Rabu, 15 Juni 2016

Renungan Part 63 (Iman itu Irasional)

http://images6.fanpop.com

Serial tv luar negeri memang harus diakui lebih menarik dan enak dinikmati daripada serial tv indonesia. Salah satunya adalah serial tv viking yang tayang di channel History. Serial yang mengisahkan salah satu tokoh Legenda bangsa viking yang bernama Ragnar Lothbrok termasuk dalam salah satu serial tv favoritku, setelah Game of Throne tentunya. Dan Satu episode berjudul sacrifice di season pertama dari serial ini sungguh menarik sehingga membawaku pada kebiasaan diam sendiri dan merenung.
 
Dikisahkan Ragnar yang telah menjadi Earl (semacam kepala suku) berangkat menuju sebuah tempat pemujaan bersama rombongan dimana akan diadakan acara keagamaan tahunan. Banyak bangsa viking dari berbagai suku berkumpul disana untuk berdoa dan memberi persembahan pada Odin, dewa mereka. Salah satu bentuk persembahan pada zaman ini, selain menyembelih hewan, adalah menyembelih manusia. Tapi persembahan manusia yang dibawa Ragnar tidak diterima oleh pendeta mereka karena persembahannya tidak percaya dengan Odin (dia adalah budak beragama kristen hasil penjarahannya di Inggris). Sang pendeta berkata bahwa Odin akan terhina menerima persembahan yang tidak rela disembelih demi Dewa yang tidak ia percayai, dan sang pendeta meminta salah seorang dari rombongannya secara sukarela menggantikan si orang kristen menjadi persembahan. Tentu ada beberapa yang sebenarnya rela, tapi hanya satu yang dipilih. Ia tersenyum mengangguk kepada semua orang sebelum lehernya disembelih oleh sebilah pedang. Ia terlentang di altar penyembelihan dengan penuh keyakinan dan kemantapan hati.
 
Hal pertama yang menarik adalah persembahan manusia pada zaman itu sangat lumrah, aku berpikir mungkin itu pula keadaannya kenapa Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih anaknya (setting film Viking sekitar 5 ratus tahun setelah Nabi Isa dilahirkan, sedangkan Nabi Ibrahim tentunya hidup jauh lebih dulu). Penyembelihan manusia di zaman sekarang tentu sangat tidak disetujui dan dianggap biadab demi alasan apapun, mungkin karena itulah Nabi Ismail diganti oleh Allah dengan hewan, untuk merubah budaya penyembelihan manusia.
 
Hal yang kedua adalah kenapa para persembahan itu sangat yakin dan tampak bahagia disembelih? manusia zaman sekarang pasti akan menyebut mereka bodoh, walau alasannya agama sekalipun. Agama seperti itu pasti dicap sebagai agama sesat, agama bodoh. Tak aneh Islam terkena juga sebutan itu, karena setahuku pelaku bom bunuh diri pun tersenyum ketika meledakan diri. Apa bedanya dengan persemabahan di film viking tersebut? tak ada bedanya, mereka sama-sama percaya bahwa mereka mati demi kebaikan agama, demi tuhan mereka, dan akan mendapat tempat khusus di samping-Nya. Tapi, jika kita berpikir scara rasional.... itu semua bodoh.... Iman memang irasional.

Aku melihat orang yang sangat beriman bisa seperti orang yang jatuh cinta. Mereka mampu melakukan hal-hal yang tidak masuk akal, pengorbanan yang luar biasa bahkan nyawa pun diberikan demi yang dicintainya. Itulah iman, mungkin kurasa akan lebih baik beriman dengan hati daripada dengan rasionalitas, seperti puisi Jalaludin Rumi "kaki kaum rasionalis adalah kaki kayu, dan kaki kayu amatlah rapuh". Sejauh ini, Rasionalitas hanya membantuku membenci golongan muslim yang tidak sepaham denganku, sekuat apapun kutahan rasa tidak suka ini, akan selalu ada rasa ketus dan mencibir dalam diri ini. Kenapa aku harus mencibir orang yang memanjangkan jenggot? orang yang bercelana cingkrang? orang yang merazia tempat makan di siang hari? Semua itu hanyalah bukti rasa cinta mereka pada Nabi Muhammad dan Allah, kenapa aku harus mencibir mereka? kalaupun ternyata cara mereka salah, kurasa atas dasar bahwa aku tidak menyukai mereka karena aku pun mencintai Nabi Muhammad dan Allah, sepatutnya aku memperlakukan mereka dengan cinta pula. Tapi aku belum mampu.
 
Maka, di Ramadhan ini aku hanya berdoa semoga aku mampu melihat dunia lebih dengan hati daripada rasio. 




 
 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar