Rabu, 08 Januari 2014

Renungan part 2


Dulu pernah ada temanku bertanya.
“ngapain sih cape-cape jadi pengurus di UKM? Kayak digaji aja… mending kerja dapet duit”
Saat itu aku cuma tersenyum mendengarnya, diam tak bisa menjawab, perkataannya memang ada benarnya, tapi anehnya aku tetap mau menjadi pengurus dan sangat menikmatinya. Pertanyaannya adalah kenapa aku masih mau menjadi pengurus? Dan alhasil hanya menyisakan sedikit waktu untuk nyambi kerja untuk sekedar jajan tambahan. Sementara banyak teman-temanku yang kupu-kupu dan banyak memiliki waktu untuk kerja sudah mendapat gaji yang lumayan. Kok aku rela melepas kesempatan itu? Setelah merenunginya…… aku tahu, aku tidak pernah menyesali hal itu.
Aku melihat alasanku ini dari dua sisi, internal dan eksternal. Sisi internal adalah alasan yang berasal dari dalam diriku sendiri, kepuasan, kesenangan dan lainnya. Sementara sisi eksternal adalah faktor lingkungan UKM yang membuatku jatuh hati padanya.
Sisi internal aku mulai dari perasaan bahwa aku memiliki tanggung jawab untuk berkontribusi entah sekecil apapun itu bagi UKM ini. Ketika kita tahu bahwa usaha sekecil apapun yang kita berikan ternyata berdampak pada hal lain (dalam konteks ini, usaha-usahaku berdampak pada keberlanjutan kehidupan UKM dan anggota lainnya), ada rasa kepuasan batin yang tak terhitung. Seorang ahli manajemen asal amerika bernama Patrick Lencioni berkata dalam bukunya the three signs of miserable job bahwa salah satu alasan orang mencintai pekerjaannya adalah ketika dia tahu dan merasa adanya relevansi dalam pekerjaannya, yaitu adanya dampak dari yang dia kerjakan kepada hal lain atau mungkin kehidupan orang lain. Kesadaran bahwa kontribusi apapun, sekecil apapun yang kuberikan sangatlah berarti dan penting bagi UKM dan anggotanya membuatku bertahan.
Lebih jauh lagi kurasakan bahwa relevansi ini tidak hanya selesai di masalah dampak kepada orang lain, tapi relevansi dengan bidang ilmu yang kugeluti. Di UKM aku menemukan masalah konkrit dari teori-teori yang diajarkan pada mata kuliah semacam Methods of Teaching, Teaching English as a foreign Language, Curriculum Development serta berbagai teori tentang pengajaran bahasa seperti masalah language acquisition. Di UKM aku temukan tempatku menerapkan semua teori itu. Itulah kenapa aku sangat bersemangat menjabat bidang yang berhubungan dengan kebahasaan (walau pada praktiknya tidak terlalu maksimal L). Artinya, Adanya kesempatan mengaktualisasikan teori yang kudapat dari bangku kuliah di dunia nyata menjadi alasanku bertahan.
Satu hal terakhir adalah adanya masalah nyata yang harus kuselesaikan. Ketika naik menjadi pengurus, banyak pekerjaan rumah yang harus dibenahi untuk mencapai tujuan bersama. Disitulah aku diajari mencari solusi atas suatu masalah, berani mengambil keputusan, dan berpendirian teguh dengan keputusanku. Seluruh aktifitas ini adalah sebuah ladang pendidikan mental dan karakter bagiku. Hal ini sangat berarti bagiku sebagai orang yang tidak pernah merasakan hal ini sepanjang hidupnya karena dari TK sampai SMA, problem solving tidak pernah terasa senyata dan semengasyikan seperti di UKM, bahkan mungkin aku tidak pernah mendapatkan kesempatan itu di institusi pendidikan formal.
Di sekolah aku hanya diajarkan bahwa pendidikan itu adalah hanya mengenai menghafal teori, memahaminya, dan memanfaatkan memori itu dalam ujian, dan mendapat nilai yang bagus. Sudah cukup. Tidak ada kesempatan untuk mengolah mental dan karakterku. Oleh karena itu, Kesempatan untuk mengeksplor mental dan karakter merupakan hal berpengaruh yang membuatku bertahan.
Ada pula sisi eksternal yang membuatku tetap bertahan, yaitu pola hubungan yang berdasarkan kekeluargaan. Mereka menerimaku dengan semua kelemahanku, entah mengapa aku merasa sangat nyaman, dan bahkan berkat mereka aku bisa merubah diri, entah bagaimana prosesnya yang pasti ada perubahan dalam diriku.
Aku teringat saat masa amanahku selesai dan ketika laporan pertanggungjawaban pengurus, aku berkata bahwa ketidakberesan pengurus periode ini memang semata-mata karena kelemahanku yang tidak bisa mengaturnya. saat itu aku merasa bahwa mengakui kelemahan di depan mereka bukanlah hal yang menakutkan dan mengancam diriku (biasanya orang tidak mau disebut lemah, dan selalu mencari alasan untuk menutupi kelemahannya), selain hal itu merupakan jalan terbaik yang dilakukan pemimpin, aku juga merasa bahwa it won’t do me any harm because I trust them.
Aku sempat berpikir bahwa ini bukanlah organisasi biasa, this is more than organization, it is how a family supposed to be (ada satu kejadian yang tak bisa diceritakan di sini yang benar-benar membuatku jatuh hati pada UKM ini). Intinya, kekeluargaan adalah sisi eksternal yang membuatku bertahan.
Setelah kurenungi, semua hal tersebut bagiku ternyata lebih penting dari pada uang sekalipun. Mungkin karena pengaruh pandanganku bahwa hidup ini bukan hanya masalah uang, materi memang penting tapi bukan menjadi tujuan hidup ini. Di hadapan Allah, orang yang mulia bukanlah orang yang memiliki banyak harta, namun orang yang paling bertakwa. Takwa menurut Harun Nasution dalam bukunya Islam Rasional, identik dengan sikap luhur (sikap-sikap terpuji) karena pada esensinya takwa adalah menjauhi larangan-Nya dan menjalankan perintah-Nya. Larangan Allah adalah hal-hal yang buruk dan perintah Allah adalah hal-hal yang terpuji, oleh karena itu aku memahami orang yang bertakwa adalah orang yang memiliki sifat-sifat baik nan terpuji. Di UKM, aku merasakan bahwa perubahan ke arah sifat baik (dalam mental dan karakter) sangat ditekankan demi kemajuan organisasi.
Hal yang kusadari berikutnya adalah bahwa proses yang dijalani anggota UKM ini (proses menjadi pengurus), tujuannya tidak sesempit untuk memajukan UKM belaka, tapi memiliki makna luas, yakni pembentukan manusia yang lebih baik, lebih terpuji, lebih bertakwa. Setidaknya itu yang aku rasakan, dan inilah yang tidak pernah aku sesali, bahwa aku merasakan pengalaman luar biasa ini di kepengurusan UKM, walaupun perubahan itu baru sedikit kurasakan tapi setidaknya kesadaran akan hal ini telah ada, toh pada dasarnya manusia sepanjang hidupnya terus berproses.  





Tidak ada komentar:

Posting Komentar