Kamis, 14 Mei 2015

The Last of Us: Book of Death (Part 2)


Mata bayu terasa berat, tidak seperti biasanya, kali ini tidak terdengar gangguan dari kamar sebelah di jam empat pagi, entah karena memang Santi tidak melakukan kegiatan hariannya, atau karena tubuh Bayu terlalu lelah sehingga gangguan itu tidak terdengar. Bayu mengambil smartphone yang telah dicasnya semalaman. Di zaman sekarang, hal pertama yang dilakukan manusia saat bangun tidur adalah mencari smartphonenya. Tampak beberapa pesan masuk sejak subuh, dan satu panggilan tak terjawab. Rupanya dari winda, pasti dia mencoba membangunkanku pikir bayu. Kini dia mengecek kotak pesan, Senyum Bayu mengembang.

“pagi sayaaang.... ayo bangun, nanti kamu terlambat”

“ih.. dasar tukang tidur.... ditelponin gak bangun-bangun.”

Jari bayu menari di layar touchscreen smartphonenya.

“ini baru bangun cinta... makasih ya udah bangunin”

Kini bayu bersemangat menyambut paginya, dia segera mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Gading rupanya telah berada di dalam kamar mandi, menunggu gading selesai mandi sama seperti menunggu bus transjakarta, sangat lama dan menyebalkan. Bahkan gading yang laki-laki mandi lebih lama dari santi, bayu memutuskan untuk memakai kamar mandi bawah yang biasa dipakai pembantu.

Biasanya, mbo Iyem sudah sibuk membersihkan rumah dan menyiapkan sarapan jam segini, tapi tidak sedikitpun terlihat batang hidungnya. Mbo Iyem tidak tinggal di rumah itu, setiap pagi jam lima biasanya dia datang dan pulang sekitar jam empat sore, kalau tidak salah dia tinggal di dekat Situ Gintung, tapi sudah beberapa hari ini dia memang terlambat, katanya dia sekarang tinggal bersama anak pertamanya di pasar jumat, dekat dengan Lebak Bulus. Mungkin hari ini pun dia terlambat pikir bayu.

BRAKK!! Terdengar suara pintu dibanting, bayu menoleh, Santi berlari ke arah gudang mencari sesuatu, kini dia kembali dengan sebuah gembok besar di tangan, dia segera keluar. Bayu penasaran, apa yang sedang dilakukannya. Dia mengintip santi dari balik jendela, Santi sedang menggembok pagar depan. Apa yang dia lakukan? Pikir Bayu. Begitu kembali ke dalam rumah Santi segera mengunci semua pintu, pintu depan, belakang, bahkan jendela, semua dia kunci rapat-rapat. Bayu tahu peraturan nomor dua tentang santi, jangan pernah menegurnya langsung, tapi saat ini tante Mira sedang tidak ada, dan kelakuan Santi bisa jadi masalah, sebaiknya dia berbicara dengan Santi, batin Bayu.

“em... kenapa semua pintu dikunci san?” Tanya bayu datar, mencoba tidak menyinggungnya. Setahu Bayu, orang tidak waras mudah tersinggung.

“jangan ada yang keluar..!” Santi duduk di sofa sambil menatap lantai. Tatapannya kosong. Semua kunci pintu dan gembok dipegangnya erat-erat.

“Maksudnya?” Bayu melihat percikan darah di tangan Santi, di kaos putihnya yang basah oleh peluh, dan di wajahnya.

“kau harus dengar bayu, tidak ada yang keluar, disana berbahaya...” kini matanya mendelik Bayu.

Waduh, repot ini urusannya, gumam Bayu. Sepertinya Santi sedang kambuh, semenjak bayu tinggal disana, belum pernah ada kejadian seperti ini. Terakhir kali dia kambuh, menurut tante mira, tiga tahun yang lalu, dia memukuli tukang kebun tante Mira sampai babak belur, tanpa alasan yang jelas. Bayu hanya menatap Santi yang kembali menundukan kepala memandang lantai, kali ini tampak tubuhnya menggigil, Bayu tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Terdengar siulan Gading yang baru keluar dari kamar mandi, Bayu segera beranjak mendekatinya. Wajahnya yang ceria berubah kusut mendengar cerita Bayu tentang kelakuan Santi. Gading memutuskan untuk berbicara dengan Santi.

“Santi... aku dan bayu harus berangkat jam setengah delapan, boleh kan kita pinjem kuncinya sebentar.”

“jangan ada yang keluar, di sana berbahaya,” jawab santi lirih.

“san... aku harus bekerja, bayu ada pelatihan, jadi kita harus keluar.”

“di sana berbahaya..!” suaranya meninggi.

“Bahaya apa sih?”

“kau bisa mati kalau keluar, Gading!” Santi menatap Gading.

Gading, bayu, dan santi terdiam beberapa saat. “kita ikat saja cewe gak waras ini” bisik gading kepada Bayu.

“kita pake cara kekerasan?”

“ya aku sih menyebutnya pemaksaan” Bayu menelan ludah, setahu dia Santi pasti lebih kuat kalau masalah fisik, bisa-bisa dia yang benjol kena gebuk santi.

“aku dengar...” santi mendelik Gading.

“eh...”

“kau pikir aku tidak dengar apa yang kau bilang barusan” dia berdiri. Sepertinya dia tersinggung. Bayu merasa bulu kuduknya berdiri, dan jantungnya berdetak lebih cepat, melihat santi berdiri sambil mengepalkan tangannya, seakan ingin menghajar Gading, Bayu serasa beku karena keadaan.

“kau bilang aku cewe apa?” santi menunjuk Gading, tidak sempat dia melanjutkan kata-katanya. Terdengar suara dari luar berteriak.

“Den Bayu... Den Gading... Tolong bukain gerbang....” itu suara Mbo iyem. Ada sesuatu yang tidak biasa dari suaranya, seperti suara orang yang menangis. Santi segera menuju jendela untuk mengintip, dan segera melemparkan kunci kepada Bayu.

“cepat bukakan!”

Tanpa protes bayu segera menuju gerbang, dan terkejut melihat mbo iyem terduduk depan gerbang sambil menangis, kakinya bersimbah darah, motor bebek jadul andalannya digeletakan begitu saja di tengah jalan. Dengan sigap Bayu yang dibantu Gading menggotong mbo iyem  ke dalam rumah, santi segera mengunci kembali gerbang dan pintu.

“mbo apa yang terjadi?” tanya Bayu. Mbo Iyem, hanya menangis menahan sakit.

“Gading ambilkan air, kain bersih, alkohol, dan perban!” Komando Santi, Gading segera bergerak menuju tempat P3K dekat gudang.

“Mbo... apa yang terjadi? Siapa yang melakukan ini?” Bayu kembali bertanya, namun kini erangan sakit mbo Iyem berhenti, hanya ada kesunyian yang keluar dari mulutnya. Santi segera memegang urat nadi di leher Mbo iyem.

“dia masih hidup...” Bayu dan santi lega, ternyata Mbo iyem belum meninggal, dia hanya kehilangan kesadaran. Mereka mendudukan mbo Iyem di sofa. Kini Gading telah kembali, Santi segera membasuh luka di betis kanan Mbo iyem, dan memperbannya, tidak rapi, santi bahkan tidak tahu cara merawat luka seperti itu, yang terpenting darahnya berhenti mengalir.

“daging di betisnya dikoyak.... seperti bekas digigit.” Gumam Santi.

“apa mungkin dia digigit anjing? Setahuku tidak ada anjing liar di dekat sini. Sebaiknya kita segera bawa dia ke dokter.” Saran Gading.

“tidak.... itu bukan anjing, dan sudah kubilang, tidak ada satu pun yang keluar dari rumah, kecuali dia mau bernasib sama seperti mbo Iyem!”

“memangnya ada apa di luar sana? Apa yang membuat mbo Iyem menjadi seperti ini?” teriak Gading.

“aku tidak tahu... tapi yang pasti di luar sana berbahaya!” santi balas berteriak.

Gading dan bayu sadar, berdebat dengan santi sepertinya tidak akan menyelesaikan masalah. Mencapai kesepakatan tentang sesuatu dengan orang waras tapi penuh kepentingan saja sudah sangat sulit, apalagi jika yang dihadapi adalah orang yang kurang waras model santi. Bayu segera menarik gading ke dapur.

“kita harus melakukan sesuatu, aku takut mbo iyem kenapa-napa kalau tidak segera dibawa ke dokter.” Bisik Bayu.

“benar.. tapi kau tidak lihat tadi, santi tidak bisa dibujuk, lalu apa yang harus kita lakukan? Mencoba memberinya pengertian itu bagai menabur garam di lautan.”

“biar kupikir dulu.” Bayu duduk di kursi meja makan, sambil berpikir ia memperhatikan santi yang mondar-mandir di ruang tengah, mbo iyem terduduk di sofa membelakangi bayu. Tiba-tiba bayu melihat kepala mbo iyem bergerak.  Perlahan, mbo iyem bangkit dari sofa. Santi mematung, menatap mbo iyem, pandangannya dipenuhi kengerian. Sementara itu bayu segera menghampiri mbo iyem.

“mbo... mbo tidak apa-apa?”

“jangan Bayu!!” teriak santi.

“kenapa?”

Terlambat, mbo iyem berbalik, dan langsung menerkam bayu yang berada di belakangnya. Bayu tidak sadar dengan apa yang terjadi, yang dia tahu kini dia terlentang dan mbo iyem mencoba untuk menggigit lehernya, reflek dia menahan leher mbo iyem sekuat tenaga, wajahnya tepat terhenti di depan wajah bayu. Air liur bercampur darah menetes dari mulut mbo iyem yang terus mencoba mencapai leher bayu, matanya kuning menjijikan.

“AAAARRGH....” bayu sekuat tenaga menahan mbo iyem, tenaganya sangat besar, mbo iyem yang sudah tua, memiliki tenaga sebesar kuli bangunan berumur 20an, tidak mungkin. Batin bayu. Kini gigi mbo iyem telah menyentuh kulit leher bayu, tangan bayu sudah tidak bertenaga, dan akhirnya... BUKK!!!!

Mbo iyem terlempar ke samping menabrak sofa karena ditendang santi tepat di perutnya. Mbo iyem seperti tidak merasakan sakit, dia kembali berdiri dan kini balik menerjang santi. tapi, santi lebih cepat, dia tangkap tangan mbo iyem, lalu membantingnya ke lantai. Mbo iyem terjatuh tepat di atas meja kaca depan televisi. Meja tersebut pecah menimbulkan suara gaduh, banyak pecahan kaca terlempar ke berbagai sudut ruangan.

“anjriiit....” Gading berteriak. “mbo sadar mbo!!!” dia bersembunyi di balik sofa. Mbo iyem mengerang, sepertinya dia belum selesai, dia berdiri kembali, sebilah pecahan kaca besar menancap di punggungnnya, tapi mbo iyem seperti tidak merasakannya sedikitpun. Berbeda dengan mbo iyem yang tadi merintih kesakitan karena kakinya terluka.

“seharusnya dia tidak bisa bangkit lagi..” gumam santi.

“kenapa dengan mbo iyem?” tanya bayu. Mbo iyem berlari ke arah santi, gerakannya masih sama, mencoba menerkam, santi kembali menangkap tangannya dan membantingnya kembali ke lantai, tapi kali ini santi tidak melepaskan cengkramannya, dia memutar tangan mbo iyem dan menginjak sikunya sekuat tenaga. Bunyi tulang patah terdengar. Santi telah menghancurkan sendi siku kanan mbo iyem.

“Apa yang kau lakukan santi? kau bisa membunuhnya!” gading lagi-lagi berteriak.

“berisik sekali kau!” santi geram.

Mbo iyem masih mampu berdiri, walau tangan kananya menggantung-gantung setelah dipatahkan santi, dia nampak tidak merasakan itu sedikitpun. Air liur terus menetes dari mulutnya seperti anjing kelaparan yang baru menemukan seonggok daging. Dia mengerang dan hanya berdiri nampak menunggu sesuatu. Bayu, gading dan santi terbengong melihatnya, ketiganya diam membatu menunggu gerakan mbo iyem. Tapi sepertinya dia sedang tidak ingin bergerak, dia hanya berdiri terdiam.

“mbo...” bayu memanggil. Seketika mbo iyem menoleh dan menerjang bayu, beruntung bayu berhasil menghindar, tapi mbo iyem masih mengejarnya. Santi segera menghadang dan menendang perut mbo iyem, ia hanya mundur beberapa langkah dan kembali menerjang.

“sialan..” batin santi. Dengan sangat lincah santi berkelit dan berhasil menangkap mbo iyem dari belakang, kedua tangannya melingkar mengunci leher mbo iyem, dan dalam sekali gerakan dia mematahkan lehernya.

“dengan begini dia tidak akan mampu berdiri lagi.”

“aaah.... kau membunuh mbo iyem?” teriak gading.

“diam kau! Dari tadi hanya berteriak saja, memangnya apa yang harus kulakukan?” balas Santi.



Hening terjadi beberapa saat, semuanya kacau, kepala bayu pening tak mampu memahami semuanya, kini mbo iyem teronggok menjadi mayat di sudut rumah ini, dan santi lah pelakunya. Bayu duduk di sofa, tak mampu bicara, Gading duduk di sampingnya, begitu pun santi. dia duduk di sofa sebelah bayu. Mereka bertiga menggigil, bukan karena dingin, tapi karena takut. Gading menyalakan televisi dengan maksud menghilangkan suasana tidak nyaman itu, tapi ternyata di televisi, mereka melihat hal yang lebih menyeramkan terjadi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar