Minggu, 24 Mei 2015

The Last of Us: Book of Death (Part 3)


Semua stasiun televisi memberitakan kekacauan di beberapa tempat di jakarta, lebak bulus salah satunya, kekacauan yang disebabkan oleh ratusan orang mengamuk tanpa sebab dan mulai melukai warga sekitarnya dengan cara menggigit mereka! jangan-jangan luka di kaki mbo iyem adalah gigitan warga yang mengamuk itu, pikir Bayu.

Tampak di layar televisi, seorang reporter laki-laki melaporkan langsung dari tempat kejadian, tiba-tiba seorang warga yang mengamuk berlari menubruknya dari belakang, dan menggigit pundak si reporter, darah bercucuran, dan semua itu terekam oleh kamera, live disaksikan seluruh penduduk yang menonton acara tersebut. Pihak stasiun tv segera memutus sambungan kamera tersebut.

“gilaaaa.... apa yang  baru saja terjadi??” Gading panik.

“itu yang aku maksud, kita tidak boleh ada yang keluar, saat aku joging ke lebak bulus, aku bertemu dengan beberapa orang gila itu, tapi aku berhasil kabur setelah aku menghajarnya. Tak kusangka ini terjadi hampir di seluruh kota.”

“jadi... darah di badanmu itu...” bayu tidak dapat meneruskan kata-katanya.

“ini milik mereka,... mbo iyem pasti diserang oleh mereka, dan entah bagaimana dia berubah menjadi seperti mereka.”

“kegilaan mereka menular?”

“sepertinya...” angguk Santi.

“Lalu kita harus gimana?”  Gading berteriak dengan panik.

***
Bayu terbangun, mata kuning mbo iyem yang mencoba menyerangnya tadi terbayang di mimpi. Dia tertidur di sofa sejak sore karena lelah memblokir semua akses masuk ke dalam rumah. Kini sebatang lilin di atas meja menerangi ruangan utama rumah itu. Semua furnitur besar di rumah ini seperti lemari telah dipindahkan untuk menghalangi pintu agar tidak bisa didobrak dari luar. Sejak siang, para manusia rabies, begitu Gading menyebutnya, telah berkeliaran di perumahan ini. Mereka selalu mencoba mendobrak masuk ke rumah, itu sebabnya tidak ada lampu yang menyala, hanya lilin menerangi ruangan besar itu.

Mayat mbo iyem masih tergeletak di tempat yang sama, tergolek dengan mata melotot dan mulut mengeluarkan semacam busa berwarna putih, ketika mata bayu tak sengaja melihatnya, rasa mual menyerang, pening di kepalanya masih belum hilang, dan jawaban operator yang sama masih didengarnya ketika dia mencoba menelpon Winda.

Entah bagaimana perasaan gading tapi yang jelas nafsu makannya tidak berkurang sedikitpun. Kini dia telah menghabiskan piring mie instan keduanya, saat dia senang seperti saat berhasil mendapatkan pacar, dia merayakannya dengan banyak makan, saat dia sedih ketika sering ditolak perempuan, dia pun menghibur hatinya dengan banyak makan, dalam kondisi ketakutan seperti sekarang pun dia tetap banyak makan. Bayu kembali melirik mayat mbo iyem, dia yakin sekali, tidak akan ada makanan yang bisa ditelannya saat ini.

“kita harus membuang mayat itu,” santi datang membawa sepiring mie instan dari dapur. “baunya mulai menusuk hidung.” Dia menyuapkan sesendok mie. Gading masih sibuk dengan mienya, sementara bayu hanya merubah posisi duduknya di sofa.

“oh tuhan... tidak adakah cara lain, aku tidak berani menyentuh makhluk itu.” Rengek gading. Bayu setuju dengan gading, tapi mayat itu harus dienyahkan jika bayu ingin mualnya hilang.

“biar kubantu...” bayu berinisiatif. Dia segera memegang kedua kaki mbo iyem, sementera santi memegang kedua ketiaknya. Bayu menahan nafas tidak ingin sedikitpun mencium baunya, ketika dia mulai kehabisan udara, dia memaksa bernafas lewat mulut, tidak nyaman, tapi lebih baik daripada menghirup udara yang berbau mayat mbo iyem. Kini mereka berdua menaiki tangga menuju balkon.

“apakah mayat biasa mulai berbau setelah enam jam meninggal?”

“kurasa tidak, ada yang aneh dengan mayat ini. Dia membusuk lebih cepat.”

“apakah karena penyakit yang membuat mereka menjadi gila?”

“mungkin..” santi hanya mengangkat kedua bahunya. Dia tidak menunjukan sedikitpun rasa jijik, setelah yang dilakukannya pada mbo iyem, atau makhluk yang dulunya mbo iyem ini, dia tetap terlihat biasa saja. Kini mereka berada di balkon. Tempat tersebut merupakan favorit bayu di sore hari, karena dengan duduk di balkon rumah ini, kau dapat melihat matahari ketika ia terbenam, sungguh indah. Tepat dibawahnya adalah jalanan komplek, santi memperhatikan keadaan sekitar memastikan tidak ada makhluk gila itu di jalanan. Hanya ada satu, dia sedang menabrak-nabrakan dirinya ke tembok pagar rumah ini, mereka sepertinya menjadi bodoh dan tidak berakal, mereka bahkan tidak tahu cara membuka pintu.

BUKKK.... mayat mbo iyem menabrak aspal. Si manusia gila dekat pagar mendengar suara itu, dia berlari mendekati mayat mbo iyem, mengendus-endusnya seperti seekor kucing yang menemukan makanan dan memastikan bahwa itu layak dimakan, kemudian kembali menabrak-nabrakan diri ke tembok yang tadi, mayat mbo iyem tidak layak dia makan.

“sungguh bodoh...” gumam santi.

“apa dia bisa melihat kita?”

“kurasa tidak. Kurasa kita bisa menyalakan lampu sekarang.” Santi berbalik menuju kamarnya. bayu kembali ke ruang tengah, gading terkapar di sofa memegangi perut. Sepertinya roti bakar dapat membuat perut bayu lebih baik. Dia segera menuju dapur, dan kembali duduk di sofa dengan dua potong roti bakar hangat.

“semua ini terasa seperti mimpi...” gading benar, tapi bayu tidak pernah memimpikan hal yang sangat buruk seperti ini. “di film-film... ini adalah bencana zombie, kau tahu, mereka adalah mayat hidup yang bangkit kembali dengan rasa lapar akan daging manusia.” Bayu teringat film zombie yang ditonton terkhir kali beberapa bulan yang lalu dengan winda di bintaro plaza, ah... bagaimana keadaan winda saat ini, bayu segera mengambil hape mencoba menelponnya, tapi lagi-lagi operator yang menjawab.

“alat komunikasi lumpuh, listrik padam, dan akhirnya peradaban musnah. Itu yang terjadi berikutnya.”

“makhluk itu terlihat sangat bodoh, aku tidak yakin mereka mampu mengalahkan manusia,”

“mungkin, tapi sejak sore semua stasiun tv mati, adakah polisi yang datang menyisir tempat ini mencari korban selamat? Mereka mungkin sibuk menyelamatkan diri.”

“aku yakin pemerintah sedang melakukan sesuatu. Mereka pasti punya rencana..” ada keraguan di kalimatnya sendiri. Tidak, itu adalah harapannya, bahwa semua akan baik-baik saja. Kini gading dan bayu sama-sama terdiam, mereka berdua tenggelam dalam lamunannya masing-masing. Dunia bayu akan indah jika semua ini tidak terjadi, karir, percintaan, dan kehidupan sosialnya begitu sempurna jika saja ini tidak terjadi, jika oh.. jika...., apakah semua itu dapat kembali seperti semula ketika semua ini berakhir? Kapan ini akan berakhir?

Gading bukanlah seorang pejuang, dia jenis orang yang terbiasa melarikan diri dari masalah, dan juga orang yang pesimis. Dalam keadaan seperti ini, pikirannya hanya dipenuhi dengan segala kemungkinan buruk yang dapat terjadi, dan solusi terbaik yang ada di otaknya ini adalah bunuh diri, dia tidak ingin mati pelan-pelan dicabik-cabik oleh makhluk itu seperti pak septo tetangga sebelah tadi siang.    

“hey... jika ini adalah hari terakhirmu hidup, apa yang ingin kau lakukan?”

“apa yang kau bicarakan?” bayu tidak nyaman dengan pertanyaan gading. “kita tidak akan mati besok!”

“Kau benar, mungkin lusa kita akan mati.”

“Gading... Cukup!”

“setiap manusia pasti akan mati..”

“ya.. tapi aku tidak akan mati oleh makhluk itu, aku sudah memutuskan untuk mati di pelukan winda!”

“aku yakin sekali pernah mendengar bahwa kapan kita mati sudah diputuskan oleh tuhan jauh hari sebelum kita bahkan lahir...” bayu diam tak dapat menjawab. “jika kau dapat selamat sampai bencana ini berakhir, apa kau yakin winda selamat? Dari tadi kau tidak dapat menghubunginya kan?” bayu segera beranjak dan menarik baju gading dengan kasar.

“bajingan... berani sekali kau bilang begitu?!”

“aku hanya bilang bahwa kematian tidak ada yang tahu kapan akan datang” wajah gading datar penuh keputusasaan. “jika ini hari terakhirmu, apa yang ingin kau lakukan?” bayu melepas baju gading, dia terduduk, air mata membasahi pipinya.

“aku hanya ingin memeluk winda...” bayu menyeka air matanya. “dengar gading, aku tahu kita sama-sama putus asa, tapi aku yakin jika kita berjuang, kita dapat mengatasi bencana ini.” Itu adalah kata-kata yang terlahir dari pengalaman bayu yang berjuang untuk sekolah dari kecil. Pengalaman itu telah memberikan bukti bagaimana kerja kerasnya membuahkan hasil. Walau harus bayu akui, tidak ada masalah di pengalamannya sebesar masalah yang mereka hadapi sekarang.

“aku sangat takut bayu... tapi ini membuatku berpikir, apa yang kutakutkan sebenarnya? Para makhluk rabies itu? Atau kenyataan bahwa aku bisa mati dalam waktu dekat ini? Dan kusadari bahwa aku takut mati!” bayu pun takut, dia takut tidak bisa melihat dan menyentuh winda lagi.

“hey... kalian berdua bisa tenang tidak?” Santi datang sambil menyeruput kopi, sepasang headset menggantung di telinganya, dia kini mengenakan piyama berwarna biru muda dengan corak tokoh kartun yang bayu tidak kenal. Bau shampoo tercium dari rambutnya yang masih basah terurai, sepertinya dia baru saja mandi. Wajahnya tenang, tidak seperti santi di siang hari yang gemetar melihat mbo iyem bangkit dengan sebilah kaca menancap di punggungnya.

“kau? Bagaimana kau bisa setenang itu dalam situasi seperti ini?” bayu heran.

“tenanglah... kita aman di dalam rumah ini, asalkan kalian tidak membuat kegaduhan seperti barusan. Asal kalian tahu, mereka sangat tertarik dengan suara.” Jawabnya tenang.

 “apa kau yakin?” gading tidak percaya. Terdengar kegaduhan dari arah gerbang depan, seseorang memanjat pagar, dan menggedor-gedor pintu depan. 

“tolong.... tolong... buka pintunya...”

ketiganya kini saling menatap. Jika dibiarkan, dia akan menarik perhatian makhluk itu. Santi memiliki ide, dia segera menuju jendela, dari sela-sela besi tralis jendela, dia melihat seorang laki-laki terus saja menggedor pintu. Beberapa manusia rabies mencoba mendobrak pagar tertarik dengan si laki-laki. Pagar itu terlalu kuat untuk mereka robohkan.

“hey... Sssst...” santi memanggil. Si lelaki menoleh.

“tolonglah mba.. tolong biarkan aku masuk.”

“oke... tapi kau jangan berisik. Sekarang kau masuklah ke garasi!” santi dibantu bayu, memindahkan furnitur yang menghalangi pintu penghubung rumah dan garasi. Kini mereka semua berada di ruang tengah. Rupanya si lelaki melihat lampu menyala di kamar santi, dan mengira bahwa di rumah itu ada manusia. Santi segera menyadari kesalahannya, lampu mungkin tidak menarik para manusia rabies, tapi dapat menarik perhatian manusia lain yang selamat. Dia segera mematikannya, para manusia yang datang dapat menarik perhatian manusia rabies, santi tidak mau itu terjadi.

“aku sungguh berterima kasih...” si lelaki yang mengaku bernama Sandi itu mengenakan kemeja lengan panjang yang sudah kotor, bahkan lengan kirinya berlumuran darah, celana hitam yang bayu yakin berharga mahal yang dia kenakan pun terlihat sobek di lutut dan ujungnya. Sepertinya dia berjuang melawan para manusia rabies sampai seperti itu.

“ini... obati lukamu dengan ini,” bayu memberikan sebotol antiseptik dan perban. Sandi tidak berhenti bercerita bagaimana dia terjebak di mobil ketika semua itu terjadi. dia hendak pergi ke kantornya di sudirman, tapi mobilnya terjebak macet di rempoa, saat itulah dia melihat segerombolan orang menyerbu para pengemudi mobil dan motor dari arah pasar jumat. Saat siang dia berlindung dengan beberapa orang lainnya di alfamart. Namun akhirnya dia harus melarikan diri karena orang-orang gila itu dapat memecahkan kaca pintu alfmart. Menurut sandi, orang-orang gila itu memiliki kekuatan yang tidak biasa. Bayu setuju, dia sendiri pernah beradu tenaga dengan mbo iyem.

“apa yang menyebabkan luka di lenganmu?” santi menyelidik.

“oh ini... sepertinya karena aku terjatuh.” Sandi tersenyum. Santi tidak tenang dengan luka itu. Guratan kecemasan nampak di wajahnya, guratan yang bayu tidak lihat sebelum lelaki ini muncul. Setelah sekitar sepuluh menit, sandi tertidur di sofa, gading dan bayu terduduk di sofa di depannya. Santi segera menuju gudang dan kembali dengan tali. Dia mengikat sandi yang sepertinya tertidur sangat pulas, tidak terganggu dengan santi yang sedang mengikat tubuhnya. Sementara itu, bayu dan gading hanya melongo menyaksikannya.

“kalian diam.. jangan berkomentar.” Santi seakan tahu apa yang ada di pikiran mereka berdua. “kalian ingat apa yang terjadi dengan mbo iyem?” keduanya mengangguk. “aku yakin orang ini telah digigit, dan tinggal menunggu waktu dia berubah menjadi seperti manusia rabies itu.” Santi menyelesaikan simpul terakhir di ikatannya, kini si lelaki telah terikat sepenuhnya, tangan dan kakinya tidak akan dapat bergerak bebas. “aku mengikatnya dengan tujuan khusus.”

“tujuan apa?” bayu tak tahan untuk berkomentar. Si lelaki mulai mengerang, dia membuka matanya yang kini telah berubah menjadi kuning. Mulutnya mengeluarkan liur seperti anjing. Dia berontak mencoba melepaskan diri. Ketika dia berhasil duduk, santi menendangnya hingga jatuh ke lantai. Dia menginjak perutnya, membuat sandi makin mengerang. Santi menduduki dadanya, dan menempelkan lakban hitam di mulutnya.

“begini lebih baik” santi menghunus sebuah belati. Bayu dan gading berpandangan ngeri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar