculkan taat hukum jika ada petugas yang memperhatikan saja kan. jadi agama itu memang tidak bisa dipaksa kecuali ikhlas dengan penuh kesadaran dari hati masing-masing.

Terlepas dari keburukan yang dialami penulis selama di Arab Saudi, secara objektif kita harus berpikir bahwa memang tidak ada gading yang tak retak. Artinya, di sana pun pastinya banyak orang baik dan benar-benar soleh. tapi merupakan kesalahan besar kita menjeneralisir bahwa semua orang arab dan yang berbau arab itu islami.
Iman dan takwa bisa ditemukan dimana saja, bahkan di negeri yang sering disebut kafir sekalipun. (Valiant Budi)



   








 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar